Jejak Sistem di Balik Kata: Membedah Hambatan Morfologi Bahasa

Oleh : Dilla*)

Dalam kehidupan seharai-hari tanpa membuka kamus besar Bahasa Indonesia atau merujuk pada tata bahasa baku, telinga kita akan segera mengetahui kejanggalan yang didengar ketika seseorang berkata, “Saya mau bermandi dulu” atau “Dia sedang bertidur di kamar.”

Hal tersebut memang kita pahami, namu bentuk kata yang digunakan terasa asing dan melanggar kelaziman. Hal ini secara tidak sadar kita mengandalkan intuisi kebahasaan yang kita miliki.

Pertanyaan mendasarnya: jika kata jalan berprefiks ber- menjadi berjalan, dan sepeda menjadi bersepeda, mengapa kata mandi, tidur, atau duduk seolah-olah menolak kehadiran imbuhan yang sama? Fenomena ini membawa kita pada salah satu aspek paling menarik dalam ilmu bentuk kata, yakni restriksi atau hambatan produktivitas morfologis.

Proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia memang sangat produktif, tetapi produktivitas tersebut bukanlah hukum mutlak yang berlaku tanpa batas.

Ketidakterimaan bentuk seperti bermandi, bertidur, atau berduduk dalam sistem kebahasaan dapat dijelaskan melalui dua batasan utama, yakni hambatan semantis dan pemblokiran leksikal.

Baca Juga :  Perkuat Integritas dan Kinerja, Kanwil BPN Sumbar Terima Pembinaan Inspektorat Jenderal ATR/BPN

Secara fungsional, prefiks ber- salah satunya berfungsi membentuk verba yang menyatakan aktivitas. Namun, kata dasar seperti mandi atau tidur sejak awal sudah merupakan verba tindakan inheren yang membawa makna aktif secara mandiri. Menempelkan imbuhan yang memiliki fungsi serupa pada kata dasar yang sudah mengandung makna tindakan justru menciptakan redundansi atau pemborosan makna.

Di samping itu, sistem bahasa mengenal prinsip pemblokiran atau blocking. Prinsip ini menjelaskan bahwa suatu bentuk kata yang secara teoritis mungkin dibentuk, pada akhirnya terhalang untuk hadir karena ruang maknanya sudah terisi lebih dahulu oleh bentuk kata dasar yang ada. Kata mandi sudah cukup kokoh menyampaikan maksud tersebut, sehingga bentuk bermandi secara alamiah terblokir dalam konvensi masyarakat tutur.

Persoalan batasan morfologis ini menjadi kian kompleks ketika kita mengamati bagaimana bahasa Indonesia memperlakukan kata-kata serapan asing. Kita sangat terbiasa mendengar atau membaca kata melobi, mengoordinasikan, atau mensponsori dalam percakapan sehari-hari maupun media massa.

Baca Juga :  M. Junir Terpilih Aklamasi sebagai Ketua PWI Pasaman Barat Periode 2026–2029

Kata-kata tersebut dengan lentur menyatu dengan prefiks dan konfiks bahasa Indonesia tanpa menimbulkan kesan aneh. Namun, eksperimen kecil dengan menerapkan konfiks me-i yang bermakna ‘menjadi pemimpin’ seperti pada kata mengepalai kepada kata serapan direktur atau direktris akan menghasilkan bentuk mendirekturi atau mendrektrisi.

Bentuk tersebut seketika membuat penutur jati bahasa Indonesia merasa risih. Hal ini terjadi karena kata serapan memiliki karakteristik struktur bunyi, pola suku kata, serta fungsi rujukan sintaksis yang tidak selalu harmonis dengan kaidah pengimbuhan lokal.

Bahasa Indonesia lebih memilih konstruksi frasa seperti menjabat sebagai direktur daripada memaksakannya menjadi bentuk verba berimbuhan. Fenomena ini menegaskan sebuah hakikat penting bahwa bahasa bukanlah kalkulus atau rumus matematika yang kaku.

Dalam matematika, dua ditambah dua akan selalu menghasilkan empat tanpa terkecuali. Namun dalam bahasa, keberterimaan suatu bentuk kata tidak hanya ditentukan oleh rumus penggabungan imbuhan dan kata dasar, melainkan juga melibatkan interaksi dinamis antara struktur bunyi, kelogisan makna, sejarah pemakaian, serta kebiasaan masyarakat dalam menggunakannya.

Baca Juga :  Harumkan Nama Sekolah, Guru dan Murid SMPN 18 Padang Borong Medali di Ajang Porprov XVI Sumbar 2026

Kepekaan kita sebagai penutur dalam menolak kata bermandi atau mendirekturi sebenarnya terbentuk dari proses panjang menginternalisasi konvensi sosial kebahasaan. Pada akhirnya, mempelajari morfologi bukan sekadar menghafal deretan awalan dan akhiran, melainkan menyadari bahwa di balik kata-kata sederhana yang kita ucapkan setiap hari, ada sistem yang bekerja secara senyap, menjaga agar bahasa tetap bernalar, teratur, dan indah didengar.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UNP Jurusan Penddikan Bahasa dan Sastra Indonesia Tahun Ajaran 2026/2027 *)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *