Oleh : Hamriadi, S.Sos., S.T.*)
PEMIMPIN hendaknya arif dan bijaksana. Kata ini menjadi pengunci pada diskusi Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kota Bukittinggi dengan Ketua Syarikat Indonesia (SI) Kota Bukittinggi, Tuanku Rismaidi.
Ketika kita melakukan searching (pencarian), kombinasi sikap arif dan bijaksana adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, merujuk pada orang yang berilmu luas, rendah hati, tidak mengedepankan ego, dan mampu menerima saran atau kritik.
Memang tidak mudah rasanya kombinasi sikap arif dan bijaksana dimiliki oleh seseorang. Jika pun ada mungkin angkanya bisa dihitung jari saja.
Kalau kita kelompokkan berdasarkan per kalimat, untuk kata arif dapat disebut juga kearifan. Kata ini berasal dari bahasa Arab yang berarti memahami, mengerti, cerdik, dan pandai.
Di sini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa orang yang arif memiliki ketajaman pikiran dan mata hati untuk menilai situasi dengan benar, bukan sekadar merasa benar.
Sedangkan bijaksana, atau dikalimatkan menjadi kebijaksanaan, di sini bisa disimpulkan merupakan sikap seseorang yang selalu menggunakan akal budi, cermat, teliti, dan hati-hati.
Nah, kata bijaksana ini merupakan sebuah gambaran seseorang ini mencakupi kemampuan menempatkan diri, mengendalikan emosi, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Bila mana kita berbicara tentang kepemimpinan, tentunya berbicara tentang gerak laju sebuah organisasi yang dijalankan oleh seseorang ataupun secara kolektif untuk sebuah kemajuan, baik itu organisasi pemerintahan, swasta, partai politik dan lain sebagainya.
Untuk diketahui, pemimpin adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mengarahkan, memengaruhi, dan memotivasi sekelompok orang (dua atau lebih) untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama.
Jadi, pemimpin bukan sekadar orang yang memiliki jabatan struktural (pimpinan) semata.
Pemimpin sejati memiliki kecerdasan, karisma, integritas, dan keahlian untuk menjadi teladan, menginspirasi, serta memberdayakan anggotanya, bukan hanya memberi perintah dan menakut-nakuti.
Pemimpin yang baik adalah sosok yang punya integritas, empati, dan mampu menginspirasi, bukan hanya persoalan memerintah.
Seorang pemimpin, harus menjadi panutan (role model), mampu berkomunikasi secara efektif, bisa memberdayakan tim, mau mendengarkan, memberi feedback, mau belajar, serta punya ketahanan menghadapi tantangan untuk membawa kemajuan bersama.
Setiap kali terjadi proses pergantian kepemimpinan, selalu saja timbul perdebatan terkait siapa yang akan dipilih sebagai pemimpin.
Apakah kepada mereka yang terlahir sebagai pemimpin (Natural Born Leader) atau untuk mereka menang dilahirkan untuk memimpin (Made Leader atau Trained Leader).
Mereka yang terlahir sebagai pemimpin, biasanya memiliki bakat bawaan (alami) yang dikembangkan secara intuitif dan spontan.
Mereka memiliki kualitas yang hebat karena dipengaruhi oleh kharisma dan insting alami.
Sementara pemimpin yang dilahirkan, sumber bakat didapat dari pengalaman dan pelatihan yang dikembangkan dengan disengaja dan terstruktur.
Kualitas pemimpin ini bisa terlihat dariperencanaan strategis dengan metoda yang jelas. Meski ada dua kategori pemimpin yang mengemuka ke permukaan, namun pada kenyataannya, banyak pemimpin sukses yang menggabungkan keduanya.
Pemimpin seperti ini, adalah mereka yang memiliki bakat alami, kemudian diasah dan diperkuat melalui pendidikan dan pengalaman yang disengaja.
Kalau dilihat pada fenomena saat ini, banyak sosok sosok pemimpin yang muncul dan telah melakukan pengabdian di tengah masyarakat. Mungkin saja sosok pemimpin tersebut benar-benar terlahir atau dilahirkan. []
Penulis adalah Ketua Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kota Bukittinggi*)




