Kejujuran yang Dijaga Langit

Oleh : Shintalya Azis*)

Sri dikenal sebagai sosok pekerja keras. Sebagai pimpinan proyek, ia terbiasa menghadapi tekanan target, persoalan lapangan, dan berbagai tuntutan pekerjaan. Namun suatu hari, ia menghadapi ujian yang jauh lebih berat daripada sekadar beban kerja.

Semua bermula ketika Novri, atasannya, memanggilnya ke ruang kerja. Dengan nada seolah biasa, Novri menyampaikan pesan yang ternyata berasal dari atasan tertinggi mereka, Bapak Aloy.

“Sri, ada permintaan dari Pak Aloy,” ujar Novri sambil menatapnya lekat. “Minta para kontraktor menyetor uang rutin bulanan. Anggap saja untuk biaya operasional.”

Sri terdiam.

Ia memahami betul makna di balik istilah biaya operasional itu. Tidak ada aturan resmi, tidak ada dasar hukum, hanya permintaan terselubung yang dibungkus bahasa halus.

Dalam hati, penolakan itu menguat.

“Maaf, Pak,” jawab Sri akhirnya, pelan tetapi tegas. “Saya tidak bisa melakukan itu. Itu bukan hal yang benar.”

Raut wajah Novri berubah. Ruangan terasa mendadak dingin.

“Kamu terlalu kaku, Sri,” katanya. “Di dunia kerja, kita harus bisa bekerja sama.”

Namun bagi Sri, bekerja sama bukan berarti menggadaikan integritas.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Penolakannya berbuntut panjang. Ia dimutasi ke posisi yang jauh dari tanggung jawab sebelumnya. Tak hanya itu, namanya mulai dibicarakan dengan nada miring.

Sri dicap keras kepala, tidak kooperatif, dan sulit diajak bekerja sama. Fitnah menyebar perlahan, seperti asap yang meracuni udara.

Luka Sri semakin dalam ketika suaminya juga menerima perlakuan tidak menyenangkan. Seolah ada harga yang harus dibayar karena memilih bertahan di jalan yang benar.

Malam-malam mereka dipenuhi kegelisahan.
Apakah kejujuran memang semahal ini?
Apakah mempertahankan integritas harus dibalas penderitaan?

Namun di tengah badai itu, Sri dan suaminya memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Mereka berserah kepada Allah, percaya bahwa tidak ada satu pun kebenaran yang luput dari penglihatan-Nya.

“Allah Maha Mengetahui,” ucap Sri suatu malam kepada suaminya. “Jika hari ini kita terlihat kalah, biarlah Allah menunjukkan keadilan-Nya pada waktu terbaik.”

Dari ujian itu, mereka belajar bahwa integritas tidak selalu menghadirkan kenyamanan. Terkadang justru mendatangkan tekanan, kesendirian, bahkan kehilangan.

Namun seperti cahaya kecil di tengah gelap, kejujuran tetap memberi arah agar manusia tidak tersesat. Sebab pada akhirnya, jabatan bisa hilang, nama bisa difitnah, dan kenyamanan bisa direnggut.

Namun hati yang tetap bersih karena menolak korupsi adalah kemenangan yang tak ternilai. Sebab langit tidak pernah lalai menjaga kejujuran.(*)


Integritas bukan tentang siapa yang melihat, tetapi tentang tetap memilih benar meski harus berjalan sendirian. (*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi #biasakanyangbenar #days4 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Exit mobile version