Oleh : Refdinal Castera*)
Siklon tropis senyar penyebab adanya dinamika atmosfer yang kompleks, pemicu terjadi bencana banjir, longsor, angin puting beliung di Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah berlalu.
Untuk wilayah Sumatera, Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh merupakan daerah yang sangat merasakan dampak dari kebencanaan tersebut.
Terjadi bencana hidrometeorologi dan hujan ekstrem, disertai badai hampir menyeluruh di daerah kota dan kabupaten di Sumatera Barat. Termasuk juga bencana seperti itu, terjadi di Provinsi Sumatera Utara, dan Aceh.
Banjir di daerah yang letaknya kerendahan, melanda pemukiman penduduk, air sungai meluap, badan jalan putus, jembatan roboh, dan longsor di daerah perbukitan. Semua bencana itu, ada kaitannya dengan hutan penjaga kestabilan iklim dan sebagai sumber daya alam hayati.
Hutan disebut sebagai paru-paru dunia, karena fungsinya dalam menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida melalui proses fotosintesis. Berkurang jumlah atau hilangnya hutan di permukaan bumi, menyebabkan dunia kehilangan paru-paru. Sama halnya seperti manusia tidak mempunyai paru-paru, jadi tidak bisa bernapas atau tidak hidup.
Menurut SK Menteri LHK tahun 2023, lereng hutan seluas 30, 4 juta hektare terdapat di Pulau Sumatera. Isinya terdiri dari hutan pohon raksasa: kayu maghoni, meranti, jati dan kruing.
Terjadi longsor dan banjir di berbagai daerah, banyak kayu gelondongan yang hanyut terbawa air, pertanda keadaan hutan saat ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Hutan yang berfungsi sebagai penjaga konservasi tanah sedang mengalami masalah.
Ketika hutan dirusak atau ditebang semena-mena oleh manusia, maka terganggulah ekosistem darat yang berdampak terhadap berbagai sektor kehidupan yang ada. Membuat aktivitas kehidupan perekonomian menjadi lumpuh, manusia tidak bisa berbuat apa-apa.
Transportasi antar berbagai daerah terhalang, karena banjir, longsor, badan jalan terban, dan jembatan putus. Tentunya seperti yang dialami berbagai daerah di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh saat ini.
Terjadi hujan ekstrem dengan intensitas tinggi, menyebabkan bencana, juga diperparah dengan kondisi geospasial seperti kerusakan ekosistem, menurunnya daya tampung wilayah, dominasi lahan non hutan di Daerah Sekitar Aliran Sungai (DAS), menyebabkan air tidak optimal meresap ke dalam tanah.
Saat musim hujan terjadi longsor, banjir, dan air sungai meluap semakin terasa betapa pentingnya manfaat dari hutan sebagai penyangga, sekaligus penyeimbang alam. Karena hutan terpelihara dengan baik, banyak menyimpan pohon raksasa, tidak ditebang pepohonannya, tidak menjadi lahan tambang, dan tidak berubah menjadi lahan pemukiman. Ternyata hutan itu, bisa mencegah terjadinya longsor dan banjir sewaktu musim penghujan.
Hutan yang penuh dengan pepohonan raksasa, tidak dibuat gundul, mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga siklus air. Termasuk tentunya saat terjadi musim penghujan sekalipun, hutan berfungsi untuk mencegah terjadinya erosi.
Sekaligus menjaga siklus air, sewaktu datangnya musim kemarau. Sehingga sungai tetap ada airnya, tidak kering kerontang karena hutan di daerah perbukitan masih ada sebagai cadangan penyimpan air tanah.
Marilah kita sayangi dan pelihara hutan, tidak ditebang kayu-kayuannya, tidak dijadikan lahan tambang, tidak berubah menjadi lahan kebun sawit. Karena perkebunan sawit, bukanlah hutan belantara yang dapat menyimpan cadangan air tanah.
Sehingga ketika musim hujan tiba, tidak terjadi lagi longsor dan banjir yang banyak membawa kayu gelondongan. Selamatkan hutan, rawat paru-paru dunia! Semoga bermanfaat.
Penulis buku Motivasi, Novel, Konten Kreator, Youtuber dan Guru.*)




