Oleh : H. Abdel Haq, S.Ag, SM-IQ, MA. *)
AGAMA Islam diturunkan Allah Swt kepada Rasulullah Muhammad SAW bukanlah sekedar menuntun dan menuntut umatnya untuk mengesakan, mengagungkan Allah Swt dan beribadah hanya kepada-Nya saja.
Akan tetapi, agama Islam menghendaki lebih dari itu. Bahkan ajaran Islam memfasilitasi umatnya dengan berbagai ilmu pengetahuan, adab, etika, akhlak dan wawasan keislaman lainnya. Allah Swt menghendaki umat Islam menjadi umat terbaik dalam semua lini kehidupannya.
Salah satu perintah Allah Swt dalam menyikapi dan menindaklanjuti pertukaran waktu, hari, minggu, bulan dan tahun. Termasuklah pertukaran tahun Hijriyah 1447 H yang tak terelakkan oleh manusia.
Allah Swt telah mengingatkan umat manusia sejak 15 abad yang silam, agar umat manusia harus selalu waspada, siaga untuk mempersiapkan hari esok yang lebih baik, berkualitas dunia akhirat. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran :
Yaa ayyuhalladziina aamanut taqullaaha wal tanzhur nafsum maa qaddamat lighadin, wattaqullaaha innallaaha khabiirum bimaa ta’maluuna “.
Artinya : ” Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ( akhirat ), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kerjakan “. ( Q.S.59.18 ).
Dalam ayat di atas Allah Swt memanggil orang yang beriman, yang telah percaya kepada Allah, hari akhirat, kepada para malaikat, kepada kitab-kitab, percaya kepada para Nabi Allah dan percaya pula kepada takdir baik dan buruk yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Agar bertakwa kepada Allah dan setiap diri menyiapkan dan merencanakan apa yang disiapkan untuk hari esok.
” Perlu manajemen waktu “
Dalam menyiapkan hari esok yang lebih baik, menurut pandangan Islam diperlukan upaya yang serius, untuk bisa memenej, mengelola waktu dengan lebih baik dan se-efisien mungkin. Sehingga, dengan pelaksanaan manajemen waktu secara efektif, diharapkan mampu menyiapkan hari esok yang lebih baik.
Firman Allah Swt di atas, mengingatkan umat Islam untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Hari esok itu, boleh jadi adalah hari yang akan datang, apakah seminggu, sebulan, setahun atau puluhan tahun yang akan datang.
Termasuklah hari esok yang sebenarnya, yaitu hari akhirat kelak, di mana setiap manusia mau tak mau harus mempertanggungjawabkan amal, perbuatannya. Apabila banyak amal kebaikannya, tentu beratlah timbangan amal ibadahnya; maka mereka mendapatkan kehidupan yang memuaskan, mendapatkan layanan yang super mewah di atas layanan VVIP.
Bagi siapa yang timbangan kebaikannya ringan, sedikit amal shalehnya. Maka tempat kembali mereka adalah neraka hawiyah dan neraka lainnya, sesuai dengan ketentuan Allah Swt.
Berbicara masalah waktu dalam Islam mendapatkan tempat yang prioritas dan terhormat. Semua aktivitas dan ibadah membutuhkan waktu dan kesempatan. Bagi mereka yang menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, mendapatkan hinaan dan dianggap orang yang merugi, tercela dan mendapatkan kehidupan yang sempit dan hidup penuh dengan penyesalan.
Dalam hal ini Rasulullah Muhammad SAW pernah mengingatkan umat Islam dalam sebuah hadisnya :
” Nikmataani maghbuunun fiihimaa katsiirum minannaasi, ash-shihhatu wal faraaghu “.
Artinya : ” Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu olehnya, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang ” ( H.R. Bukhari ).
Secara gamblang Rasulullah Muhammad SAW menegaskan ada dua kenikmatan yang masif dilalaikan oleh manusia, yaitu :
1. Nikmat sehat.
2. Nikmat waktu luang.
1.1. Tatkala badan sehat, pemikiran sehat, perekonomian sehat dan kedudukan sehat dan mapan. Kondisi yang begini, sering disalahgunakan. Sewaktu badan sehat, asyik dengan kehidupan dunia dan melupakan ibadah kepada Allah Swt.
1.2. Tatkala pemikiran sehat dan kuat, diporsir untuk melakukan berbagai aktivitas keduniaan untuk keuntungan pribadi, keluarga dan golongannya. Biasanya, pemikirannya tertuju dan fokus untuk mencari popularitas dan keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa menghiraukan orang lain. Bahkan, dengan power yang dimilikinya, menerabas segala ketentuan, regulasi yang ada. Mereka melupakan orang lain, yang juga butuh pekerjaan dan kesejahteraan buat anggota keluarganya.
1.3. Ketika perekonomiannya sehat dan kuat, mereka menghamburkan harta bendanya untuk keperluan yang tidak mendasar, cenderung kepada hidup mewah dan hedonisme. Bahkan terlihat ugal-ugalan dalam membelanjakan hartanya, yang menjurus kepada tindakan mubazir, yang sangat dibenci oleh manusia dan Allah Swt.
1.4. Sewaktu kedudukan mapan, power sedang ditangan, sering kali mereka melupakan amanah, tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
Sebagai pemimpin, yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. Malah mereka tidak tahu menahu dengan arti sebuah amanah, tanggung jawab dan tugas sebagai seorang pemimpin itu adalah tugas mulia.
Kepemimpinan itu adalah sebuah wewenang untuk melakukan perubahan, perbaikan dan peningkatan kepada yang lebih baik, malah disalahgunakan, untuk kepentingan sejenak dan minta dilayani oleh rakyat.
Padahal, selaku pemimpin dialah yang akan melayani masyarakat dan rakyatnya, memfasilitasi kebutuhan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban- kan kepadanya. Bukan sebaliknya, minta dilayani dan difasilitasi lebih dari ketentuan yang berlaku.
Bahkan, masif ditemukan saat ini, para pemimpin yang tidak berintegritas, tidak bertanggung jawab, jauh dari kejujuran dan keadilan. Mereka melakukan tindakan yang tidak terpuji, serta menyalah gunakan wewenang untuk memperkaya diri. Bahkan, berani menipu rakyatnya, dengan melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme.
2. Menyia-nyiakan kesempatan atau waktu luang untuk perbuatan yang tidak berguna, tidak bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Waktu dan kesempatan yang diberikan Allah Swt, setiap hari tidak dimenej dan tidak dikelola dengan baik. Waktu, kesempatan yang ada dibiarkan begitu saja, tidak dimanfaatkan untuk perbuatan yang positif.
Setidaknya waktu, kesempatan yang lapang setiap hari diisi, dengan berbagai kegiatan yang bernilai manfaat. Setidaknya dimanfaatkan untuk bekerja, beribadah dalam pengertian luas, termasuk waktu untuk bersama keluarga, menuntut ilmu, melakukan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah serta waktu untuk beristirahat yang cukup bagi jasmani dan rohani.
Sehubungan dengan waktu, masa dan kesempatan ini, Rasulullah Muhammad SAW selalu mengingatkan umat Islam.
Dalam sebuah hadisnya sangat rinci, agar umatnya mampu mengelola kesempatan emas. Kesempatan emas itu adalah sekarang, hari inilah masa yang sangat strategis itu. Bukan waktu yang telah berlalu, yang takkan pernah kembali, meskipun dikejar dengan pesawat yang paling canggih sekalipun.
Waktu yang berlalu, bagaikan busur anak panah, apabila telah dilesatkan, busur yang telah dilepaskan takkan pernah kembali lagi.
Amat pantaslah Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan umat Islam dalam sebuah hadis yang sangat rinci.
” Ightanim khamsan qabla khamsin : Hayaataka qabla mautika, wa shihhataka qabla saqamika, wa faraaghaka qabla syughlika, wa syabaabaka qabla haraamika, wa ghinaaka qabla faqrika “.
Artinya : Raihlah lima perkara sebelum datangnya yang lima : 1. Hidupmu sebelum matimu 2. Sehatmu sebelum sakitmu 3. Kesempatanmu sebelum sibukmu 4. Masa mudamu sebelum tuamu dan 5. Kayamu sebelum miskinmu “. ( H.R. Ibnu Abbas )
Betapa hebat dan luar biasanya Rasulullah Muhammad SAW sejak 15 abad mengingatkan kita untuk memenej waktu.
Betapa pentingnya waktu, masa, kesempatan dalam hidup dan kehidupan ini. Sehingga Allah Swt bersumpah dengan waktu atau masa dalam beberapa surah, salah satunya dalam surah Al-‘Ashr :
” Wal’ashri. Innal insaana lafii khusrin, illalladziina aamanuu wa ‘amilush-shaalihaati wa tawaashaubil haqqi wa tawaasshaubish-shabri “.
Artinya : ” Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran “. ( Q.S.103.1-3 ).
Berdasarkan ayat di atas, semakin jelaslah peranan dan fungsi waktu dalam kehidupan manusia, sangat urgen sekali.
Siapa yang tidak mampu mengelola waktu dengan baik dan tidak maksimal, maka merugilah mereka. Apakah kerugian yang menyangkut dengan kehidupan di dunia, maupun kerugian dan penyesalan di akhirat kelak, wa na’uzubillahi min dzaalik!
” Menyiapkan Generasi Berkualitas “
Salah satu program yang mendesak yang harus kita lakukan adalah bagaimana menyiapkan generasi hebat, bermartabat dan berkualitas dunia akhirat. Jangan sampai umat Islam meninggalkan generasi yang lemah.
Yaitu generasi yang lemah pisiknya, lemah mentalnya, lemah kesehatannya, lemah ilmu pengetahuannya, lemah keterampilannya, lemah perekonomiannya, lemah keimanan dan ketakwaannya, lemah jiwa patriotismenya, tidak punya kecintaan dan semangat dalam membela tanah airnya sendiri, tidak punya nyali untuk membela kebenaran, mereka membiarkan kemaksiatan merajalela.
Pokoknya umat Islam, jangan sampai meninggalkan generasi yang serba lemah, yang menjadi beban bagi orang tua, masyarakat dan pemerintah. Dalam hal ini Allah Swt mengingatkan kita umat Islam, jangan sampai meninggalkan generasi, anak keturunan yang serba lemah.
” Wal yakhsyal ladziina law tarakuu min khalfihim dzurriyatan dhi’aafan khaafu ‘alaihim, falyattaqullaaha wal yaquuluu qaulan sadiidaa “.
Artinya : ” Dan hendaklah takut ( kepada Allah ) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap ( kesejahteraan )nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar “. ( Q.S.4.9 ).
Untuk menghilangkan rasa takut, khawatir akan munculnya generasi yang lemah tersebut. Maka Allah Swt menegaskan agar mereka bertakwa kepada Allah. Yang perlu sekali ditanamkan kepada anak keturunan kita adalah mengenal Allah, mencintai-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Oleh sebab itu, pendidikan agama wajib diajarkan kepada anak keturunan kita dari sedini mungkin. Bahkan dari sejak anak lahir, sudah diperkenalkan dan didengarkan kepadanya kalimah tauhid. Bagi bayi laki-laki diazankan dan bagi bayi perempuan diiqamahkan.
Begitulah ajaran Islam menjawab tantangan zaman, yang semakin tidak kondusif dan tidak berpihak untuk mewujudkan anak keturunan, generasi yang berkualitas dunia akhirat. Justeru itulah, Allah Swt menegaskan agar umatnya selalu bertakwa kepada Allah Swt setiap saat.
Bertakwa kepada Allah, bukanlah sekedar takut dari azab-Nya, tetapi takwa adalah merasakan rindu, cinta dan ingin disayangi oleh Allah Swt, mematuhi perintah-Nya dan menjauhi segala bentuk larangan Allah Swt. Takwa juga berarti memiliki kesetiaan yang sejati kepada Allah Swt di mana saja berada.
Selanjutnya Allah Swt memerintahkan kepada kita orang tua, sebagai penanggung jawab, untuk mengucapkan perkataan yang benar-benar saja, yaitu perkataan yang terjauh dari dusta, bohong, perkataan yang menyakitkan, kasar dan ujaran yang mendatangkan kebencian.
Untuk lebih jelasnya, marilah kita telusuri pengertian takwa menurut Ali Bin Abi Thalib sebagai berikut :
Maa huwatat-taqwaa ? Al-khaufu minal jaliili, wal’amalu bittanziili, wasy-syukru bil jaziili, war-ridhaa bilqaliili, wal isti’daadu liyaumil rahiili “.
Artinya : ” Apa itu takwa? Takut kepada Allah Jalla Jalaalihi, beramal menurut Al-Quran, bersyukur atas nikmat yang banyak, ridha dengan yang sedikit dan bersiap-siap untuk hari akhirat “
Berdasarkan ungkapan Ali Bin Thalib, yang merupakan Khulafaa-urraasyiin terakhir, bahwa kriteria takwa itu adalah sebagai berikut :
1. Merasakan takut dengan Allah Swt di mana dan kapan saja, merasakan kehadiran Allah Swt dalam setiap gerak gerik setiap saat.
2. Beramal menurut yang diturunkan Allah, yaitu Al-Quran, melakukan amal ibadah sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya.
3. Bersyukur atas nikmat Allah Swt yang amat banyak, yang tidak terhitung banyaknya.
4. Merasakan ridha dengan yang sedikit, menerima semua yang diberikan Allah Swt, meskipun sedikit itu adalah ketentuan yang wajib diterima dengan perasaan senang, tidak dengan mengumpat dan kesal hati.
5. Dan selalu siaga, waspada dan menyiapkan segala sesuatu untuk kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Jangan pernah lalai dalam menyiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi di yaumil akhir.
Demikianlah taushiyah, pencerahan dalam menyambut kedatangan tahun baru Islam 1448 H. Bagaimana pun, mau tak mau sebentar lagi tahun 1447 H, segera meninggalkan kita, dengan penuh kenangannya. Semoga kita mampu mengambil hikmah, pembelajaran dari pertukaran waktu, masa dan kesempatan ini, kita terjauh dari segala bentuk kerugian dan penyesalan.
Penulis adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakan Kemenag Dharmasraya.*)
