Oleh : Nurul Jannah*)
Ketika Tanah Basah Dipaksa Menjadi Ladang
Tanah tidak pernah meminta ditaklukkan. Ia hanya meminta dihormati. Namun berkali-kali, yang kita lakukan justru sebaliknya. Mengeringkan yang basah, membuka yang seharusnya dijaga, dan memaksa tanah bekerja di luar batasnya. Dan, Gambut adalah saksi dari kekeliruan itu.
Gambut, selama ia basah, ia melindungi. Ia menyimpan air, menahan api, dan menjaga keseimbangan hidup. Begitu ia dikeringkan, ia berubah, dari penjaga menjadi ancaman yang menunggu.
Justru karena bekerja tanpa suara, peran gambut kerap luput dari perhatian. Ia tidak menuntut, tidak memamerkan hasil, dan tidak menjanjikan panen cepat. Namun di balik kesenyapannya, gambut menjaga kita dengan setia.
Gambut bukan tanah biasa. Ia terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang terurai perlahan selama ribuan tahun. Lapisan-lapisannya menyimpan air seperti spons raksasa. Ketika hujan turun, ia menahannya. Ketika kemarau datang, ia melepaskannya sedikit demi sedikit.
Selama ia dibiarkan basah, gambut adalah penjaga kehidupan, tanah yang bekerja tanpa suara, namun menopang segalanya. Masalah mulai muncul ketika tanah basah ini dipaksa berubah.
Saat Air Dikeluarkan, Masalah Masuk
Untuk membuka perkebunan skala besar, gambut harus dikeringkan. Caranya hampir selalu sama. Kanal-kanal digali untuk mengalirkan air keluar dari tanah.
Air surut. Permukaan tanah turun. Gambut yang selama ini lembab, perlahan mengering. Dan, kebakaran gambut sering tetap disebut sebagai bencana alam.
Seolah api datang sendiri.
Seolah tidak ada keputusan manusia di baliknya. Padahal api gambut tidak pernah lahir tanpa sebab. Ia diundang oleh kanal. Ia disiapkan oleh pengeringan. Ia dipelihara oleh pembiaran.
Papua dan Tanah Basah yang Masih Bernapas
Papua memiliki bentang lahan basah yang luas, rawa, gambut, dan ekosistem air yang selama ini menjaga keseimbangan alam.
Ketika wacana pembukaan lahan besar bergerak ke wilayah seperti ini, kita seharusnya berhenti sejenak. Karena mengeringkan gambut Papua berarti membuka pintu bagi bencana yang s±ama, di tanah yang selama ini belum rusak.
Maka, api pun akan datang,
karbon yang tersimpan ribuan tahun akan terlepas,
dan masyarakat setempat akan menjadi pihak pertama yang menanggung dampaknya.
Ketidakadilan yang Selalu Mengikuti Asap
Seperti banjir, kebakaran gambut tidak pernah adil.
Yang memutuskan sering tidak menghirup asap. Yang menghirup asap sering tidak pernah dimintai pendapat.
Anak-anak batuk. Orang tua sesak napas. Hidup terganggu. Sementara api terus menyala, sebagai warisan dari keputusan yang jauh dari tanah.
Gambut bukan tanah malas. Ia bekerja dengan caranya sendiri. Ia melindungi, bukan memproduksi cepat.
Memaksakan gambut menjadi lahan sawit merupakan kekeliruan ekologis yang harus dibayar mahal, entah hari ini, atau beberapa musim kemarau ke depan.
Ini bukan soal anti-sawit. Ini soal menempatkan sawit di tempat yang tidak tepat.
Api gambut tidak pernah lahir tiba-tiba. Ia adalah janji yang ditepati oleh tanah yang dikhianati. Jika hari ini kita memilih mengeringkan tanah basah, maka suatu hari nanti kita akan menghirup akibatnya. Dalam bentuk asap yang memenuhi dada dan penyesalan yang datang terlambat.
Gambut tidak pernah meminta ditanami. Ia hanya meminta dibiarkan basah, agar kita semua tetap bisa bernapas.🙏
Pemalang, 14 Januari 2025
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




