Oleh: Nurul Jannah*)
“Armada, kalau suatu hari aku berhenti mengurus semuanya, apakah kamu masih akan mencariku?”
Armada mengangkat wajah dari ponselnya.
“Tentu, Kartika. Kenapa bertanya begitu?”
“Karena belakangan ini kamu lebih sering mencari apa yang belum kukerjakan daripada menanyakan bagaimana keadaanku.”
Armada meletakkan ponselnya. Di meja makan, dua cangkir teh telah dingin.
“Setiap hari aku pulang ke rumah, Kartika.”
“Aku tahu. Tapi kapan terakhir kali kamu pulang untuk menemuiku, bukan hanya untuk beristirahat setelah bekerja?”
“Aku bekerja untuk kita.”
“Aku mengerti.”
Kartika menatap suaminya. Wajah yang dahulu begitu akrab itu kini terasa jauh, meski hanya dipisahkan meja makan.
“Dulu kamu tahu aku sedih bahkan sebelum aku bercerita. Sekarang aku bisa menangis di dapur tanpa kamu menyadarinya.”
Armada terdiam.
“Aku masih mencintaimu, Kartika.”
“Aku ingin merasakannya lagi.”
Dua puluh tujuh tahun sebelumnya.
Hujan mengguyur rumah kontrakan kecil mereka. Atapnya bocor di beberapa tempat. Dua ember diletakkan di bawah tetesan air, sementara listrik tiba-tiba padam.
Kartika memandangi lantai yang mulai basah.
“Armada, rumah kita bocor lagi.”
Armada menyalakan lilin.
“Alhamdulillah, malam ini kita punya kolam renang.”
Kartika tertawa.
“Jangan bercanda. Besok kita harus memanggil tukang.”
“Iya. Tapi malam ini, aku ingin mengajakmu berdansa.”
“Di rumah bocor begini?”
Armada mengulurkan tangan.
“Justru karena bocor. Kalau menunggu rumah sempurna, kapan kita punya waktu untuk bahagia?”
Kartika menyambut tangannya.
“Tidak ada musik.”
Armada menempelkan telapak tangan Kartika ke dadanya.
“Ada. Dengarkan.”
Mereka bergerak perlahan di antara ember dan cahaya lilin. Sesekali Kartika tertawa ketika Armada hampir menginjak genangan air.
“Kalau lelah, bilang, Kartika,” bisik Armada.
“Aku kuat.”
“Aku tahu. Tapi jangan kuat sendirian.”
Armada mengecup keningnya. Kartika memejamkan mata, membiarkan hujan dan detak jantung suaminya mengiringi tarian pertama mereka di rumah itu.
Bertahun-tahun kemudian.
Kartika pulang hampir pukul sembilan malam. Seharian ia menyelesaikan laporan, mengurus keperluan keluarga, dan membantu rekan yang sedang kesulitan.
Armada sedang menonton televisi.
“Kartika, makan malamnya apa?”
“Ada di kulkas.”
“Belum dipanaskan?”
Kartika masuk ke dapur. Ia membuka tutup panci, lalu bersandar pada meja. Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia menghangatkan makanan dan membawanya ke ruang tengah.
“Kamu sudah makan, Armada?”
“Belum. Menunggu kamu.”
“Aku juga belum makan.”
Armada mengangguk, matanya tetap tertuju pada televisi.
Kartika duduk di sebelahnya. Dahulu Armada selalu menggeser duduknya agar bahu mereka bersentuhan. Malam itu, bahkan ketika Kartika mendekat, lelaki itu tak menoleh.
Beberapa hari kemudian, Armada mengajaknya mengunjungi keluarga.
“Aku tidak ikut. Aku lelah,” kata Kartika.
“Istirahat sebentar. Nanti juga segar.”
Kartika menatapnya.
“Armada, kapan terakhir kali kamu bertanya bagaimana hariku?”
“Memangnya ada masalah?”
“Setiap aku bilang lelah, kamu bilang semua orang juga lelah. Setiap aku sedih, kamu bilang jangan terlalu dipikirkan.”
“Aku tidak bermaksud mengabaikanmu.”
“Aku tahu. Tapi lama-lama aku berhenti bercerita.”
Armada meletakkan ponselnya.
“Lalu apa yang kamu inginkan?”
Kartika menarik napas.
“Aku ingin kamu mendengarkan, Armada. Tidak perlu selalu memberi jawaban. Kadang aku hanya ingin bersandar di bahumu setelah hari yang melelahkan.”
Armada memandangnya, tetapi tetap duduk.
“Dan aku ingin kamu memelukku tanpa harus menunggu aku menangis.”
Kartika terdiam, menunggu. Namun tangan Armada tetap berada di pangkuan.
Perlahan Kartika berdiri dan masuk ke kamar.
Keesokan paginya, Armada menemukan secarik surat di meja makan.
Armada,
Aku pergi sebentar. Aku hanya ingin punya waktu untuk diriku sendiri.
Kalau kamu mencariku, semoga bukan karena ada pekerjaan yang belum selesai, melainkan karena kamu merindukanku.
Di dapur, nasi telah matang dan lauk tersimpan di sana.
Armada memandang foto pernikahan mereka di dinding. Dalam foto itu, tangannya menggenggam jemari Kartika erat-erat.
Ia menatap tangannya sendiri. Betapa mudah dahulu ia mengulurkannya kepada Kartika.
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali melakukan hal yang sama tanpa menunggu istrinya lebih dahulu mengulurkan tangan.
Kartika duduk di bangku taman dengan secangkir kopi. Di hadapannya, sepasang lansia berjalan bergandengan. Ketika perempuan itu tertinggal, suaminya berhenti dan menunggu.
Kartika teringat malam ketika Armada mengajaknya berdansa di antara ember penampung air hujan. Saat itu, mereka belum punya banyak hal, tetapi selalu menyisihkan waktu untuk berdua.
Ponselnya bergetar.
“Kartika, kamu di mana?”
Ia belum menjawab.
Pesan berikutnya masuk.
“Aku sudah menyiapkan makan. Rumah aman. Tidak perlu buru-buru pulang.”
Beberapa menit kemudian:
“Maaf. Aku baru sadar, selama ini aku lebih sering membutuhkan bantuanmu daripada mendengarkan ceritamu.”
Lalu pesan terakhir.
“Aku ingin mendengar ceritamu lagi, Kartika. Tentang harimu, tentang hal-hal yang membuatmu tertawa. Aku ingin tahu apa yang selama ini luput dari perhatianku.”
Kartika membaca pesan itu berulang kali.
Ia menyeka pipinya, lalu membalas:
“Aku pulang sore. Tunggu aku.”
Dua bulan kemudian.
Perubahan berjalan perlahan. Armada mulai berbagi pekerjaan rumah. Kartika belajar beristirahat tanpa merasa bersalah. Mereka kembali menyediakan waktu untuk berbicara, meski kebiasaan lama sesekali masih muncul.
Suatu malam, Armada menemukan buku catatan lama Kartika. Di halaman terakhir tertulis:
Kalau suatu hari aku tidak ada, apakah mereka akan merindukanku, atau hanya kehilangan orang yang biasa mengurus semuanya?
Armada menutup buku itu dan mencari Kartika di teras.
“Maaf, Kartika.”
“Untuk apa?”
“Karena aku terlalu bangga memiliki istri yang kuat sampai lupa bahwa kamu juga perlu dijaga.”
Kartika memandangnya.
“Aku tidak ingin kamu terus meminta maaf, Armada.”
“Lalu?”
“Aku ingin kita saling memperhatikan lagi. Seperti dulu, ketika kamu tahu aku sedang sedih hanya dari caraku memanggil namamu.”
Armada menggeser kursinya, lalu merangkul bahu istrinya.
“Aku akan belajar lagi,” katanya. “Tapi jangan berhenti bercerita kepadaku, ya?”
Kartika menyandarkan kepala di dadanya.
Seminggu kemudian, Armada pulang membawa kotak berisi cat air, kuas, dan buku gambar.
“Kamu masih ingat?” tanya Kartika.
“Dulu kamu bermimpi punya gallery lukisan sendiri. Bahkan ingin menggelar pameran tunggal.”
“Itu sudah lama sekali, Armada.”
“Memangnya mimpi punya tanggal kedaluwarsa?”
Kartika menatap suaminya. Ada kehangatan yang perlahan menjalar di dadanya. Ternyata, di antara begitu banyak hal yang terlupakan, Armada masih menyimpan impiannya.
Di dalam kotak terselip kartu kecil.
Untuk Kartika.
Aku masih ingat tawamu ketika membicarakan warna-warna yang ingin kaulukis.
Aku ingin melihat matamu berbinar lagi.
Dan jika kamu mengizinkan, aku ingin jatuh cinta kepadamu sekali lagi, setiap hari, dengan cara yang lebih baik.
Armada
Kartika membaca kartu itu, lalu memeluk suaminya.
“Terima kasih sudah mengingat bagian dari diriku yang bahkan hampir kulupakan,” bisiknya.
Sore harinya, Kartika melukis seorang perempuan yang duduk sendirian di bangku taman.
“Kenapa sendirian?” tanya Armada.
“Dia sedang menikmati waktunya.”
“Tidak mau ditemani?”
“Mau. Asal yang menemani tidak memintanya menjadi apa-apa.”
Armada menarik kursi di sebelahnya.
“Kalau aku duduk di sini, boleh?”
“Boleh. Asal jangan mengatur lukisanku.”
Mereka tertawa.
Armada membuat teh, lalu kembali duduk menemani Kartika melukis. Ketika istrinya sibuk mencampur warna, ia membuka buku dan membaca. Sesekali mereka saling tersenyum.
Keesokan paginya, lukisan itu selesai.
Perempuan di bangku taman masih duduk sendirian, dikelilingi bunga dan cahaya senja.
Di sudut bawah tertulis:
AKHIRNYA BOLEH LELAH.
“Kenapa tetap sendirian?” tanya Armada.
“Karena dia sudah bahagia dengan dirinya sendiri.”
Armada tersenyum.
“Kalau begitu, boleh aku menemanimu di luar lukisan?”
Kartika menatap suaminya. Rambut di pelipis lelaki itu mulai memutih, tetapi matanya masih menyimpan kehangatan yang dahulu membuatnya jatuh cinta.
Ia mengulurkan kedua tangan.
Armada mendekapnya.
Kartika menyandarkan kepala di dadanya. Detak jantung itu mengingatkannya pada musik yang dahulu mengiringi tarian mereka di rumah kontrakan.
“Masih ingat waktu listrik padam?” bisik Kartika.
“Ingat.”
“Dulu kamu mengajakku berdansa di rumah yang bocor.”
Armada tertawa kecil.
“Sekarang atap rumah kita sudah bagus, tetapi aku malah lupa mengajakmu berdansa.”
Kartika tersenyum.
“Kalau begitu, ajak aku lagi.”
Armada mengulurkan tangan.
“Bolehkah aku berdansa dengan perempuan yang telah kucintai selama dua puluh tujuh tahun?”
Kartika menyambutnya. Mereka bergerak perlahan di ruang tamu. Tanpa musik, tanpa lilin, tanpa hujan yang menetes dari atap. Hanya dua orang yang kembali belajar mengikuti langkah masing-masing.
“Aku masih sering salah langkah,” bisik Armada.
“Aku juga.”
“Kalau begitu, kita pelan-pelan.”
Kartika meletakkan kepala di bahunya. “Asal jangan saling melepaskan.”
“Tidak, Kartika. Kali ini aku ingin belajar mengikuti langkahmu.”
Kartika memejamkan mata. Di dada lelaki itu, ia mendengar irama yang sama seperti dua puluh tujuh tahun lalu.
“Armada…”
“Ya?”
“Ternyata musiknya masih ada.”
Armada mengeratkan pelukannya.
“Tidak pernah hilang, Kartika. Aku yang terlalu lama berhenti mendengarkan.”
Sore itu, dua cangkir teh hangat terhidang di teras. Armada yang menyiapkannya.
Kartika duduk di samping suaminya.
“Besok mau melukis lagi?” tanya Armada.
“Mau.”
“Aku temani?”
“Asal tidak banyak bertanya.”
Armada tertawa, lalu menggenggam tangannya.
Beberapa saat kemudian, ia meniup teh Kartika yang masih panas, seperti kebiasaannya pada awal pernikahan mereka.
“Masih panas?”
Kartika tersenyum.
“Sudah pas.”
Armada mengembalikan cangkir itu tanpa melepaskan tangannya.
“Terima kasih sudah pulang, Kartika.”
Kartika menoleh.
“Aku tidak pernah benar-benar pergi, Armada.”
Ia merapatkan jemarinya dalam genggaman suaminya.
“Aku hanya rindu kita yang dulu. Aku hanya ingin kita kembali saling menjaga”
Armada mengecup keningnya.
Di ruang tamu, lukisan perempuan yang duduk sendiri di taman tetap tergantung. Namun di teras, jemari Kartika telah kembali menemukan genggaman yang dahulu selalu menunggunya.
Dan kali ini, mereka tahu: untuk terus berdansa bersama, yang paling dibutuhkan bukan musik, melainkan kesediaan untuk saling mengikuti langkah.❤️
Bogor, 15 Oktober 2026
Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)
