Sumpah Pemuda 2026: Memperkuat Komitmen Bersama, Menatap Prestasi Olahraga Sumbar

Oleh Hendri Parjiga*)

Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober bukan sekadar mengenang sejarah persatuan bangsa. Momentum ini semestinya menjadi pengingat bahwa masa depan generasi muda harus diperjuangkan melalui kebijakan nyata, kesempatan berkembang, dan dukungan yang memungkinkan mereka meraih prestasi.

Bagi Sumatera Barat, semangat itu menemukan relevansinya dalam dunia olahraga. Setelah vakum selama delapan tahun sejak Porprov 2018, Sumbar akhirnya menuntaskan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI 2026. Ajang ini menjadi titik kebangkitan sekaligus awal perjuangan untuk mengantarkan atlet-atlet Ranah Minang menuju persaingan nasional.

Namun, di tengah harapan besar tersebut, muncul ironi yang patut menjadi perhatian. Dana hibah untuk KONI Sumatera Barat dalam APBD Perubahan 2026 tercatat nol rupiah.

Angka ini bukan berarti seluruh anggaran olahraga Sumatera Barat nihil. Namun, tidak tersedianya dana hibah untuk KONI melalui APBD Perubahan menjadi persoalan serius ketika daerah sedang menatap target besar pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Sumbar membidik 20 medali emas dan posisi 10 besar pada PON 2028 yang akan berlangsung di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Jakarta. Target yang patut diperjuangkan, tetapi membutuhkan persiapan matang, pembinaan berkelanjutan, serta dukungan pendanaan yang jelas.

Kita ingin atlet Sumbar berprestasi, tetapi bagaimana target besar itu bisa diwujudkan jika dukungan terhadap pembinaan belum sejalan dengan ambisi yang dicanangkan?

APBD Induk 2027, Momentum Menentukan

Tuntasnya Porprov XVI 2026 setelah delapan tahun vakum harus menjadi titik awal pembenahan olahraga Sumatera Barat, bukan sekadar perayaan yang berakhir ketika pertandingan usai.

Porprov telah memberikan kesempatan untuk mengukur hasil pembinaan kabupaten dan kota, menemukan atlet potensial, serta mengevaluasi kekuatan setiap cabang olahraga. Kini, hasil tersebut harus ditindaklanjuti dengan program pembinaan yang terarah.

Atlet peraih medali tidak boleh dibiarkan kehilangan momentum. Mereka membutuhkan latihan berkelanjutan, pelatih berkualitas, kesempatan mengikuti kejuaraan, dan pendampingan yang memadai untuk meningkatkan kemampuan.

Baca Juga :  40 Warga Pandai Sikek Belajar AI dan Affiliate Marketing, Bidik Peluang Ekonomi Digital

Semua itu membutuhkan perencanaan dan pembiayaan.

Karena itu, APBD Induk Sumatera Barat 2027 harus menjadi momentum penting untuk memastikan keberlanjutan pembinaan olahraga. Kita berharap pemerintah provinsi bersama DPRD dan pihak terkait menempatkan kebutuhan tersebut sebagai prioritas yang diperhitungkan secara serius.

Tahun 2027 bukan tahun biasa bagi olahraga Sumbar. Tahun itu menjadi fase krusial menuju PON 2028, ketika atlet harus berjuang melalui rangkaian kompetisi, termasuk Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) dan Babak Kualifikasi PON (BK PON), sesuai jadwal serta ketentuan masing-masing cabang olahraga.

Porwil menjadi kesempatan mengukur kekuatan di tingkat regional, sedangkan BK PON menentukan peluang atlet dan cabang olahraga untuk lolos ke PON.

Artinya, persiapan tidak bisa ditunda hingga mendekati pertandingan. Jika pembinaan terlambat berjalan, kesempatan mengikuti kejuaraan penting dapat terlewat dan peluang meloloskan atlet terbaik semakin berat.

Nol rupiah dana hibah KONI dalam APBD Perubahan 2026 seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan. Jangan sampai persoalan yang sama berlanjut ketika Sumbar memasuki tahun penentuan menuju PON.

Target 20 Emas Jangan Berhenti Menjadi Slogan

Target 20 medali emas dan 10 besar PON 2028 merupakan ambisi besar yang harus diterjemahkan menjadi strategi nyata.

KONI Sumbar bersama pengurus cabang olahraga perlu segera menyusun peta jalan menuju PON berdasarkan hasil Porprov XVI, rekam jejak prestasi, potensi medali, dan kebutuhan pembinaan setiap cabang olahraga.

Cabang olahraga unggulan dan atlet potensial harus dipetakan secara objektif. Program latihan, keikutsertaan dalam kejuaraan, serta kebutuhan pemusatan latihan perlu disusun berdasarkan target yang terukur.

Tidak semua cabang olahraga harus memperoleh alokasi yang sama. Namun, setiap keputusan mengenai prioritas pembinaan mesti didasarkan pada data, kebutuhan, dan peluang prestasi, bukan pertimbangan yang tidak berkaitan dengan peningkatan kualitas atlet.

Baca Juga :  ATR/BPN Daftarkan 110 Bidang Tanah Ulayat, Luasnya Capai 1.059 Hektare

Di sisi lain, pemerintah daerah dan DPRD perlu memastikan bahwa kebijakan anggaran sejalan dengan target yang ingin dicapai.

Kita memahami bahwa kemampuan fiskal daerah terbatas dan pemerintah harus memenuhi banyak kebutuhan masyarakat. Namun, olahraga tidak semestinya dipandang sebagai urusan tambahan yang hanya diperhatikan ketika tersedia anggaran tersisa.

Olahraga merupakan bagian dari pembangunan sumber daya manusia. Di dalamnya terdapat pembentukan karakter, kedisiplinan, daya juang, dan kesempatan bagi generasi muda untuk mengharumkan nama daerah.

Jika targetnya 20 medali emas, harus ada perencanaan yang menjelaskan dari mana peluang medali tersebut diharapkan, atlet mana yang dipersiapkan, serta dukungan apa yang diperlukan.

KONI juga harus menunjukkan profesionalisme melalui program yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dukungan pemerintah perlu diimbangi dengan tata kelola yang baik, evaluasi berkala, serta penggunaan anggaran yang berorientasi pada hasil.

Kerja sama dengan dunia usaha dan pihak ketiga juga perlu diperluas untuk memperkuat pembiayaan pembinaan. Namun, berbagai alternatif tersebut harus menjadi bagian dari strategi bersama, bukan alasan untuk mengabaikan pentingnya perencanaan anggaran daerah.

Sumpah Pemuda Harus Dibuktikan dengan Keberpihakan

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa tujuan besar hanya dapat dicapai melalui persatuan dan kerja nyata. Dalam olahraga, prinsip tersebut menuntut pemerintah, DPRD, KONI, pengurus cabang olahraga, dunia usaha, dan masyarakat bergerak dalam satu arah.

Atlet tidak boleh hanya menjadi pusat perhatian ketika meraih medali, lalu menghadapi ketidakpastian ketika membutuhkan dukungan untuk mempertahankan prestasi.

Mereka telah menginvestasikan waktu, tenaga, dan masa muda untuk berlatih. Mereka layak mendapatkan sistem pembinaan yang memberikan kesempatan terbaik untuk berkembang dan bersaing.

Karena itu, peringatan Sumpah Pemuda 2026 seharusnya menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi komitmen terhadap olahraga Sumatera Barat.

Baca Juga :  Peduli Keselamatan Pengendara, Polisi dan Warga Gotong Royong Bersihkan Tumpahan Solar di Jalan Lintas Sumatera

Kebangkitan setelah delapan tahun vakum tidak boleh berhenti pada keberhasilan menyelenggarakan Porprov. Harus ada kelanjutan berupa pembinaan yang terukur, kepastian program, dan persiapan serius menuju PON.

Kita tidak sedang menuntut jaminan bahwa setiap rupiah anggaran akan menghasilkan medali. Yang dibutuhkan adalah kesungguhan membangun sistem pembinaan yang memberi peluang maksimal bagi atlet untuk berprestasi.

Kini, perhatian harus diarahkan pada APBD Induk 2027. Pemerintah provinsi dan DPRD perlu mempertimbangkan kebutuhan pembinaan olahraga secara serius, sementara KONI harus menyampaikan program dan target yang realistis serta dapat dipertanggungjawabkan.

Nol rupiah dana hibah KONI dalam APBD Perubahan 2026 harus menjadi bahan evaluasi. APBD Induk 2027 harus menjadi kesempatan memperkuat komitmen. Dan PON 2028 akan menjadi panggung pembuktian atas keseriusan seluruh pihak.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukan hanya tentang mengenang keberanian generasi 1928 menyatukan bangsa. Sumpah Pemuda juga tentang keberanian generasi hari ini menyiapkan masa depan.

Porprov XVI telah selesai. Perjuangan menuju PON 2028 justru baru dimulai.

Jangan biarkan kebangkitan olahraga Sumatera Barat kehilangan momentum. Jangan biarkan atlet berjuang sendirian. Dan jangan sampai target 20 medali emas serta 10 besar PON 2028 hanya menjadi slogan karena kita terlambat menyiapkan dukungan.

Sebab, prestasi besar tidak lahir dari harapan semata, melainkan dari keberanian menetapkan prioritas, kesungguhan membiayai pembinaan, dan konsistensi memperjuangkan masa depan atlet. []

Penulis adalah

  • Wartawan Utama
  • Pemimpin Redaksi FokusSumbar.Com
  • Pemimpin Redaksi FokusRiau.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *