RUMAH itu dulu berdiri tenang di bibir Batang Anai. Sebuah rumah sederhana, tempat seorang anak muda bernama Andika Mandala Darma menaruh mimpi yang lahir dari disiplin, keringat, dan keyakinan bahwa olahraga dapat membuka jalan hidup.
Namun kini, rumah itu telah hilang tanpa sisa, tersapu banjir besar yang mengamuk di Jorong Kampuang Tangah, Nagari Kataping, Batang Anai, Padang Pariaman.
Derasnya air Batang Talao Mundam yang meluap akibat hujan ekstrem selama hampir sepekan mengikis tanah sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, pada Kamis (27/11/2025), warna air berubah coklat pekat, membawa serta apa pun yang dilewatinya.
Sekitar 20 meter tanah di tepi sungai lenyap seketika, disusul rumah-rumah warga yang berdiri tak berdaya. Esoknya, Jumat (28/11/2025), amukan air semakin membesar, melumat 10 rumah lainnya, termasuk rumah keluarga Andika. Total sekitar 20 rumah hilang dibawa arus.
Di antara serpihan haru itu, Andika bahkan tidak berada di rumah. Atlet Muaythai Sumbar, peraih medali perunggu PON Aceh-Sumut 2024 itu sedang berjuang mengikuti seleksi terakhir penerimaan Calon Tamtama Angkatan Darat di Padang Panjang. Ia fokus mengejar masa depan, sementara rumah tempat ia tumbuh dan belajar menjadi kuat justru hanyut dalam sekejap.
Ayah Andika, yang menyambut rombongan KONI Sumbar, tidak menangis. Tapi ada getar pelan dalam suaranya. “Tidak ada yang tersisa, Pak, tapi untung kami semua selamat,” katanya lirih. Hanya itu yang ia ulang-ulang, seakan sedang menghibur dirinya sendiri.
Di sampingnya, Adi Mulya, pelatih Muaythai Sumbar, beberapa kali menarik napas panjang, berusaha tegar. “Andika itu anak baik. Kerja keras. Rumah hilang, tapi saya yakin mentalnya tetap kuat,” ujarnya.
Andika adalah anak kedua dari lima bersaudara. Adiknya, Daniel, juga menekuni olahraga yang sama, Muaythai. Prestasinya baru sebatas tingkat wilayah, tapi semangatnya tak kalah besar. Kini, Daniel dan keluarganya kehilangan ruang belajar, tempat istirahat, dapur, bahkan pakaian. Semua hanyut bersama derasnya Batang Anai.
Rumah mereka memang berada tepat di bibir sungai. Tahun-tahun sebelumnya, aliran air kadang naik, tapi tidak pernah separah ini. Tahun ini, hujan ekstrem yang menimpa sebagian besar Sumatera Barat sejak akhir November telah menelan banyak kerugian material dan korban jiwa di wilayah lain. Batang Anai pun tak kuasa menahan volume air yang datang bertubi-tubi.
Untungnya, warga sudah siaga. Mereka mengosongkan rumah lebih awal. Tidak ada korban jiwa. Tetapi kehilangan rumah bukan sekadar kehilangan bangunan, itu kehilangan sejarah, kehilangan tempat berteduh, kehilangan rasa aman.
Saat rombongan KONI Sumbar yang dipimpin Ketua Umum Hamdanus tiba di lokasi, tidak ada sambutan meriah. Yang ada hanya tatapan letih warga yang masih berusaha menerima kenyataan.
Rombongan turut terdiri dari Waketum II Binpres Septri, Plh Sekum KONI yang juga Ketua Muaythai Sumbar Zaimul Bahri, Kabid Humas Hendri Parjiga, Kabid Hubungan Lembaga BM Satria Dwi Putra, Anggota Bidang Sapras Oktavirman, serta jajaran pengurus lainnya.
Mereka datang membawa kepedulian dan bantuan spontan. Tapi warga tak hanya butuh itu. Mereka butuh uluran tangan konkret untuk memulai hidup dari nol.
“Sekarang yang paling dibutuhkan bukan hanya sembako,” ujar Syamsul Bahri, seorang warga yang rumahnya juga hanyut. “Kami butuh pakaian, kasur, piring, kompor… apa saja yang bisa kami pakai untuk bertahan beberapa hari ke depan. Dan kalau bisa, bahan bangunan untuk mulai membangun kembali.”
Hamdanus dan rombongan mendengarkan dengan saksama. Dia menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa atlet binaannya tersebut.
“Melihat langsung kondisi rumah atlet kita yang hilang tanpa sisa tentu meninggalkan duka mendalam. Andika bukan hanya aset daerah, tetapi juga anak bangsa yang sedang berjuang membangun masa depannya,” kata Hamdanus sabak.
“Kehilangan rumah dan seluruh isinya bukan perkara kecil. Karena itu kami hadir untuk memastikan ia dan keluarga tidak menghadapi musibah ini sendirian. KONI Sumbar akan terus berupaya memberikan dukungan moral maupun bantuan yang bisa meringankan beban mereka,” sambung Hamdanus.
Air mata warga mungkin tak tumpah, tapi suaranya cukup untuk menggambarkan luka yang menganga.
Andika, yang hari itu masih berada di Padang Panjang mengikuti seleksi, mengetahui kabar runtuhnya rumah beberapa saat setelah kejadian. Ia termenung lama. Tak banyak kata keluar darinya, hanya satu kalimat pendek kepada pelatihnya:
“Tak apa rumah hilang, Coach. Yang penting keluarga selamat.”
Kalimat yang sederhana, tapi lahir dari hati yang besar. Mungkin dari situlah kekuatan seorang atlet terbentuk. Menerima pukulan paling keras dari hidup, lalu tetap berdiri.
Di balik puing-puing yang terbawa banjir, tersimpan harapan agar lebih banyak tangan terulur. Bukan hanya untuk keluarga Andika, tapi juga untuk puluhan keluarga lain yang kini tidak punya tempat untuk kembali.
Karena ketika bencana mengambil tempat tinggal seseorang, yang mereka butuhkan bukan hanya bantuan materi, tetapi keyakinan bahwa mereka tidak sendirian.
Dan di sinilah peran kita semua, untuk membuat mereka percaya bahwa harapan masih ada, meski rumah mereka telah hanyut. (hendri parjiga)




