Kisah Iwan Samurai Saat Mimpinya Dibuyarkan Banjir: Surprise ke Ibu yang Tak Sampai

Iwan Samurai (4 dari kiri), Ketua KONI Sumbar (tiga dari kiri) beserta jajaran berfoto di pekarangan rumah yang penuh lumpur. (Foto Riko Onki Putra/ KONI Sumbar)

HUJAN yang tak kunjung berhenti sejak sepekan terakhir di Sumatera Barat bukan hanya menumpahkan air ke jalan-jalan kota, tetapi juga menumpahkan duka ke hati banyak orang.

Banjir, longsor, dan banjir bandang seperti berebut turun menghantam rumah-rumah warga. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan tempat tinggal, ada pula yang kehilangan seseorang yang tak akan pernah kembali.

Di antara bejibun kisah kehilangan itu, ada satu kisah yang diam-diam membuat dada terasa sesak. Kisah seorang atlet yang selama ini dikenal kuat, disiplin, dan teguh di atas panggung. Iwan Samurai, binaragawan kebanggaan Sumatera Barat yang lahir dari kerja keras dan keteguhan hati.

Sekitar tahun 2015, saat kariernya mulai menanjak, Iwan membeli sebuah rumah di Komplek Lumin Park, Lubuk Minturun. Lokasinya sejuk, tenang, jauh dari riuh kendaraan. Sama seperti Iwan, tenang di luar, menyimpan energi besar di dalam.

Langganan peraih medali emas pada tiga edisi PON terakhir itu memang belum menempatinya bersama istri dan tiga anaknya. Rumah itu masih ia jadikan tempat melepas lelah setelah latihan subuh, sebuah rutinitas yang ia jalani bertahun-tahun. Bangun sebelum matahari naik, shalat, latihan hingga pukul 10.00, lalu kembali mengangkat beban pukul 16.00.

Rumah itu bagi atlet yang memiliki nama lahir Muswar Iwan, bukan sekadar bangunan. Itu adalah ruang antara mimpi dan kenyataan. Satu per satu furnitur ia pilih dari bonus hasil juara, seperti merajut masa depan dengan tangannya sendiri.

Dan ada satu mimpi yang ia simpan rapat-rapat. Suatu hari ia ingin menjemput ibunya, Hj. Ermawati, dari Duri, Riau, lalu membawa beliau tinggal bersama anak dan istrinya di rumah itu. Kejutan kecil seorang anak yang tak pernah meminta banyak selain restu orang tua.

“Hampir semua furnitur sudah lengkap. Tinggal satu meja lagi, itu pun sudah saya pesan,” ucap Iwan suatu hari. Matanya berbinar, seolah masa depannya sudah ia lihat di depan pintu.

Jika bukan Sabtu, Minggu ini, atlet yang sempat mengadu nasib di negeri Sakura, Jepang, yang kemudian mengilhaminya memakai “Samurai” di belakang namanya itu, berencana menjemput sang ibu.

Tapi Tuhan kadang menulis ulang skenario manusia tanpa permisi.

Kamis (27/11/2025), hujan turun lebih deras dari biasanya. Langit seperti memikul kesedihan yang berat. Dalam hitungan jam, Lumin Park berubah menjadi lautan lumpur. Banjir bandang menerjang tanpa ampun.

Rumah-rumah terbuka paksa oleh arus. Mobil-mobil terangkat dan hanyut. Beberapa di antaranya belum diketahui dimana keberadaannya. Beruntung, mobil Iwan sedang di bengkel beberapa hari sebelumnya.

Namun rumah yang ia bangun dan rawat selama sepuluh tahun itu jadi tak karuan. Lumpur, air, dan material banjir masuk hingga ke ruang tamu, kamar, dapur. Kamar yang ia siapkan untuk ibunya berantakan. Meja yang baru ia pesan belum sempat datang.

Seharusnya minggu ini, atlet kelahiran 18 Agustus itu menjemput ibu.

Yang terjadi justru sebaliknya. Iwan harus menenangkan sang ibu lewat video call, mencoba tersenyum meski matanya sembab oleh lelah dan syok.

“Ibu sedih, tapi tetap tegar. Beliau malah menguatkan saya,” kata Iwan saat Ketua KONI Sumbar Hamdanus beserta jajaran mengunjunginya, Jumat (28/11/2025) petang.

Di tengah rumah yang masih penuh lumpur, Hamdanus menatap Iwan dengan empati yang dalam.

“Iwan itu pejuang. Di PON dia menunjukkan kekuatan fisik, tapi hari ini ia menunjukkan kekuatan hati. KONI Sumbar akan berdiri bersama para atlet yang terdampak. Ini bukan sekadar kehilangan barang, ini kehilangan mimpi yang sedang ia bangun. Kami ada untuk membantu Iwan bangkit kembali,” kata Hamdanus.

Namun seperti namanya, Samurai, Iwan tetap berdiri. Luka itu dalam, tapi tidak mematahkan dirinya. Rumah bisa dibersihkan. Perabot bisa diganti. Tapi semangat? Itu tidak akan pernah tenggelam.

Karena Iwan Samurai bukan hanya atlet. Ia adalah anak yang mencintai ibunya, suami yang memikul tanggung jawab, dan pejuang yang selalu bangkit meski tanah di bawahnya terkoyak banjir bandang.

Dan ketika air surut, tinggal satu yang tidak hanyut. Yaitu keinginannya untuk tetap membuat ibunya bangga. (hendri parjiga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *