BEKASI, FOKUSSUMBAR.COM — Semangat Sumpah Pemuda tidak hanya berbicara tentang persatuan, tetapi juga tentang tanggung jawab generasi muda terhadap masa depan bangsa. Pesan itu menjadi salah satu sorotan dalam Seminar Karhutla Care Initiative yang diselenggarakan Badan Eksekutif Siswa Terpadu SMP Islam Terpadu Fitrah Hanniah pada Rabu (28/10/2026).
Mengusung tema “Generasi Muda Peduli Sesama” dan slogan “Dari Generasi Muda, untuk Bumi Kalimantan”, kegiatan ini menghadirkan Faaiz Naufal Syahputra sebagai pemateri untuk membahas ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus pentingnya membangun kesadaran lingkungan di kalangan pelajar.
Pemilihan karhutla sebagai topik edukasi membawa pesan penting: persoalan kebakaran hutan bukan semata-mata urusan api dan kawasan yang terbakar. Dampaknya dapat menjalar ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari kualitas udara dan kesehatan masyarakat hingga keberlangsungan habitat satwa serta keseimbangan ekosistem.
Di tengah tantangan perlindungan lingkungan, pendidikan menjadi salah satu pintu masuk untuk mengenalkan risiko karhutla sejak dini. Pelajar perlu memahami bukan hanya bagaimana kebakaran dapat terjadi, melainkan juga mengapa pencegahan harus menjadi perhatian bersama.
Mengenal Ancaman di Balik Kebakaran Hutan dan Lahan
Karhutla merupakan persoalan lingkungan yang membutuhkan pemahaman lebih dari sekadar melihat api di permukaan. Pada ekosistem gambut, misalnya, kondisi lahan yang mengering dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran. Api bahkan dapat merambat di bawah permukaan sehingga keberadaannya tidak selalu mudah diketahui dan penanganannya menjadi lebih kompleks.
Faktor manusia juga perlu mendapat perhatian. Pembakaran lahan yang tidak terkendali, kelalaian dalam menggunakan api, serta kurangnya kewaspadaan di kawasan rawan kebakaran dapat meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
Karena itu, upaya perlindungan hutan tidak dapat hanya bertumpu pada pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi. Pencegahan, pengawasan, deteksi dini, dan penyebaran informasi yang benar merupakan bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan.
Pemahaman mengenai ekosistem lain, seperti savana, karst, dan mangrove, juga dapat memperluas wawasan generasi muda tentang keberagaman bentang alam Indonesia. Setiap ekosistem memiliki karakteristik dan fungsi ekologis yang perlu dijaga, sehingga perlindungan lingkungan harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi masing-masing kawasan.
Mengapa Generasi Muda Perlu Terlibat?
Keterlibatan pelajar dalam isu lingkungan tidak harus dimulai melalui tindakan besar. Mengenali bahaya pembakaran sembarangan, menyampaikan informasi yang benar, menjaga perilaku di kawasan alam, serta melaporkan indikasi kebakaran kepada pihak berwenang merupakan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan sesuai kapasitas masing-masing.
Sekolah dan organisasi siswa memiliki ruang strategis untuk menumbuhkan kebiasaan tersebut. Melalui kegiatan edukasi, persoalan lingkungan dapat diperkenalkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar materi yang dipelajari di ruang kelas.
Meski demikian, peran generasi muda tetap perlu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab pemerintah, petugas pengendalian kebakaran, pengelola kawasan, dan masyarakat. Perlindungan hutan membutuhkan kerja bersama yang didukung pengetahuan, koordinasi, serta tindakan pencegahan yang berkelanjutan.
Dalam konteks itu, Seminar Karhutla Care Initiative menjadi ruang edukasi untuk menghubungkan kepedulian pelajar dengan tantangan nyata yang dihadapi lingkungan.
Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Menjaga Bumi
Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober mengingatkan bahwa masa depan bangsa berkaitan erat dengan kualitas kontribusi generasi mudanya. Jika dahulu semangat persatuan menjadi kekuatan untuk membangun bangsa, kini semangat tersebut juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
Ancaman karhutla memperlihatkan bahwa kerusakan lingkungan tidak selalu berhenti pada batas geografis tertentu. Dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat luas, sehingga pencegahannya membutuhkan kesadaran dan tanggung jawab bersama.
Melalui tema “Generasi Muda Peduli Sesama”, kegiatan yang diinisiasi Badan Eksekutif Siswa Terpadu SMP Islam Terpadu Fitrah Hanniah ini membawa pesan bahwa menjaga lingkungan juga merupakan bentuk kepedulian terhadap kehidupan orang lain.
Slogan “Dari Generasi Muda, untuk Bumi Kalimantan” pun menegaskan pentingnya memberi ruang kepada generasi muda untuk mengenali tantangan lingkungan dan mengambil bagian dalam upaya menjaga kelestariannya.
Pada akhirnya, masa depan hutan tidak hanya ditentukan oleh tindakan ketika kebakaran terjadi, tetapi juga oleh kesadaran yang dibangun jauh sebelum api muncul. Dari lingkungan pendidikan, kepedulian itu dapat tumbuh menjadi kebiasaan, pengetahuan, dan partisipasi yang memberi arti bagi masa depan Bumi Kalimantan. (*/faaiz)
