Oleh : Nurul Jannah*)
Refleksi Akhir Tahun tentang Bumi, Bencana, dan Tanggung Jawab Manusia
Kapan terakhir kali kita benar-benar mendengarkan alam? Bukan hanya melihatnya lewat layar, tetapi merasakannya sebagai luka yang merembes langsung hingga ke dada?
Bukan hanya menonton banjir sambil menggulir kabar berikutnya, lalu lupa beberapa detik kemudian. Bukan hanya menghela napas saat gempa, longsor, atau kebakaran hutan muncul sebagai breaking news yang cepat tergantikan oleh hiburan lain. Melainkan berhenti sejenak, lalu bertanya dengan getir: apa yang sedang, dan telah, kita lakukan pada bumi ini?
Di sepanjang tahun 2025 yang telah usai, alam tidak pernah benar-benar diam. Ia berbicara. Dan kali ini, bukan dengan bisikan, melainkan dengan teriakan yang berulang dan semakin keras.
Lewat hujan yang turun tanpa jeda, menggenangi Aceh, Sumatera Barat, hingga Sumatera Selatan. Lewat tanah yang tiba-tiba runtuh di kaki rumah. Menelan rasa aman, kenangan, dan masa depan di Kalimantan Selatan. Lewat sungai yang meluap dan berubah murka, menghantam Bali dan berbagai wilayah lain. Membawa lumpur, kenangan, dan kehilangan yang tak tergantikan.
“Kenapa sekarang banjirnya lebih sering?” tanya seorang ibu. Suaranya gemetar dan matanya basah, sambil memunguti sisa perabot dari halaman rumahnya yang porak-poranda.
“Dulu sungai itu tidak pernah seganas ini,” jawab tetangganya lirih, sembari menatap aliran air yang kini keruh, berbau, dan tak lagi ramah.
Lalu, siapa sebenarnya yang terdampak? Bukan hanya mereka yang tinggal di bantaran sungai. Bukan hanya petani yang sawahnya terendam dan gagal panen. Bukan hanya nelayan yang kehilangan arah lautnya.
Namun, kita semua. Karena alam tidak pernah memilih korban. Ia hanya merespons, dengan jujur dan tanpa kompromi, apa yang selama ini kita lakukan padanya.
“Kalau kita rawat, bumi juga akan menjaga kita,” ujar seorang anak kecil sembari menanam bibit pohon dengan tangan mungil yang penuh harap.
Kalimat itu sederhana, namun mampu menampar keras kesadaran orang dewasa. Betapa cinta pada lingkungan seharusnya dimulai dari tindakan kecil, bukan dari pidato panjang, seremoni, atau janji kosong yang tak pernah benar-benar diwujudkan.
Namun tahun 2025 juga adalah kaleidoskop duka. Kebakaran hutan yang menyisakan abu dan paru-paru yang sesak. Banjir bandang yang menghapus jejak kampung dalam semalam. Tanah longsor yang merenggut nyawa tanpa memberi waktu untuk berpamitan, tanpa sempat mengucap doa terakhir.
Mengapa bencana terasa makin dekat, makin sering, dan makin kejam?
Karena kita telah terlalu lama mengeksploitasi alam dengan lebih rakus dan lebih serakah.
Hutan ditebang tanpa jeda.
Sungai dijadikan tempat buangan. Tanah dipaksa menanggung beban yang tak lagi sanggup ia pikul.
Dan alam, seperti halnya tubuh manusia, tentu akan menjerit ketika rasa sakitnya diabaikan terlalu lama.
Lalu, bagaimana seharusnya kita memulai meniti tahun 2026 ini?
Bukan dengan saling menyalahkan. Bukan pula dengan menormalisasi bencana sebagai “takdir semata”. Melainkan dengan keberanian untuk bercermin, tanpa alibi, tanpa dalih, tanpa pembenaran diri.
Refleksi akhir tahun bukan hanya tentang capaian pribadi atau target yang tercapai, melainkan tentang relasi kita dengan bumi. Apakah kita hidup berdampingan, atau terus mengambil tanpa pernah sungguh-sungguh memulihkan?
Dalam keseharian, cinta lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana. Mematikan lampu. Mengurangi plastik. Tidak membuang sampah sembarangan. Menanam satu pohon.
Karena dari tindakan-tindakan kecil itulah masa depan sedang dirajut.
Di awal tahun ini, alam seakan meminta kita berhenti sejenak. Menurunkan suara ego. Menanggalkan keserakahan yang kerap disamarkan sebagai kebutuhan. Mendengarkan kembali denyut kehidupan yang selama ini kita abaikan.
Karena cara kita memperlakukan bumi hari ini akan menentukan apa yang diwariskan kepada anak-anak esok hari. Kenyamanan, kedamaian atau kah bencana yang terus berulang?
Menyambut tahun yang baru, kita mungkin tidak mampu menghentikan semua bencana. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak menambah luka.
Menjadi manusia yang lebih sadar. Lebih bertanggung jawab. Lebih bersahabat dengan alam.
Sebab pada akhirnya, ketika alam menjerit, yang sedang ditegur bukan bumi, melainkan nurani kita sendiri.
Dan refleksi ini adalah undangan mendesak untuk kita semua, untuk hidup lebih pelan, lebih jujur, dan lebih beradab kepada bumi, rumah kita satu-satunya.🌹❤🔥🎀
Jakarta, 2 Januari 2025.
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




