Rezeki

Oleh: Nurul Jannah*)

Kita sering begitu sibuk mengejar apa yang belum dimiliki, hingga lupa memeluk apa yang masih ada. Padahal, tidak semua yang berharga datang dengan harga, dan tidak semua kehilangan dapat ditebus dengan uang.

“Aku lelah menjadi orang yang selalu merasa kurang.”

Kalimat itu meluncur dari bibir Dinda sebelum kopi di hadapannya sempat disentuh. Sahabatku sejak SMA itu datang dengan wajah kusut dan mata yang kehilangan cahaya ceria. Biasanya, dialah yang paling pandai membuat kami tertawa, bahkan ketika hidup sedang tidak ramah.

“Aku kerja dari pagi sampai malam, tetapi uang seperti cuma numpang lewat,” keluhnya. Ia menyebut biaya sekolah anak, cicilan rumah, kebutuhan dapur, dan pengeluaran tak terduga datang terus tanpa permisi.

Semalam, foto liburan teman-temannya memenuhi layar telepon, membuatnya bertanya-tanya kapan ia bisa menikmati hidup seperti mereka. “Apa aku kurang bekerja keras, ya?” tanyanya.

Aku menggeser sepiring pisang goreng ke arahnya. “Din, bukankah bulan lalu cicilanmu sudah lunas?” tanyaku.

Ia mengangguk, lalu tersenyum hambar. “Iya, tetapi belum sempat lega, sudah ada kebutuhan lain yang menunggu.”

Dinda menatap keluar jendela, mengikuti gerimis yang mulai membasahi jalan. “Kemarin anakku mengajak main, tetapi aku malah membentaknya karena sedang dikejar pekerjaan,” katanya.

“Aku mencari uang supaya dia bahagia, tetapi akhir-akhir ini dia justru sering melihat ibunya marah.”

Aku terdiam, lalu teringat masa SMA kami. Dahulu, kami pernah patungan membeli semangkuk bakso dan berebut siapa yang mendapat potongan terakhir. “Dulu kita miskin uang jajan, tetapi kaya bahan tertawaan,” kataku. Dinda tertawa kecil, dan untuk sesaat aku melihat sahabat lamaku kembali.

Baca Juga :  PPS Sakato Semen Padang Raih 1 Emas dan 4 Perunggu di Porprov XVI Sumbar 2026

Tawa itu mendadak terhenti ketika teleponnya menyala. Tiga panggilan tak terjawab dari ibunya masih terpampang di layar.

“Ibu menelepon semalam, tetapi aku sedang sibuk, jadi tidak kuangkat,” katanya. Ia mengusap layar dengan ibu jarinya, seolah ingin menghapus rasa bersalah yang mulai mengusik.

“Ayahmu dulu juga sering menelepon, kan?” tanyaku hati-hati.

Dinda mengangguk dan membuka sebuah rekaman suara yang disimpannya sejak ayahnya meninggal. Dari pengeras suara terdengar suara lelaki tua yang lembut, “Sudah makan belum, Nduk? Jangan pulang terlalu malam, ya.”

Dinda mematikan rekaman sebelum suara itu selesai. Ia menunduk, dan tetiba tampak air matanya jatuh. “Telepon terakhir Ayah tidak kuangkat karena aku sedang ada deadline,” katanya setelah cukup lama terdiam.

“Aku pikir nanti malam bisa menelepon balik, tetapi malam itu Ayah sudah dibawa ke rumah sakit.”

Aku meraih tangannya dan membiarkan ia menyelesaikan ceritanya. Ada penyesalan yang tak membutuhkan nasihat, hanya telinga yang bersedia mendengar.

Dinda menatap daftar panggilan ibunya sekali lagi. “Aku takut mengulang penyesalan yang sama,” bisiknya.

“Kalau begitu, mau menelepon Ibu sekarang?” tanyaku.

Dinda menggeleng. Ia masih menimbang pekerjaan yang sedang menunggunya. “Aku ingin datang langsung, tetapi masih ada laporan yang harus kuselesaikan,” jawabnya.

Baca Juga :  Kabupaten Solok Raja Bulutangkis Porprov XVI Sumbar, Sabet Tiga Emas

Kami membuka kalender di teleponnya, mencari celah di antara jadwal yang selama ini terasa tak memberi ruang.

Belum selesai kami berbicara, sebuah pesan masuk dari ibunya. “Nduk, Ibu masak sayur asem kesukaanmu.”

Dinda menunjukkan pesan itu, lalu menatapku dengan senyum yang berbeda. “Aku pulang ke rumah Ibu sekarang saja, ya?”

Aku mengangguk sambil menunjuk kopinya yang masih tersisa. “Kopimu belum habis,” godaku.

“Tidak apa-apa, nanti minum teh hangat di rumah Ibu,” jawabnya sambil meraih tas.

Sebelum pergi, ia memelukku, “Terima kasih sudah mau mendengar keluhanku yang berantakan.”

Sore harinya, teleponku berbunyi. Dinda mengirim foto semangkuk sayur asem, ikan goreng, sambal, dan ibunya yang tersenyum di ujung meja. “Ibu tadi bilang sudah lama tidak makan bersamaku begini,” tulisnya.

Aku membalas singkat, “Pasti sayur asemnya enak sekali.”

Beberapa menit kemudian, pesan suara Dinda menyusul. Ia bercerita telah meminta maaf karena sering terburu-buru menjawab telepon ibunya.

“Ibu bilang, kalau capek, pulang saja ke sini, tidak usah menunggu punya waktu luang,” tuturnya. Di belakang suaranya terdengar sang ibu mengingatkan agar ia membawa pulang lauk untuk cucunya.

Malam itu, Dinda kembali mengirim pesan. Ia baru selesai membacakan buku untuk anaknya dan berjanji akan melanjutkan cerita esok malam.

“Uangku belum bertambah, pekerjaan juga masih banyak, tetapi hari ini rasanya aku bisa bernapas,” tulisnya.

Aku membaca kalimat itu sambil membayangkan wajah kecil yang tertidur bahagia di samping ibunya, dengan buku terbuka di samping bantal.

Baca Juga :  Di Tengah Kesibukan Porprov, Hamdanus Jenguk yang Sakit dan Takziah ke Dua Keluarga Berduka

Lama aku memandangi pesan terakhirnya. Dinda masih memiliki banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, dan perjuangannya belum selesai hanya karena satu hari yang hangat. Namun, di tengah kesibukan yang nyaris menenggelamkannya, ia menemukan kembali waktu bersama ibu, pelukan anak, dan ruang untuk bercerita kepada sahabatnya. Hari itu, rezeki Dinda tidak bertambah dalam rekening, tetapi terasa begitu penuh di hatinya.

Ada memang rezeki yang bisa kita hitung dengan angka, namun ada pula yang tak pernah tercatat di mana pun. Suara ibu yang masih bisa kita dengar, tangan anak yang masih mencari genggaman, dan sahabat yang menyediakan waktu ketika dunia terasa terlalu bising.

Kelak, ketika hari-hari itu tinggal kenangan, yang kita rindukan belum tentu kemewahan yang gagal kita miliki. Bisa jadi, justru semangkuk sayur asem, sebuah panggilan sederhana, dan suara yang dahulu berkata, ‘Sudah makan, Nduk?’❤️

Jakarta, 11 Oktober 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *