Prospek di Balik Melemahnya Rupiah

Oleh : Prof. Dr. Elfindri, SE, MA *)

Depresiasi rupiah terhadap mata uang Dollar dan valuta asing lainnya memang menyakitkan. Mengingat nilainya semakin menurun, sudah di atas Rp 18.000 per tgl 5 Juni 2026. Jumlah uang yang sama antara tahun yang lalu dengan sekarang semakin banyak ditukarkan dengan barang barang dan jasa jasa.

JLebih sulitnya lagi ketika kita ingin memperoleh mata uang asing, untuk kepentingan transaksi impor barang antara, dan barang jadi, atau ketika kita ingin membayar cicilan hutang pokok plus beban bunga. Keperluan rupiah semaki besar untik memperoleh valuta asing.

Oleh karenanya menyimpan rupiah menjadi tidak menarik dalam ekonomi masa rupiah memburuk, namun sebaliknya mencari mata uang asing sebagai pemasukan akan menarik.

Poyensi hikmah apa yang bisa disiapkan secara khusus dan sabar agar membuahkan nilai pada masa masa sulit sekarang?.

Surpluas Migrasi dan Ekspor

Dua komponen yang perlu diupayakan meningkat pada masa rupiah anjlok bisa diarahkan pada.

Pertama, perluas pasar Wisatawan Asing. Mendorong dan mencari sebanyak mungkin wisatawan asing yang dapat berkunjung ke Indonesia.

Kita paham bahwa wisatawan asing masuk ke Indonesia masih belum apa apanya dibanding dengan wisata yang berkunjung ke Turki atau Malaysia.

Setahun jimlah turis masuk ke Turki sanggup melayani sebanyak 64 juta pengunjung, Indonesia paling banyak 15 juta orang. Indonesia masih jauh kalah dibanding Malaysia yang kecil, karena mereka juga mampu menemukan banyak potensi turis mahasiswa serta keluarganya berkunjung ke negara Jiran ini.

Betapa tumbuhnya permintaan untuk transport, sewa hotel dan restoran dan belanja cendera mata, serta permintaan turunan untuk industri kreative di Turki, yang besarnya bisa empat kali lebih besar dibanding Indonesia.

Kita masih memerlukan upaya yang banyak untuk memperkenalkan Indonesia, tidak saja ditujukan ke Bali, namun banyak daerah lainnya dengan memastikan tersedianya jalur yang mudah, dan murah menju ke daerah daerah wisata utama, disamping menurunkan biaya transpor dalam negeri, baik laut, darat dan udara yang terbilang mahal dan menggila harganya.

Kedua. Pembatasan Perjalanan ke Luar Negeri Berdampak. Demikian sebaliknya sudah saatnya pembatasan perjalanan ke luar negeri tidak dalam wacana saja, mengingat bepergian ke luar negeri memerlukan biaya yang besar apalagi dengan menggunakan dana pemerintah, baik yang dikorupsi maupun yang bukan dikorupsi.

Ketika perjalanan tidak ada hasilnya, maka kita mengorbankan dana yang sebenarnya punya alternative lain yang lebih menguntungkan.

Ketiga. Dorong ekspor Tenaga kerja ke Luar negeri. Dalam kaitan ini sudah saatnya juga semakin banyak anak muda dari berbagai jenis dan status pekerjaan untuk mendapatkan gaji di negara mereka berada.

Permintaan tenaga kerja akan pekerjaan spesifik di luar negeri masih terbuka luas, baik yang status pekerjaan semi skills maupun skills worker, serta pekerjaan pembantu rumah tangga pun masih jauh lebih feasibel di luar negeri dibanding mereka bekerja yang sama di dalam negeri.

Penataan proses persiapan tenaga kerja dan sertifikasi menjadi mendesak dilakukan baiknoleh kementrian tekspor tenaga kerja, maupun oleh pelaku penyaluran tenaga kerja.

Anak anak muda lari ke luar negeri untuk bekerja sebenarnya disikapi positive saja, karena mereka akan real bisa menabung dan mengirimkan remitance ke tanah air.

Keempat. Meraup Ekspor dengan banyak akal dan gigih. Ini cara lain ketika Rupiah melemah tentunya masih berpeluang untuk menemukan pasar baru berbagai komoditas olahan dari Indonesia, termasuk produk manufacturing.

Selain memperbanyak hubungan dagang, sebenarnya tugas atase perdagangan luar negeri mampu mendalami calon calon buyers di luar negeri. Tetapi karena pada umumnya atase Indonesia itu belum pernah berkecimpung di bisnis, keberadaan mereka menjadi terasa hampa untuk memajukan perdagangan internasional.

Upaya untuk membentuk badan khusus ekspor, di bawah Danantara, sebaiknya disertai dengan memantapkan sistem yang menyederhanakan proses ekspor dan impor, termasuk pelayanan di pelabuhan laut, dan udara untuk cargo, logistik dan bongkar muat. []

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas *)

Exit mobile version