Menjaga Hati dan Lisan Lebih Baik dan Jangan Membuka Aib

Oleh : Dr. H. Afrinal, MH*)

LAZIMNYA ditengah-tengah masyarakat menurut ajaran agama kita Islam menjaga hubungan baik dengan tetangga mutlak. Karena tetangga itulah yang menjadi saudara terdekat. Bukti nyatanya adalah saat ada musibah, seperti, sakit serta kemalangan maka yang paling utama tahu adalah tetangga tersebut. Dan itulah yang memberikan pertolongan.

Belakangan sering terjadi tanpa sadar dan disadari, tidak jarang kita mendengar dan melihat hingga merasakan yang muncul adalah konflik antar tetangga. Malah terkesan tidak pernah berkesudahan.

Masya Allah. Bila ini terjadi, idealnya, lebih baik jauh dari tetangga dari pada dekat penuh dengan gibah. Gibah prinsipnya adalah menggunjing atau membicarakan dan menyebut-nyebut keburukan hingga aib orang lain. Terutama saat mereka  tidak ada ditempat dan menyebut dengan sesuatu yang tidak benar akan tetapi tidak disukainya. Bisa saja menyebut adanya kekurangan fisik, tabiat, sifat atau bisa saja prilaku seseorang.

Bila boleh men ”justice”, mungkin saja ada sebagian dari sikap manusia sering berlaku tak perlu bersandiwara ramah atau penuh keramahan yang pura-pura jika dibelakang sering saling menjatuhkan. Diam ditempat sendiri rasanya lebih tenang dari pada terbawa atau ikut dengan arus gibah.

Omongan yang tidak bermanfaat lebih baik menjaga hati dan lisan dari pada duduk bersama tapi sibuk menguluti aib antar sesama. Kedamaian pada dasarnya kadang hadir dalam kesendirian bukan dalam keramaian penuh dusta.

Pertanyaannya sekarang adalah. Kenapa sebagian orang suka menyebut dan berucap hingga membuka aib seseorang.

Padahal, jika seseorang berkata sesuatu kepadamu, lalu ia pergi, maka itu adalah amanah. ”Hadis ini menunjukkan bahwa setiap percakapan pribadi yang tidak untuk disebarluaskan adalah rahasia, dan kita wajib menjaganya. Artinya, hukum membuka rahasia orang lain tanpa izin adalah haram, kecuali jika demi kebaikan yang jelas, misalnya dalam rangka mencegah kezaliman atau melaporkan kejahatan.

Allah pun memperingatkan kita dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…”

Membuka rahasia seringkali merupakan kelanjutan dari kebiasaan mencari-cari aib. Dengan demikian maka jelaslah, bahwa perbuatan ini bukan hanya menyakiti hati, tapi juga bertentangan dengan prinsip Islam.

Persoalan itu didasarkan, bahwa Allah swt memerintahkan dan membalas orang yang menutupi aib sesama muslim dengan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW: ”Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat” (HR.Muslim).

Karena, Allah maha penutup (As-Sattaar-maha menutupi) dan menyukai hamba-Nya yang menjaga kehormatan saudaranya bukan malah membukanya. Jika seseorang terus menerus membuka aib orang lain atau dirinya sendiri. Bisa jadi Allah swt akan membukanya sebagai peringatan.

Dapat disimpulkan bahwa hikmah dan dalil, ”meneladani sifat Allah memiliki nama As-Sattaar (maha menutupi). Bila kita mau dan berkeinginan untuk menutup aib orang lain ini adalah salah satu cara kita meneladani sifat kasih sayang Allah yang telah menutupi dosa-dosa kita.  Amiiin ya rabb. []

Dosen Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *