Pendidikan Gen Z di Era Digital

Oleh : Dinilla Arifa *)

PENDIDIKAN pada masa kini merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu. Tidak sedikit generasi muda yang harus berhenti sekolah karena faktor ekonomi maupun lingkungan.

Meski demikian, masih banyak anak muda yang memiliki semangat besar untuk terus belajar dan bercita-cita melanjutkan pendidikan tinggi demi meraih impian mereka. Pendidikan bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga berperan dalam membentuk pola pikir, sikap, serta karakter setiap orang.

Oleh karena itu, pendidikan menjadi bagian yang sangat diperlukan untuk mendukung berbagai aspek kehidupan dan perkembangan diri. (Tuada, 2025).

Media sosial merupakan bentuk komunikasi yang berlangsung secara online, memungkinkan setiap orang untuk saling berinteraksi tanpa terikat oleh batasan waktu maupun lokasi. Penggunaan jejaring sosial membawa dampak positif sekaligus negatif bagi penggunanya, terutama bagi Generasi Z.

Berdasarkan penelitian, Generasi Z kerap memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan seputar etika dan pendidikan. Hal ini membantu mereka meningkatkan kesadaran serta memperluas pemahaman terhadap berbagai isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. (Information, 2023).

Generasi Z tumbuh dengan akses yang luas terhadap internet, perangkat pintar, dan media sosial. Mereka lebih sering berinteraksi dengan teknologi dibandingkan dengan buku teks atau lingkungan sosial tradisional (Belvar, 2024).

Dunia digital memang menawarkan banyak peluang, mulai dari akses informasi yang hampir tak terbatas hingga cara-cara baru untuk berkomunikasi dan berkarya.

Namun, di balik segala kemudahan tersebut, terdapat tantangan besar yang perlu dihadapi (Faqih, 2024). Salah satunya adalah risiko terjebak terlalu dalam di dunia maya, yang dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku.

Ketergantungan pada media sosial, misalnya, bisa menurunkan keterampilan sosial sekaligus meningkatkan rasa cemas dan depresi. Selain itu, kemudahan memperoleh informasi yang tidak selalu valid berpotensi membentuk perspektif yang kurang seimbang. (Ayub, 2024).

“Pendidikan nilai merupakan aspek penting dalam proses pendidikan yang bertujuan untuk membentuk karakter positif, mengembangkan kebijaksanaan, dan menginternalisasikan nilai-nilai universal seperti kejujuran, integritas, rasa hormat, dan tanggung jawab. Namun, cara menyampaikan pendidikan nilai dalam konteks digital yang dinamis dan cepat berubah ini masih menjadi perdebatan” (Ma’arif, 2024).

Pendidikan Islam di era digital membuka peluang yang sangat luas. Teknologi digital tidak hanya memperluas aksesibilitas, tetapi juga mendorong lahirnya metode pembelajaran yang lebih inovatif sekaligus memperkuat pendidikan nilai.

Kehadiran teknologi ini dapat menjadi jembatan untuk mengatasi kesenjangan pendidikan nilai di tengah masyarakat yang semakin terhubung secara global.

Di Indonesia, perubahan digital dalam dunia pendidikan sebenarnya bukan hal baru. Namun, regulasi yang ada kini semakin mendukung upaya penerapan transformasi digital di semua jenjang pendidikan.

Sementara itu, Karl Mannheim menjelaskan bahwa generasi adalah sekelompok orang dengan rentang usia dan pengalaman yang sama dalam suatu periode tertentu. Ia juga menekankan bahwa kesadaran sosial, cara pandang, serta kematangan berpikir generasi muda akan terus berkembang sesuai dengan kondisi waktu dan tempat mereka berada. (Ishak, 2025).

Generasi Z saat ini berada dalam fase pendidikan formal, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Mereka adalah kelompok yang tumbuh bersama perkembangan teknologi dan internet yang serba cepat serta selalu terhubung. Karena terbiasa menggunakan media sosial dan platform daring, Generasi Z sering disebut sebagai digital native.

Generasi ini berkembang di era ketika informasi dan teknologi melaju pesat, sehingga mereka mampu menyesuaikan diri dengan dunia digital sebagai sarana pembelajaran. Gaya belajar yang paling umum bagi mereka adalah melalui media digital dengan pendekatan audio-visual, seperti video yang menggabungkan suara dan gambar untuk mempermudah pemahaman materi.

Sementara itu, media sosial atau sosial media telah berkembang pesat dan menjamur di seluruh pelosok tanah air. Media sosial menjadi saluran pergaulan online di dunia maya, tempat para pengguna berkomunikasi, berinteraksi, saling berbagi pesan, membangun jaringan, dan memperluas hubungan sosial. (Siregar, 2022)

Media sosial kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari siswa Gen Z di era digital. Melalui platform seperti Facebook, Instagram, dan Twitter, mereka mendapatkan akses langsung ke berbagai informasi dan alat yang mendukung aktivitas belajar maupun interaksi sosial.

Namun, kehadiran media sosial juga membawa tantangan baru, khususnya dalam memahami etika pendidikan. Siswa yang terlalu sering menggunakan media sosial cenderung memiliki pemahaman yang kurang baik tentang etika, karena sering terpapar konten yang meragukan.

Temuan ini menunjukkan bahwa siswa Gen Z membutuhkan pendidikan yang lebih menekankan pada aspek etika. Para pendidik perlu mengintegrasikan tema etika ke dalam kurikulum sekaligus memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk mendorong diskusi etis.

Dengan begitu, guru dapat membantu siswa memahami pentingnya menjaga standar etika, baik dalam kehidupan online maupun offline, melalui pembicaraan yang relevan tentang etika pendidikan. (Nurhayati, 2024).

Penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan memberikan banyak manfaat positif, namun tidak bisa dipungkiri juga membawa dampak negatif, terutama bagi Generasi Z yang tumbuh di era digital. Salah satu dampak negatif yang paling menonjol adalah ketergantungan pada perangkat digital dan media sosial.

Selain itu, teknologi juga sering menimbulkan gangguan dalam proses belajar. Ketika Generasi Z mengikuti pembelajaran berbasis teknologi, mereka kerap terdistraksi oleh berbagai aplikasi dan platform media sosial yang tersedia.

Notifikasi yang terus muncul dan interaksi yang menarik perhatian dapat mengurangi fokus mereka dalam belajar, sehingga proses pembelajaran menjadi kurang optimal. (Tuada, 2025).

Pendidikan Gen Z di era media sosial menuntut pendekatan yang lebih adaptif dan relevan dengan perkembangan teknologi. Media sosial memiliki dampak besar terhadap pola pikir, perilaku, dan cara belajar generasi ini, sehingga pendidik perlu membekali mereka dengan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta karakter yang kuat.

Dengan memanfaatkan media sosial secara positif dan mengarahkan penggunaannya secara bijak, pendidikan dapat membantu Gen Z berkembang menjadi generasi yang kreatif, cerdas, dan berintegritas di tengah derasnya arus informasi digital. []

Mahasiswa STAI PIQ Sumatera Barat *)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *