Kemenangan Luhut dan Minimnya Figur Calon Ketua Umum PB PASI

Oleh: Hendri Parjiga*)

LUHUT Binsar Pandjaitan kembali terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) periode 2025-2029. Ini merupakan periode kedua Luhut memimpin federasi atletik tanah air itu.

Menariknya, dalam kedua periode kepengurusannya itu, Luhut terpilih secara aklamasi alias tidak ada lawan.

Periode pertamanya (2021-2025), dalam kongres yang berlangsung Januari 2021, Luhut melenggang sendirian sebagai calon ketua umum menggantikan ketua umum sebelumnya Muhammad (Bob) Hasan yang meninggal dunia pada Maret 2020.

Lalu, periode keduanya (2025-2029), Luhut kembali terpilih melawan kotak kosong alias tidak ada lawan, dalam Kongres PB PASI yang dihelat di Solo, Jawa Tengah. 30 Agustus 2025.

Sebelumnya, sempat digadang-gadang Ketua DPR RI Puan Maharani akan meramaikan bursa kandidat Ketua Umum PB PASI yang menyaingi Luhut. Namun entah kenapa, seiring perjalanan waktu, nama putri kesayangan Megawati Soekarnoputri itu seakan hilang ditelan bumi.

Minus Figur?

Penulis melihat, ada yang unik dan menarik dari setiap suksesi Ketua Umum PB PASI ini. Yang penuils garisbawahi adalah, minimnya figur Ketua Umum yang ingin mengurus induk organisasi ini.

Jika kita tengok sejarah, Ketua Umum PB PASI sebelum Luhut, Muhammad (Bob) Hasan juga tidak punya saingan untuk menjadi orang nomor satu di federasi atletik nasional itu.

Bahkan, Bob Hasan telah menjadi Ketua Umum PB PASI sejak masa pemerintahan Soeharto, saat itu dirinya masih berusia 47 tahun. Itu berarti ia sudah mendedikasikan dirinya sebagai Ketum PB PASI selama 42 tahun.

Hal ini tidak terlepas dari dedikasi dan loyalitas Bob terhadap PASI. Selama menjadi pemimpin PB PASI, dia dikenal seringkali mengeluarkan dana pribadinya untuk keperluan federasi atau atlet yang minim perhatian dari pemerintah. 

Bahkan setiap tahunnya, pengusaha ini sampai mengeluarkan dana pribadinya miliaran rupiah untuk membiayai PB PASI.

Biaya tersebut digunakan untuk melakukan scouting atau pencarian bakat ke seluruh Indonesia, sampai ke pelosok negeri. Talenta-talenta berbakat ini diberi pelatihan, biaya akomodasi, dan biaya hidup untuk pelatihan khusus di Jakarta. Hingga akhirnya menemukan Muhammad Zohri yang sukses bikin bangga Indonesia di kancah atletik dunia.

Kembali ke era Luhut. Tidak mudah menjadi figur kepala atau pemimpin untuk cabang olahraga atletik. Masalahnya cukup banyak dan kompleks. Tidak semua orang paham dengan dunia atletik.

Kompleksitas dan tantangan besar di balik pengelolaan atletik nasional membuat banyak tokoh akhirnya mundur sebelum benar-benar terjun.

Atletik adalah cabang olahraga yang sangat luas. Nomornya banyak sekali, setiap nomor punya pelatih masing-masing, harus ada psikolog, dan sebagainya. Banyak yang kaget melihat kebutuhan dananya juga besar.

Kita menilai hanya Luhut yang saat ini punya kapasitas dan keberanian untuk menjalankan organisasi sebesar PB PASI. []

Penulis adalah Wartawan Utama, Pemimpin Redaksi FokusSumbar.Com dan Pengurus Provinsi PASI Sumbar.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *