“Puasa Ayah”

Cerpen : Nurul Jannah*)

“Di dunia yang bising oleh kata-kata, cinta seorang ayah sering bekerja dalam diam.”

Sore Ramadan selalu datang dengan aroma yang hampir sama di kampung kecil itu.

Aroma gorengan dari dapur tetangga. Wangi kolak pisang yang manis. Dan suara piring yang saling bersentuhan ketika orang-orang menyiapkan hidangan berbuka.

Namun di rumah kecil milik keluarga Rafi, suasana selalu terasa sedikit berbeda.

Tidak pernah benar-benar ramai. Tidak pernah benar-benar hangat.

Seolah ada ruang kosong yang tak terucap di antara dinding-dindingnya.

Bagi Rafi, rumah itu sering terasa seperti tempat singgah belaka, bukan tempat pulang. Dan penyebabnya selalu sama. Ayahnya.

*

Ayah Rafi adalah lelaki yang pendiam. Terlalu pendiam bahkan.

Ia jarang bercanda. Jarang bertanya. Dan hampir tidak pernah memuji.

Bagi Rafi kecil dulu, ayahnya terasa seperti tembok.

Keras. Tegak. Sulit ditembus.

Ketika teman-temannya bercerita tentang ayah yang suka mengantar jalan-jalan atau membelikan hadiah, Rafi hanya tersenyum.

Ayahnya bukan tipe seperti itu. Ayahnya bekerja di gudang distribusi beras di pinggir kota.

Setiap hari mengangkat karung-karung berat yang kadang lebih besar dari tubuhnya sendiri.

Pekerjaan yang perlahan membuat punggungnya membungkuk sebelum waktunya.

Namun bagi Rafi remaja dulu, semua itu tidak terasa penting. Yang ia lihat hanya satu hal, bahwa ayahnya tidak pernah benar-benar dekat dengannya.

*

Suatu malam, bertahun-tahun yang lalu, ketika Rafi masih kelas empat SD, ia pernah terbangun karena suara pintu rumah yang terbuka pelan.

Ia mengintip dari balik pintu kamar. Ayahnya baru pulang kerja. Jam menunjukkan hampir tengah malam.

Bajunya penuh debu beras. Ibunya menyambut di dapur.

“Belum makan?” tanya ibu.

Ayah menggeleng.

“Belum.”

Rafi kecil memperhatikan dari balik pintu.

Ketika ibu pergi mengambil air, ayah membuka panci. Di dalamnya ada tersisa sedikit nasi.

Ayah mengambilnya pelan. Lalu makan dalam diam. Tanpa lauk. Gerakannya tenang, seolah itu hal biasa.

Rafi kecil tidak mengerti. Ia kembali tidur. Dan kenangan itu menghilang bertahun-tahun.

*

Ramadan tahun ini datang ketika Rafi hampir lulus kuliah. Suatu sore ia pulang dari kampus dengan perasaan kesal.

Nilai ujian yang ia harapkan ternyata tidak sebaik yang dibayangkan.

Ketika ia membuka pintu rumah, ayahnya sedang duduk di kursi kayu dekat jendela.

Seperti biasa. Diam.

“Sudah pulang,” kata ayahnya datar.

Rafi mengangguk.

Percakapan mereka selalu sesingkat itu. Begitulah cara mereka hidup selama bertahun-tahun. Berbagi rumah. Namun tidak benar-benar berbagi hati.

Menjelang berbuka, ibu memanggil dari dapur.

“Rafi, panggil ayahmu. Sudah mau adzan.”

Rafi berjalan ke ruang depan. Ayahnya masih duduk di kursi yang sama.

Namun kali ini Rafi melihat sesuatu yang berbeda. Ayahnya memegang selembar kertas kecil.

Ia menatapnya lama. Seolah sedang menghitung sesuatu dengan sangat hati-hati.

“Ayah?”

Ayahnya sedikit terkejut.

“Sudah adzan?”

“Belum.”

Ayah segera melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam dompet.

Gerakannya cepat. Seolah tidak ingin terlihat. Namun beberapa menit kemudian, ketika ayah pergi berwudu, dompet itu tertinggal di meja.

Rafi tidak tahu kenapa. Tangannya tiba-tiba mengambilnya. Ia membuka lipatan kertas kecil itu. Dan ketika membaca isinya, napasnya terasa berhenti.

Tulisan tangan ayahnya kasar dan tampak tidak beraturan. Tapi terbaca jelas di mata Rafi.

Beras 5 kg; untuk Rafi
Buku kuliah; bulan depan
Sepatu baru; nunggu gaji lembur cair.
Kebutuhan kuliah Rafi; segera diusahakan, jangan sampai dia malu di kampus.

Di bagian bawah kertas itu ada satu kalimat kecil.

“Tidak apa-apa kalau saya makan sedikit saja.”

Dadanya terasa seperti dipukul godam keras.

Ingatan lama tiba-tiba kembali.

Sepatu yang pernah ia minta. Tas kuliah yang tiba-tiba bisa dibeli. Dan satu kenangan yang baru sekarang ia pahami.

Saat ia masuk kuliah dulu, ayah pernah berkata,

“Kuliah saja yang serius.”

Padahal saat itu mereka hampir tidak punya uang.

Beberapa hari kemudian, sepeda motor tua ayah tiba-tiba tidak ada di rumah.

“Ayah jual motor?” tanya Rafi waktu itu.

Ayah hanya menjawab singkat,

“Sudah tua.”

Sekarang Rafi akhirnya mengerti. Motor itu bukan rusak. Motor itu dijual, untuk biaya kuliahnya.

*

Beberapa hari kemudian, tepat di hari Senin, kecelakaan kecil terjadi di gudang beras tempat ayah Rafi bekerja.

Seorang tetangga datang ke rumah dengan wajah panik.

“Pak Hasan hampir pingsan di gudang!”

Rafi langsung berlari ke sana. Gudang itu besar dan pengap.

Karung-karung beras menumpuk tinggi seperti dinding putih. Ayahnya terduduk di lantai. Keringat membasahi wajahnya.

Tubuhnya gemetar.

“Kenapa tidak makan?” tanya Rafi panik.

Ayah tersenyum kecil.

“Puasa.” Rafi tahu, ayahnya memang sering menjalankan puasa Sunnah.

Namun melihat ayahnya seperti itu, dadanya terasa sesak.

Ia menatap tumpukan beras di sekelilingnya. Puluhan ton beras.

Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Rafi. Ia berjongkok di lantai gudang. Menangis seperti anak kecil. Di antara karung-karung beras yang selama ini diangkat ayahnya demi hidup mereka.

*

Malam takbiran datang. Suara takbir menggema dari masjid-masjid.

Rafi duduk di teras bersama ayahnya.

Lama mereka diam.

Akhirnya Rafi berkata pelan,

“Ayah… maafkan aku.”

Ayah menoleh.

“Untuk apa?”

“Dulu aku pernah bilang ayah pelit.”

Ayah tersenyum kecil.

“Itu sudah lama.”

“Tapi aku baru mengerti sekarang.”

Rafi menatap ayahnya dengan mata basah.

“Ayah tidak pelit.”

Ia berhenti sejenak.

“Ayah hanya tidak pernah mengambil bagian yang seharusnya ayah makan.”

Ayah terdiam. Lalu berkata pelan,

“Orang tua itu sederhana, Fi.”

“Sederhana bagaimana Ayah?”

Ayah menatap halaman rumah yang gelap.

Lalu berkata pelan,

“Kalau anaknya kenyang… dia ikut kenyang.”

Kalimat itu sederhana. Namun bagi Rafi, rasanya seperti sebuah pintu lama yang selama ini terkunci di dadanya tiba-tiba terbuka, dan dari baliknya mengalir semua hal yang selama ini tak pernah ia pahami tentang ayahnya.

*

Malam itu, sebelum tidur, Rafi menulis di buku catatannya.

“Sebagian lapar berakhir saat berbuka. Namun lapar seorang ayah berakhir cukup dengan melihat anaknya kenyang.”

Dan saat menutup buku itu, Rafi menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa sesak.

Selama ini ayahnya ternyata bukan hanya berpuasa di bulan Ramadan. Ayahnya, berpuasa di sepanjang hidupnya.

Selama bertahun-tahun Rafi mengira rumah mereka miskin. Ternyata yang ada hanyalah seorang ayah yang terlalu sering mengalah. Seorang ayah yang diam-diam rela menukar laparnya dengan masa depan anaknya.

Dan Rafi akhirnya mengerti sesuatu yang membuat hatinya bergetar: di antara butir-butir nasi yang ia makan selama ini, ada puasa panjang ayahnya yang ikut tertelan.🙏

Bogor, 11 Maret 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *