Essay : Nurul Jannah*)
Ada perjalanan yang tidak dimulai dari langkah, tetapi dari getaran di dalam dada, getaran halus yang berkata bahwa seseorang harus melakukan sesuatu. Meski kecil, meski sederhana, meski tidak banyak disadari dunia.
Perjalanan itulah yang melahirkan Kesatria Senja, lima jiwa muda yang memutuskan untuk tidak hanya melihat luka anak-anak jalanan, tetapi menyentuhnya dengan cinta dan keberanian.
Ketika Langit Senja Menjadi Saksi
Ada saat ketika senja tidak lagi sekadar penanda hari yang meredup, melainkan ruang sunyi tempat hati-hati kecil akhirnya menemukan alasan untuk pulang.
Di sebuah sudut Cibinong, berdiri sebuah rumah kecil bernama Sanggar Senja,
tempat di mana deru kendaraan bertemu dengan langkah kaki anak-anak jalanan yang membawa cerita-cerita yang terlalu berat untuk usia mereka.
Di sana, tawa tidak selalu murni bahagia, dan air mata tidak selalu berarti duka. Segalanya bercampur seperti langit jingga, antara terang dan gelap, antara trauma dan harapan, antara kehilangan dan kemungkinan baru.
Namun di antara semua itu, muncul lima mahasiswa IPB; Nabiel Taufiqurrohman, Kirana Putri Maya, Dinar Lukmanudin, Rafika Chairani, dan Adinda Octhavia Indriyani; lima jiwa muda yang memilih peduli ketika dunia terlalu sibuk untuk menoleh.
Mereka datang bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai teman seperjalanan, yang mau duduk sejajar, mendengar tanpa menghakimi, dan membagi cahaya yang mereka punya kepada anak-anak yang pernah gelap sendirian.
Di Sanggar Senja, cinta bekerja tanpa suara.
Apa yang Mereka Lakukan?
Program Kesatria Senja adalah ikhtiar untuk membangun self-esteem, keberanian, dan resiliensi sosial anak-anak jalanan. Bukan sekadar mengajar membaca, berhitung, atau menggambar, tetapi mengajari mereka untuk mengenali diri, memeluk luka, dan mempercayai masa depan yang lebih baik.
“Kak, kalau aku gagal, boleh nyoba lagi kan?” tanya seorang anak pada hari pertama pertemuan.
Dan Rafika menjawab sambil tersenyum lembut: “Boleh. Kita semua boleh mencoba lagi. Bahkan orang dewasa.”
Kalimat sederhana itu menjadi pintu pembuka perubahan.
Di situlah semua dimulai.
Siapa Para Kesatria Itu?
Lima mahasiswa itu bukan tim biasa. Mereka datang dari latar berbeda, kemampuan berbeda, bahkan kepribadian yang tidak selalu mudah disatukan. Namun, cinta yang sama terhadap kemanusiaan membuat mereka melebur menjadi satu tim.
Sebagai pendengar terbaik, selalu tahu kapan harus diam.
Sebagai pembawa tawa, meraih hati anak-anak dalam hitungan menit.
Sebagai penenang badai, hadir ketika ada yang menangis tanpa suara.
Sebagai pemikir, menyiapkan modul agar setiap pertemuan berarti.
Sebagai penjaga semangat, berkata, “Kita lanjut, ya. Adik-adik ini butuh kita.”
Merekalah Kesatria Senja, bukan karena mereka kuat, tetapi karena mereka memilih tetap berdiri meski hari-hari pendampingan sering kali menguras jiwa.
Di Mana Cerita Ini Bermula?
Di Sanggar Senja, ruangan kecil berlantai semen, kursi-kursi plastik seadanya, dinding yang dipenuhi coretan doa dan gambar matahari.
Tempat sederhana itu menjadi rumah kepercayaan. Rumah di mana anak-anak jalanan bisa merasa aman untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Rumah di mana lima mahasiswa itu belajar bahwa perubahan besar kadang lahir dari ruangan yang sangat kecil.
Kapan Semua Ini Berawal?
Semua dimulai ketika satu pertanyaan sederhana muncul dalam diskusi kecil di kampus.
“Bolehkah kita mencoba mengubah hidup seseorang, meski hanya satu anak?”
Pertanyaan itu berkembang menjadi program. Program berkembang menjadi perjalanan. Dan perjalanan berubah menjadi cinta yang tidak lagi bisa ditinggalkan.
Mengapa Mereka Melakukan Ini?
Karena mereka tahu sesuatu yang sering dunia lupakan. Anak-anak jalanan bukan menunggu belas kasihan. Mereka menunggu diakui. Ditanya. Didengar. Disapa. Ditemani.
“Kak, aku bisa jadi apa?” tanya seorang anak suatu sore.
Nabiel mendekat, menatap mata kecil yang pernah menahan terlalu banyak.
“Kamu bisa jadi apa pun. Yang penting kamu percaya dulu sama dirimu.”
Di situlah mereka sadar: Membangun self-esteem bukan teori. Ia adalah sentuhan manusia ke manusia lain.
Bagaimana Mereka Membangun Harapan?
Tidak dengan ceramah. Tidak dengan modul kaku. Tidak dengan metode rumit.
Mereka membangun harapan dengan tiga hal inti.
1) Cinta yang Tidak Menggurui
Cinta yang tidak menjadikan diri mereka pahlawan, tetapi sahabat yang mau berjalan bersama.
2) Ruang yang Aman
Sanggar Senja menjadi tempat anak-anak boleh salah, boleh takut, boleh marah, dan boleh mencoba lagi.
3) Harapan yang Disusun Pelan-Pelan
Melalui aktivitas kecil. Menggambar “masa depan”, bercerita tentang tokoh impian, permainan yang menumbuhkan rasa percaya diri, dan perayaan kecil untuk setiap kemajuan, meski sangat kecil.
Dari hal-hal kecil itulah harga diri lahir kembali.
Ketika Harga Diri Itu Tumbuh Lagi
Di Sanggar Senja, semua orang belajar tentang arti “cukup”.
Cukup hangat untuk dipercaya. Cukup sabar untuk mendengar. Cukup berani untuk memulai lagi.
Anak-anak itu tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya ingin tahu bahwa mereka layak dicintai.
Dan lima mahasiswa itu, tanpa mereka sadari, telah menjadi cermin kecil tempat anak-anak itu melihat kembali harga diri yang dulu sempat runtuh oleh keadaan.
Ketika Senja Tidak Lagi Mengingat Luka
Pada akhirnya, hanya ada satu pelajaran paling penting. Bahwa manusia, sekecil apa pun kisahnya, berhak merasa berharga. Dan ketika seseorang merasa berharga, ia mulai berani menciptakan masa depannya sendiri.
Kesatria Senja telah menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu datang dari gedung besar atau dana besar, tetapi dari hati kecil yang berani peduli, yang mau hadir, yang mau mendengar, yang mau berjalan bersama.
Mereka adalah bukti bahwa cinta, meski sederhana, selalu cukup untuk memulai sesuatu yang besar.🌹❤🔥🌷
Bogor, 29 November 2025
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
