SATU INDONESIA

Oleh: Nurul Jannah*)

“Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau…”

Lagu itu kembali terdengar menjelang 28 Oktober. Begitu akrab sejak kecil, tetapi hari ini terasa berbeda. Di tengah negeri yang semakin ramai oleh perbedaan pendapat, kita seperti diingatkan pada satu pertanyaan: masihkah kita merasa bersaudara?

Hampir seabad lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul.

Mereka datang membawa bahasa ibu, adat, dan latar belakang yang berbeda. Indonesia bahkan belum merdeka. Namun, mereka telah berani mencintai sebuah bangsa yang sedang diperjuangkan kelahirannya.

Satu tanah air. Satu bangsa. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Mereka tidak menunggu Indonesia merdeka untuk bersatu. Mereka bersatu agar Indonesia memiliki masa depan.

Kini, dari Aceh hingga Papua, ribuan pulau membentang. Bahasa Jawa, Sunda, Batak, Minang, Bugis, Dayak, Bali, dan ratusan bahasa daerah lainnya hidup berdampingan. Berbeda adat, budaya, keyakinan, dan tradisi, tetapi bernaung di bawah Merah Putih yang sama.

Baca Juga :  Walikota Solok Tandatangani Kerja Sama Pengolahan TPA Regional, Perkuat Sinergi Penanganan Sampah

Betapa indahnya Indonesia. Kita tidak harus serupa untuk merasa satu keluarga.

Namun, lihatlah hari ini.

Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan. Persahabatan merenggang karena perbedaan pilihan. Kata-kata yang dahulu menyatukan, kini kadang digunakan untuk saling melukai.

Seandainya para pemuda 1928 menyaksikan kita hari ini, akankah mereka tersenyum bangga atau justru bertanya mengapa persatuan yang dahulu diperjuangkan begitu mudah dipertaruhkan?

Padahal, Bhinneka Tunggal Ika telah mengajarkan bahwa berbeda bukan berarti berpisah.

Seperti taman yang indah karena beragam bunga, Indonesia tumbuh dari keberagaman. Mawar tidak perlu menjadi melati untuk dapat hidup berdampingan. Begitu pula kita, tidak perlu menghapus jati diri untuk saling mencintai.

Baca Juga :  Raih 5 Medali di Kejurnas, Tinju Sumbar Bidik Tiket PON 2028

Kembali ke 1928. Tanpa kemewahan teknologi dan kemudahan komunikasi seperti sekarang, para pemuda mampu mempertemukan tekad dari berbagai penjuru negeri.

Hari ini, ketika jarak dapat dipangkas oleh teknologi, jangan sampai hati kita justru semakin berjauhan.

Sumpah Pemuda bukan hanya untuk dihafalkan atau diperingati dengan upacara. Ia harus hidup dalam cara kita berbicara, menghormati perbedaan, menolong tanpa memilih asal-usul, dan menjaga persaudaraan meski tidak selalu sependapat.

Persatuan tidak diuji ketika semua sepakat. Persatuan justru diuji ketika kita berbeda, tetapi tetap memilih saling menjaga.

Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, Indonesia adalah rumah besar kita.

Jangan biarkan rumah ini retak oleh ego, prasangka, dan kebencian.

Para pemuda 1928 telah menyatukan mimpi ketika kemerdekaan belum berada dalam genggaman. Jangan sampai kita yang telah menikmati kemerdekaan justru kehilangan keberanian untuk mempertahankan persaudaraan.

Baca Juga :  Jalan Pulang Kabau Sirah

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

Berbeda bahasa, tetap satu suara. Berbeda budaya, tetap satu rasa. Berjauhan pulau, tetap bersaudara.

Karena Indonesia tidak akan runtuh hanya oleh jauhnya jarak antarpulau, tetapi dapat terluka ketika hati anak bangsanya berhenti saling merangkul.

Satu tanah air. Satu bangsa. Satu Indonesia.❤️

Jakarta, 28 Oktober 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *