Jejak Integritas

Oleh : Shintalya Azis*)

MASA pensiun biasanya datang dengan sederhana. Ada perpisahan, ucapan terima kasih, foto bersama, lalu hari-hari baru dimulai. Begitu pula yang dialami Ibu Ayu, mantan petinggi di sebuah perusahaan. Semua berjalan biasa, tanpa seremoni berlebihan.

Namun ada satu momen yang membuat perjalanan pengabdiannya terasa begitu istimewa. Beberapa kontraktor yang selama bertahun-tahun bekerja bersama timnya datang melalui koordinator mereka, Bapak Alex.

Sari, mantan staf yang pernah mendampingi Bu Ayu, juga turut hadir di sana menemani Bapak Alex.

Tak ada acara perpisahan mewah. Tak ada amplop. Tak pula hadiah mahal sebagai tanda perpisahan.

Yang hadir justru sebuah kalimat sederhana, namun begitu membekas.

“Terima kasih banyak, Bu. Di bawah pimpinan Ibu, kami tenang bekerja dan tidak ada keributan.”

Kalimat itu terdengar singkat, tetapi maknanya dalam.

Selama ini, banyak orang mengenang pemimpin karena kekuasaan, jabatan, atau pencapaiannya. Namun Bu Ayu meninggalkan jejak yang berbeda: rasa hormat yang lahir dari kejujuran dan ketenangan yang ia ciptakan.

Tak pernah ada permintaan tersembunyi. Tak ada tekanan. Tak ada permainan yang membuat orang bekerja dengan rasa takut.

Bagi Sari, momen itu menjadi pelajaran berharga. Ia sadar bahwa warisan terbaik seorang pemimpin bukanlah fasilitas atau pujian, melainkan integritas yang dikenang bahkan setelah masa jabatan berakhir.

Di dalam hatinya, Sari berjanji pada dirinya sendiri: suatu hari nanti, ia ingin meninggalkan jejak yang sama, tidak mengecewakan mentor yang telah memberinya teladan.

Karena ternyata, kejujuran selalu meninggalkan jejak. Dan jejak itu hidup lebih lama daripada jabatan.(*)

#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day7 IG: @aclc.kpk

Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)

Exit mobile version