Generasi yang Mewarisi Bencana: Ketika Alam Rusak dan Kepedulian Kian Pudar

Oleh : Harlan Lubis*)

Generasi saat ini hidup di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat kenyataan pahit yang tidak dapat diabaikan, yakni semakin seringnya bencana alam terjadi di berbagai daerah.

Banjir, longsor, dan galodo seolah menjadi peristiwa yang berulang dan akrab dalam kehidupan masyarakat. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa generasi hari ini justru mewarisi bencana, bukan alam yang lestari?

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan lagi persoalan masa depan, melainkan masalah nyata yang sedang dihadapi generasi sekarang. Alam yang rusak adalah hasil dari akumulasi perilaku manusia yang abai terhadap keseimbangan lingkungan, baik di masa lalu maupun masa kini.

  • Kerusakan Lingkungan sebagai Akar Masalah

    Bencana alam sering kali dipahami sebagai peristiwa alamiah yang tidak dapat dihindari. Padahal, banyak bencana terjadi akibat campur tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

    Penggundulan hutan, alih fungsi lahan tanpa perencanaan matang, serta buruknya pengelolaan sampah menjadi faktor utama yang memperparah kerusakan lingkungan. Sungai kehilangan fungsinya, daerah resapan air menyusut, dan alam pun kehilangan kemampuannya untuk menahan dampak cuaca ekstrem.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lingkungan adalah kawasan yang menjadi tempat berlangsungnya kehidupan. Definisi ini menegaskan bahwa lingkungan memiliki peran vital bagi keberlangsungan hidup manusia. Ketika lingkungan rusak, generasi yang hidup di dalamnya akan menanggung dampaknya secara langsung.

    • Generasi Saat Ini di Tengah Krisis Kepedulian

    Ironisnya, generasi muda hidup di era meningkatnya kesadaran global tentang isu lingkungan. Kampanye tentang perubahan iklim dan pelestarian alam mudah ditemui di media sosial. Namun, kesadaran tersebut sering kali berhenti pada tataran wacana.

    Dalam praktiknya, masih banyak perilaku yang mencerminkan rendahnya kepedulian, seperti membuang sampah sembarangan, penggunaan plastik berlebihan, dan abainya terhadap ruang hijau.

    Gaya hidup serba instan turut membentuk sikap tidak peduli terhadap dampak jangka panjang. Ketika kenyamanan menjadi prioritas utama, kepentingan lingkungan kerap dikesampingkan. Inilah yang membuat generasi saat ini berada dalam dilema: sadar akan krisis lingkungan, tetapi belum sepenuhnya siap mengubah kebiasaan.

    • Peran Pemerintah dan Tanggung Jawab Bersama

    Di sisi lain, pemerintah memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kebijakan pembangunan yang tidak berorientasi pada keberlanjutan hanya akan mempercepat kerusakan alam. Penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan harus dilakukan secara tegas dan konsisten agar tidak menimbulkan efek jera yang semu.

    Namun demikian, tanggung jawab menjaga lingkungan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat, khususnya generasi muda, harus terlibat aktif sebagai agen perubahan. Tanpa kesadaran kolektif, kebijakan sebaik apa pun tidak akan berjalan efektif.

    Generasi hari ini memang mewarisi berbagai persoalan lingkungan dan bencana alam. Namun, warisan tersebut tidak harus diteruskan kepada generasi berikutnya. Dengan meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku, dan membangun kepedulian bersama, masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam.

    Menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan kebutuhan mendesak. Jika generasi saat ini mampu belajar dari kerusakan yang terjadi, maka masa depan yang lebih aman dan lestari masih dapat diwujudkan. Sebaliknya, jika kepedulian terus pudar, bencana akan menjadi warisan yang tak terhindarkan.

    Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAI-PIQ Sumatera Barat*)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *