Ujian Allah: Musibah atau Azab?

Oleh : Ustad Islami Azmam, S.H,.*)

Dalam kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari berbagai peristiwa yang menyenangkan maupun menyedihkan. Ketika ditimpa kesulitan, sakit, kehilangan, atau bencana, sering muncul pertanyaan: apakah ini ujian dari Allah, musibah biasa, atau justru azab?

Islam memberikan penjelasan yang jelas dan adil tentang hal ini melalui Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW.

  1. Ujian adalah Sunnatullah bagi Semua Manusia

Allah SWT menegaskan bahwa kehidupan dunia memang diciptakan sebagai tempat ujian, baik dengan kesenangan maupun kesusahan.

Dalil Al-Qur’an:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Ujian tidak hanya berupa kesulitan, tetapi juga kenikmatan. Kekayaan, kesehatan, dan kedudukan pun adalah ujian apakah seseorang bersyukur atau lalai.

“Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

  1. Musibah sebagai Ujian dan Penghapus Dosa

Bagi orang beriman, musibah sering kali merupakan ujian yang mengandung hikmah besar, di antaranya untuk mengangkat derajat dan menghapus dosa.

Dalil Al-Qur’an:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Dalil Hadits:
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa musibah bagi orang beriman bukanlah azab, melainkan bentuk kasih sayang Allah.

  1. Azab adalah Hukuman atas Kedurhakaan

Azab berbeda dengan ujian atau musibah. Azab adalah hukuman dari Allah yang ditimpakan kepada kaum yang ingkar, durhaka, dan menolak kebenaran setelah datang peringatan.

Dalil Al-Qur’an:
“Maka masing-masing Kami siksa karena dosanya.” (QS. Al-‘Ankabut: 40)

Allah juga menegaskan bahwa azab tidak diturunkan secara zalim, tetapi setelah adanya peringatan dan pembangkangan.

“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 117)

  1. Perbedaan Sikap Menentukan Nilainya

Hal yang sama bisa menjadi ujian bagi sebagian orang, namun menjadi azab bagi yang lain. Tolok ukurnya adalah sikap hati dan perbuatan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara orang beriman. Sesungguhnya semua perkaranya baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Jika musibah membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, bertobat, dan memperbaiki diri, maka itu adalah ujian yang penuh rahmat.

Namun jika musibah justru menjadikan seseorang semakin jauh dari Allah, penuh keluh kesah, dan terus bermaksiat, maka dikhawatirkan itu merupakan peringatan keras atau azab.

  1. Sikap Seorang Muslim

Seorang muslim tidak tergesa-gesa menilai suatu musibah sebagai azab. Yang paling utama adalah introspeksi diri, memperbanyak istighfar, sabar, dan tawakal.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Penutup

Ujian Allah bisa berupa musibah atau nikmat, dan tidak selalu berarti azab. Bagi orang beriman, musibah adalah sarana penyucian jiwa dan peningkatan derajat. Azab adalah hukuman bagi kedurhakaan yang terus-menerus.

Maka, setiap musibah hendaknya disikapi dengan sabar, tobat, dan mendekatkan diri kepada Allah, karena di balik setiap ketetapan-Nya selalu ada hikmah dan keadilan. []

Penulis Instruktur Pendidikan Agama Islam di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Tuah Sakato Provinsi Sumatera Barat*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *