Menjelang Ramadhan dalam Rasio 9:16

Oleh: Yuwanda Efrianti*)

ADA sesuatu yang diam-diam berubah dari cara manusia menyambut Ramadhan hari ini bukan pada jumlah rakaat yang ditunaikan, bukan pada panjangnya tilawah yang diselesaikan, melainkan pada cara kita memperlakukan kesunyian itu sendiri yang perlahan-lahan telah direduksi menjadi sekadar latar belakang dari keramaian yang kita ciptakan secara sadar maupun tidak sadar.

Sebab di tengah gegap gempita promosi sahur instan, denting notifikasi diskon yang menyelinap bahkan sebelum azan Subuh sempat menyentuh udara, serta linimasa yang dipenuhi dengan parade ucapan spiritual yang ditata sedemikian rupa agar tetap estetik dalam rasio 9:16.

Ramadhan tampaknya tak lagi hadir sebagai ruang jeda yang mengundang manusia untuk menepi dari hiruk-pikuk dunia, melainkan justru sebagai musim yang dipadati oleh lalu lintas simbolik tentang siapa yang paling khusyuk, siapa yang paling dermawan, dan siapa Notifikasi diskon sahur berseliweran bahkan sebelum azan Subuh sempat mengendap di udara.

Promo Ramadhan Sale lebih cepat muncul daripada pengumuman sidang isbat. Di lini masa, ayat suci berdampingan dengan tautan flash sale. Ceramah agama terselip di antara video unboxing hampers lebaran yang dibungkus dengan pita warna pastel.

Ramadhan tidak lagi sekadar bulan ibadah. Ia telah menjadi musim. Musim konsumsi.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa konsumsi rumah tangga di Indonesia secara konsisten mengalami lonjakan pada periode Ramadhan hingga Idulfitri setiap tahunnya, dan dalam rilis pertumbuhan ekonomi Triwulan II tahun 2024.

Komponen konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh sebesar 4,93 persen (year-on-year) serta menyumbang lebih dari 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, sebuah dominasi yang menjadikannya kontributor terbesar dalam struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode yang beririsan langsung dengan momentum Ramadhan dan Idulfitri.

Di sisi lain, laporan inflasi bulanan yang juga dirilis oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi sebesar 0,41 persen pada Maret 2024, meningkat dari 0,29 persen pada Februari 2024, yang secara tidak langsung mengindikasikan adanya akselerasi konsumsi masyarakat menjelang bulan puasa.

Artinya, pada saat umat diperintahkan untuk menahan lapar sebagai bentuk sublimasi hasrat, sistem pasar justru merespons dengan stimulus yang membuat keinginan itu tidak pernah benar-benar ditunda, melainkan dialihkan dalam bentuk konsumsi yang lebih masif dan terus mengalami justifikasi sebagai bagian dari tradisi musiman.

Artinya, ketika manusia diperintahkan untuk berlatih merasa cukup, sistem justru mengajarkan bahwa cukup tidak pernah benar-benar cukup.

Ironi ini bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari persilangan panjang antara spiritualitas dan kapitalisme yang kini berjalan beriringan tanpa pernah saling menegasikan.

Puasa yang seharusnya menjadi latihan pengendalian diri, perlahan berubah menjadi kalender belanja tahunan yang dirayakan dengan antusiasme yang hampir serupa dengan hari raya itu sendiri.

Fenomena ini kemudian merembet ke ranah yang lebih subtil ranah di mana ibadah tidak lagi semata-mata dijalankan, tetapi juga ditampilkan, sebab di era digital yang mengukur eksistensi melalui visibilitas, bahkan kesalehan pun mengalami transformasi menjadi sesuatu yang perlu direpresentasikan, dikurasi, dan dalam beberapa kasus, dipertontonkan agar tetap berada dalam orbit pengakuan sosial yang tak pernah berhenti menuntut pembuktian.

Buka puasa bersama didokumentasikan dari berbagai sudut. Tilawah direkam, disunting, lalu diunggah. Sedekah dipublikasikan melalui tangkapan layar transfer.

Doa, yang seharusnya menjadi percakapan paling intim antara manusia dan Tuhannya, kini sering kali hadir dalam bentuk instastory dengan latar musik sendu yang terlalu rapi untuk disebut spontan.

Dalam situasi seperti ini, batas antara spiritualitas dan performativitas menjadi kabur dan pertanyaan yang semula terasa sederhana mulai menemukan kompleksitasnya sendiri:

Apakah kita beribadah untuk mendekat kepada Tuhan,
atau untuk mendekat kepada algoritma?

Puasa pada hakikatnya adalah pengalaman yang sangat personal sebuah praktik spiritual yang berlangsung dalam ruang batin yang nyaris mustahil untuk diakses oleh orang lain tanpa mereduksi maknanya sendiri, sebab lapar tidak memiliki estetika, haus tidak dapat dipoles dengan filter, dan kesabaran tidak pernah kompatibel dengan kebutuhan untuk selalu terlihat baik di hadapan publik.

Tidak seperti salat berjamaah atau zakat yang dapat disaksikan, puasa tidak membutuhkan saksi.

Ramadhan akhirnya tidak lagi menjadi ruang refleksi,
melainkan panggung representasi.

Padahal, makna paling radikal dari puasa bukanlah sekadar menahan makan dan minum, melainkan menunda keinginan dan dalam masyarakat modern yang terbiasa dengan segala sesuatu yang instan, kemampuan untuk menunda adalah bentuk perlawanan yang sering kali luput dari kesadaran kita sendiri.

Menunda lapar.
Menunda amarah.
Menunda hasrat untuk terus membeli.
Menunda kebutuhan untuk selalu terlihat baik di hadapan publik.

Puasa adalah latihan untuk mengatakan: cukup.

Dan dalam dunia yang terus berkata “kurang”, kata itu menjadi semakin asing, bahkan terdengar seperti bentuk kegagalan di tengah budaya yang menjadikan kepuasan sebagai standar utama keberhasilan.

Maka, ketika Ramadhan kembali datang tahun ini, mungkin yang perlu kita tahan bukan hanya rasa lapar, tetapi juga dorongan untuk terus tampil, bukan hanya keinginan untuk makan, tetapi juga keinginan untuk diakui, divalidasi, dan disematkan label saleh oleh audiens yang bahkan tidak pernah benar-benar kita kenal.

Karena bisa jadi, yang selama ini kita puasakan hanyalah tubuh yang kasatmata,
sementara ego tetap kita beri makan setiap hari.

Dan jika itu yang terjadi, maka Ramadhan tidak benar-benar pergi setiap tahun.

Ia hanya tidak pernah benar-benar datang. []

Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bengkel Kata Riset dan Publikasi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *