“Halaman Baru”

Oleh: Nurul Jannah*)

Jika hidup adalah sebuah buku, sedang berada di halaman berapa kita hari ini?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.

Namun tidak seorang pun mampu menjawabnya.

Kita tahu kapan buku kehidupan ini dibuka. Tetapi tidak pernah tahu kapan halaman terakhir akan dituliskan.

Setiap hari adalah satu lembar cerita.

Setiap bulan adalah satu bab perjalanan.

Dan setiap tahun adalah satu jilid yang perlahan membawa kita semakin dekat kepada tujuan akhir.

Tidak ada nomor halaman terakhir. Tidak juga ada pemberitahuan kapan kisah ini selesai.

Oleh karena itu, setiap datang 1 Muharam selalu menghadirkan getaran yang berbeda.

Bukan semata pergantian angka dalam kalender, melainkan pengingat bahwa Allah masih berkenan memberikan satu lembar kosong untuk kembali kita isi.

Di antara kita, ada yang menyambut tahun baru dengan penuh harapan.

Ada yang memasukinya dengan hati yang dipenuhi syukur. Ada yang masih menyimpan luka. Ada yang sedang belajar menerima kehilangan. Ada yang berusaha bangkit dari kegagalan.

Dan ada pula yang diam-diam sedang berjuang menghadapi dirinya sendiri.

Namun apa pun keadaan kita hari ini, ada satu nikmat yang sering luput disadari, yaitu nikmat kesempatan.

Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan melanjutkan cerita.

Tidak semua orang memperoleh anugerah itu.

Ada yang tahun lalu masih bercanda bersama kita. Masih mengirim pesan. Masih duduk di ruang yang sama. Masih ikut tertawa dalam percakapan sederhana.

Namun hari ini, nama mereka hanya tinggal dalam kenangan dan doa.

Mereka telah menuntaskan bukunya.

Sementara kita masih diberi kesempatan menulis.

Dan itu adalah karunia yang luar biasa.

Sering kali kita sibuk menghitung apa yang belum dimiliki.

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang sudah dilakukan dengan waktu yang Allah titipkan?”

Sebab pada akhirnya, hidup tidak diukur dari panjangnya usia.

Melainkan dari jejak yang ditinggalkan.

Ada yang hidup sangat lama, tetapi nyaris tidak meninggalkan bekas.

Ada yang hidup tidak terlalu panjang, tetapi namanya terus hidup dalam doa dan kebaikan.


Suatu hari, ada seorang anak bertanya kepada ayahnya.

“Ayah, kenapa kita harus berganti tahun?”

Ayahnya tersenyum.

“Karena Allah ingin mengingatkan bahwa waktu tidak pernah berhenti berjalan.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Ayah itu memandang langit sejenak.

“Menjadi lebih baik daripada kemarin.”

Anak itu kembali bertanya.

“Kalau belum berhasil?”

Ayahnya tersenyum lebih lebar.

“Maka besok dicoba lagi.”

Sesederhana itu.

Karena hidup bukan tentang menjadi sempurna. Hidup adalah tentang kesediaan untuk terus memperbaiki diri.

Tahun baru tentu saja bukan tentang pesta. Bukan pula tentang gegap gempita.

Tahun baru adalah keberanian untuk bercermin. Mengakui kesalahan yang pernah dibuat. Memaafkan luka yang masih tersimpan. Melepaskan beban yang tidak perlu dibawa terlalu jauh.

Dan belajar menerima takdir Allah dengan hati yang lebih lapang.

Bisa jadi masih ada doa yang belum terkabul, harapan yang belum menjadi kenyataan atau bahkan rencana yang berakhir berbeda.

Namun bukankah selama ini Allah selalu memberi yang kita butuhkan, meskipun tidak selalu yang kita inginkan?

Sering kali kita baru memahami hikmahnya bertahun-tahun kemudian.

Saat itu kita menyadari bahwa yang dahulu dianggap kehilangan, ternyata adalah penjagaan.

Yang dahulu dianggap kegagalan, ternyata adalah petunjuk menuju jalan yang lebih baik.


Maka ketika 1 Muharam mengetuk pintu hati, jangan hanya bertanya:

“Apa yang akan aku dapatkan tahun ini?”

Tetapi bertanyalah:

“Kebaikan apa yang akan aku tinggalkan tahun ini?”

Karena yang membuat hidup bernilai bukan apa yang berhasil dikumpulkan. Melainkan apa yang berhasil diberikan.

Bukan apa yang disimpan. Melainkan apa yang dimanfaatkan untuk sesama.

Bukan berapa lama kita hidup. Melainkan berapa banyak cinta, ilmu, doa, dan manfaat yang sempat diwariskan.


Hari ini sebuah halaman baru, kembali dibuka.

Masih putih. Masih bersih. Masih menunggu ditulisi.

Tidak ada yang tahu berapa lembar lagi yang tersisa setelah ini.

Namun selama pena kehidupan masih Allah titipkan di tangan kita, jangan biarkan satu halaman pun berlalu tanpa makna.

Tulislah dengan penuh rasa syukur dan ikhlas.

Juga, tulislah dengan seluruh kebaikan dan sepenuh cinta yang ada.

Karena suatu hari nanti buku itu akan ditutup.

Dan ketika saat itu tiba, semoga kita dapat menyerahkannya kepada Allah dengan hati yang lebih tenang.

“Ya Allah, buku ini memang jauh dari sempurna. Tetapi hamba telah berusaha mengisinya dengan sebaik-baiknya.”

Sebab pada akhirnya, tahun baru bukan hanya tentang bertambahnya waktu.

Tahun baru adalah tentang kesempatan yang masih Allah berikan untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat sebelum halaman terakhir benar-benar selesai dituliskan.❣️

Bogor, 16 Juni 2026

Exit mobile version