Menyambut Bulan Suci dengan Hati yang Suci

Oleh : Idal, M.Pd.*)

RAMADHAN tahun 1447 H tinggal menghitung hari. Artinya, bulan suci Ramadhan sudah de depan mata. Karena saat ini kita sudah berada di bulan Sya’ban. Aratinya, tidak lama lagi kita sudah memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H.

Bulan suci Ramadan adalah tamu agung yang selalu dinanti oleh umat Islam. Ia hadir membawa cahaya ampunan, limpahan rahmat, dan peluang besar untuk memperbaiki diri. Namun, menyambut bulan suci tidak cukup hanya dengan kesiapan fisik dan rutinitas ibadah semata. Lebih dari itu, Ramadan menuntut kesiapan hati yang bersih, ikhlas, dan tunduk sepenuhnya kepada Allah Swt.

Apa Makna Kesucian Hati dalam Islam?

Hati (qalb) memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Ia adalah pusat niat, keikhlasan, dan kesadaran spiritual manusia. Rasulullah saw. bersabda: “Bahwa baik dan buruknya amal seseorang bergantung pada hatinya”. Oleh karena itu, menyucikan hati merupakan langkah awal dalam menyambut bulan suci.

Al-Qur’an menegaskan bahwa keberuntungan sejati bukan terletak pada harta atau kedudukan, melainkan pada hati yang bersih:

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89).

Ayat ini mengingatkan bahwa kesucian hati adalah bekal utama dalam perjalanan menuju Allah, termasuk dalam menjalani ibadah Ramadhan agar bernilai dan diterima.

Ramadhan: Bulan Penyucian Jiwa

Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga saja, tetapi juga bulan penyucian jiwa dari berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, dan kebencian. Puasa mengajarkan pengendalian diri, kejujuran batin, dan kepekaan sosial.

Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Takwa adalah puncak dari kesucian hati, keadaan ketika seseorang senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan berusaha menjaga diri dari segala yang dimurkai-Nya.

Membersihkan Hati Sebelum Ramadhan

Menyambut bulan suci dengan hati yang suci dapat dimulai dengan beberapa langkah sederhana, namun mendalam: memperbanyak istighfar, memaafkan kesalahan orang lain, memperbaiki hubungan sesama manusia (hablum minannas), dan meluruskan niat dalam beribadah.

Al-Qur’an mengajarkan pentingnya taubat sebagai jalan penyucian hati:
“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

Taubat yang tulus akan membuka pintu rahmat Allah dan menjadikan hati lebih lapang dalam menerima cahaya Ramadan.

Ramadan dan Al-Qur’an: Jalan Penyucian Hati

Ramadan juga dimuliakan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, petunjuk bagi manusia dan penyejuk bagi hati yang gelisah.

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…”
(QS. Al-Baqarah: 185).

Interaksi yang intens dengan Al-Qur’an, membaca, merenungi, dan mengamalkannya akan membersihkan hati dari kegelapan dan menumbuhkan ketenangan batin.

Menyambut bulan suci dengan hati yang suci adalah kunci agar Ramadhan benar-benar menjadi bulan perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan. Hati yang bersih akan melahirkan ibadah yang ikhlas, akhlak yang lembut, dan kepedulian yang tulus kepada sesama.

Semoga Ramadhan yang kita sambut tidak hanya mengubah jadwal makan dan tidur, tetapi juga menghidupkan kembali hati yang mungkin lama tertidur. Dengan hati yang suci, semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang kembali dalam keadaan fitri, sebagaimana tujuan agung dari bulan suci Ramadan. Aamiin []

Guru SMPN 18 Padang dan Dosen DLB UIN IB Padang*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *