Oleh : Nurul Jannah*)
Senyum Dipasang, Luka Disimpan
Kalimat itu selalu siap di ujung lidah: “Baik.” Begitu biasanya respon spontan yang dilayangkan untuk sapaan dari luar.
Amat sangat mudah diucapkan. Cepat. Ringkas. Dan, aman.
Padahal semalam mata sulit terpejam. Padahal dada penuh oleh hal-hal yang tak sempat diucapkan. Padahal hati lagi tidak baik-baik saja. Tapi entah kenapa, mulut selalu memilih rapi.
Di depan cermin, semua nampak baik-baik saja. Rambut dirapikan. Kerudung dipantaskan. Pakaian disandangkan. Lalu dunia seolah menerima kita sebagai sosok yang utuh. Tenang, stabil, dan tampak baik-baik saja. Tidak ada masalah.
Sejak langkah pertama keluar rumah, satu peran kembali dimainkan dengan sempurna, menjadi orang yang baik-baik saja.
“Kenapa sih kamu selalu terlihat kuat?” tanya Minarni, sahabatku, penuh rasa ingin tahu.
Aku biasanya cukup merespon dengan senyuman. Karena menjelaskan akan terasa terlalu panjang.
Jawaban singkat itu bukan untuk menipu. Apalagi berbohong. Karena sesungguhnya, tidak semua orang siap menerima cerita kita. Tidak semua telinga sanggup menampung lelah kita. Dan, tidak semua hati cukup lapang untuk memeluk kecewa kita.
Lebih baik memilih diam. Memilih terlihat kuat. Memilih aman.
Dan, ketika seorang relasi kerja, Fetty, bertanya, “Apa kabar?”
Jawaban spontan pun menggema seperti biasa, “Baik…”
Bahkan sebelum hati sempat ikut bicara. Jawaban “baik” itu sudah tertata rapi di sana.
Terbiasa Menahan Segalanya
Tetiba kita pun menjadi ahli segalanya. Ahli menyamarkan luka di balik tawa ringan. Ahli menyembunyikan kecewa di balik kesibukan. Ahli merapikan hati yang berantakan agar tak terlihat retak.
Padahal yang terjadi sesungguhnya bukanlah kuat. Namun, terbiasa menahan segalanya.
Menahan ingin bercerita. Menahan ingin menangis.
Menahan ingin berkata, “Cukup, aku capek sekali….”
“Kenapa nggak cerita saja?” kata Maria, seorang mitra kerjaku, dengan lembut.
Merespon pertanyaan itu, biasanya cukup dengan anggukan kecil. Lalu mengalihkan pembicaraan.
Dan, pada akhirnya, semua disimpan rapi dan penuh di dalam dada.
Kita pun mulai membiasakan diri menjalani hari seperti aktor yang sangat profesional. Dialog tepat. Ekspresi pas. Tidak pernah terlihat salah. Tidak pernah terlihat rapuh.
Namun, ketika malam datang dan tak ada lagi yang perlu dilihat orang, hati pun mulai bicara jujur: “kenapa rasanya lelah sekali, padahal hari ini tidak ada yang luar biasa berat?”
Karena yang melelahkan bukan harinya. Yang melelahkan adalah menjadi baik-baik saja sepanjang hari.
Belajar Jujur pada Diri Sendiri
Kebiasaan ini sering lahir dari niat yang tampak mulia. Tidak ingin merepotkan. Tidak ingin membuat khawatir. Tidak ingin terlihat lemah. Tidak ingin suasana menjadi tidak nyaman.
Tanpa sadar, kita memikul semua beban itu sendiri. Beban yang tidak pernah benar-benar diturunkan.
Kita menjadi tempat banyak orang bersandar, tapi lupa bahwa diri sendiri pun juga butuh sandaran.
Terkadang kita merasa kosong tanpa tahu sebabnya. Jenuh tanpa tahu sumbernya. Letih tanpa tahu apa yang membuat letih.
Padahal jawaban dari semua itu sangat sederhana, karena kita terlalu lama memendam banyak hal, yang seharusnya dilepaskan.
“Memang kamu kenapa?” tanya Canting sahabatku dengan tulus.
Biasanya aku hanya bisa diam. Bahkan, kepada diri sendiri pun tidak tahu harus memulai dari mana.
Terkadang kita lupa bahwa yang paling menyelamatkan bukan nasihat orang lain. Melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Bahwa hari ini memang melelahkan. Bahwa hati memang sedang tidak baik-baik saja. Bahwa kita juga manusia yang bisa rapuh.
Karena, tidak semua luka harus diceritakan. Tidak semua cerita harus diumbar.
Bagaimanapun juga, hati tetap butuh ruang untuk bernapas. Untuk diakui keberadaannya.
Karena yang paling berbahaya bukan luka yang terlihat. Melainkan luka yang terus disembunyikan sampai kita sendiri lupa bahwa luka itu ada.
Maka, yang perlu mulai dilatih bukan lagi kebiasaan terlihat kuat. Melainkan kebiasaan memberi izin pada diri sendiri untuk tidak selalu baik-baik saja.
Memberi ruang untuk diam tanpa harus menjelaskan.
Memberi waktu untuk menangis tanpa merasa bersalah. Memberi kesempatan pada hati untuk pulih tanpa tuntutan terlihat tegar.
Karena hidup bukan tentang seberapa rapi kita tampak di mata orang lain. Tetapi tentang seberapa jujur kita merawat diri sendiri di dalam diam.
Dan bisa jadi, mulai hari ini, ketika pertanyaan, “apa kabar” datang lagi, kita berani memberikan jawaban lain yang lebih jujur untuk disampaikan di dalam hati: aku sedang belajar berhenti memakai topeng ‘baik-baik saja.’😍🌹❤️
Bogor, 31 Januari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




