Wali Nagari Antah Barantah

Cerpen: Yunardi Sikumbang

Di Nagari Antah Barantah, musim pemilihan wali nagari selalu datang bersama dua hal: harapan dan bisik-bisik.

Harapan tumbuh di rumah-rumah panggung yang berdiri di tepian sawah.

Bisik-bisik beredar dari warung kopi hingga lapau kecil di sudut pasar.

Tahun itu, harapan dan bisik-bisik bertemu dalam satu ruangan tertutup.

Di sebuah aula sederhana, seorang lelaki tua berdiri di depan puluhan kader partainya. Rambutnya mulai memutih.

Wajahnya menyimpan jejak panjang perjalanan politik.

Empat kali ia maju sebagai calon wali nagari.

Empat kali pula ia kalah.

“Usia saya tidak muda lagi,” katanya pelan, tetapi tegas. “Nagari ini harus kita pimpin.”

Ruangan hening.

Mereka mengenalnya sebagai Ketua Partai Harimau. Partai yang selama bertahun-tahun selalu menjadi penantang kuat, tetapi tidak pernah berhasil mencapai puncak kekuasaan.

Sebagian peserta rapat mencoba menjelaskan kekalahan-kekalahan sebelumnya.

Ada yang menyebut ketidakadilan.

Ada yang berbicara tentang permainan lawan.

Ada pula yang menyalahkan lembaga survei.

Namun lelaki tua itu mengangkat tangannya.

“Cukup,” katanya. “Yang tercatat dalam sejarah bukan alasan kekalahan, melainkan siapa yang menang.”

Kalimat itu menggantung lama di udara.

Hari-hari berikutnya dipenuhi rapat kecil dan pertemuan-pertemuan yang tak tercatat dalam agenda resmi.

Ketua Partai Harimau tampak semakin sibuk.

Ia menjalin hubungan dengan banyak pihak. Ia mendatangi tokoh masyarakat, pemilik usaha, kelompok pemuda, hingga orang-orang yang selama ini berada di lingkar kekuasaan nagari.

“Kita harus belajar dari mereka yang pernah menang,” ujarnya kepada tim inti.

Tak seorang pun benar-benar memahami maksud kalimat itu.

Namun semua mengangguk.

Di Antah Barantah, mengangguk sering kali lebih aman daripada bertanya.

Waktu berjalan cepat.

Spanduk-spanduk mulai bermunculan.

Pertemuan warga semakin ramai.

Janji-janji pembangunan memenuhi ruang-ruang percakapan.

Sementara itu, Ketua Partai Harimau bergerak seperti pemain catur yang sabar.

Sedikit demi sedikit, ia menempatkan bidak-bidaknya.

Ia percaya satu hal.

Dalam politik, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling dicintai rakyat.

Kadang-kadang kemenangan ditentukan oleh siapa yang paling siap.

Atau siapa yang paling mampu mengatur keadaan.

Hari pemungutan suara tiba.

Masyarakat berbondong-bondong datang ke tempat pemilihan.

Sebagian mengenakan pakaian terbaik mereka.

Sebagian lagi datang dengan wajah datar, seolah pemilihan hanyalah rutinitas lima tahunan.

Menjelang malam, hasil sementara mulai beredar.

Angka-angka bergerak cepat dari satu meja ke meja lainnya.

Lalu, menjelang tengah malam, kabar besar itu datang.

Ketua Partai Harimau dinyatakan menang.

Sorak-sorai pecah.

Kembang api menghiasi langit.

Konvoi kendaraan memenuhi jalan nagari hingga dini hari.

Bagi pendukungnya, kemenangan itu adalah buah dari perjuangan panjang.

Bagi lawannya, ada sesuatu yang terasa janggal.

Namun tak ada yang bisa membuktikan apa pun.

Setidaknya saat itu.

Beberapa bulan pertama pemerintahan berjalan tenang.

Program-program baru diumumkan.

Pidato-pidato optimistis disampaikan.

Foto-foto wali nagari baru terpampang di berbagai sudut kantor pemerintahan.

Akan tetapi, ketenangan sering kali hanya permukaan air.

Di dasar yang tak terlihat, arus terus bergerak.

Sedikit demi sedikit, berbagai cerita mulai muncul.

Ada dokumen yang dipertanyakan.

Ada keputusan yang dianggap tidak wajar.

Ada pula orang-orang yang tiba-tiba berbicara setelah sebelumnya memilih diam.

Cerita-cerita itu menyebar dari mulut ke mulut.

Dari lapau ke lapau.

Dari telepon genggam ke telepon genggam.

Seperti asap tipis yang perlahan memenuhi ruangan.

Setahun setelah pelantikan, Antah Barantah berubah.

Ribuan warga turun ke jalan.

Mereka membawa poster, spanduk, dan tuntutan.

Suara yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik menjelma menjadi teriakan.

“Ungkap kebenaran!”

“Selamatkan nagari!”

Lapangan pusat nagari dipenuhi lautan manusia.

Di antara kerumunan itu berdiri para petani, pedagang, guru, mahasiswa, dan para orang tua.

Mereka tidak lagi berbicara tentang siapa yang menang atau kalah.

Mereka berbicara tentang kepercayaan.

Tentang amanah.

Tentang harga sebuah kejujuran.

Di balkon kantor wali nagari, lelaki tua itu berdiri memandang lautan manusia.

Untuk pertama kalinya sejak kemenangan besar yang dirayakannya setahun lalu, ia terlihat lelah.

Sangat lelah.

Ia teringat malam rapat tertutup yang pernah berlangsung di aula kecil itu.

Malam ketika semua tampak mungkin.

Malam ketika kemenangan terasa lebih penting daripada cara mencapainya.

Angin sore berembus pelan.

Di kejauhan, azan magrib mulai berkumandang.

Sementara di bawah sana, massa terus bersuara.

Sebab sejarah, pada akhirnya, selalu menemukan jalannya sendiri.

Dan kebenaran, betapapun lama disimpan, memiliki kebiasaan untuk kembali muncul ke permukaan. []

Sekilas Tentang Penulis

Yunardi Sikumbang, lahir di Parak Jigarang, Kelurahan Anduring, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, 13 Juli 1964. Alumni IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang) ini telah mengabdikan diri di dunia pendidikan, mengajar di sejumlah SMP di Sumatera Barat, dan purna tugas sebagai Pengawas SMP Disdik Kota Padang pada awal 2025.

Selain menjadi pendidik, ia aktif menulis cerpen, artikel, serta kritik sastra di berbagai media: Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, dan Mingguan Canang. Saat ini tetap produktif menulis di media online fokusumbar.com.*)

Exit mobile version