Oleh: Nurul Jannah*)
Ada suara yang telah berhenti, tetapi nasihatnya tak pernah mati. Ada langkah yang telah terhenti, tetapi jejak cintanya terus hidup di hati.
Ahad pagi, 18 Oktober 2026, pukul 07.45 WIB, kabar duka datang dari Jakarta. Prof. KH Syukron Makmun, ulama kharismatik yang dikenal sebagai Singa Podium, wafat setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah akibat gangguan jantung. Beliau kemudian dimakamkan di lingkungan Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Sugeng kondur, Kyai. Langit dakwah Indonesia hari ini kehilangan salah satu suara yang begitu dicintainya.
Lahir di Sampang, Madura, 21 Desember 1941, beliau tumbuh dalam keluarga yang mencintai ilmu agama. Menimba ilmu di Gontor, berguru kepada para ulama, lalu mengabdikan hidup untuk dakwah dan pendidikan. Dari mimbar ke mimbar, dari ruang-ruang pesantren hingga pelosok negeri, suaranya menggema, mengetuk nurani, membangunkan hati yang lama terlelap.
Namun, keagungan seorang kiai tak diukur dari seberapa lantang suaranya mengguncang mimbar, melainkan dari seberapa dalam ilmunya berakar dan seberapa jauh kebaikannya menjalar.
Pondok Pesantren Daarul Rahman menjadi prasasti cinta beliau kepada ilmu, agama, dan masa depan generasi penerus. Di sanalah ilmu ditanam, akhlak ditumbuhkan, dan pengabdian diwariskan. Sebab, guru yang sejati tak pernah benar-benar pergi. Ia terus hidup dalam setiap ilmu yang diamalkan dan setiap kebaikan yang diteruskan murid-muridnya.
Hari ini, keluarga kehilangan sosok tercinta. Para santri kehilangan guru. Umat kehilangan ulama yang telah membersamai perjalanan panjang negeri ini.
Betapa pilunya sebuah mimbar ketika suara yang dahulu menghidupkannya tak lagi terdengar. Betapa harunya sebuah pesantren ketika sang guru telah tiada, sementara ilmu dan nasihatnya masih terasa begitu dekat.
Kyai, dahulu begitu banyak hati datang untuk mendengarkan petuah panjenengan. Kini, mereka menengadahkan tangan, menitipkan rindu kepada langit, dan menyebut nama panjenengan dalam doa-doa yang paling tulus.
Dahulu panjenengan mengajarkan jalan menuju Allah. Kini, doa-doa para santri mengiringi perjalanan panjenengan menghadap sang Ilahi.
Dan, cinta seorang guru tidak dikuburkan bersama jasadnya. Ia tumbuh dalam ingatan, bersemi dalam keteladanan, dan mengalir melalui ilmu yang tak henti diamalkan.
Sugeng kondur, Kyai.
Perjalanan panjang panjenengan di bumi telah usai. Mimbar kini kehilangan suara, tetapi tidak kehilangan cahaya. Pesantren kehilangan sosok guru, tetapi tidak kehilangan arah. Dan umat kehilangan kehadiran panjenengan, tetapi tidak kehilangan warisan cinta dan ilmu yang telah ditanamkan.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf beliau, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menganugerahkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat beristirahat, Kyai.
Panjenengan telah berhenti berceramah, tetapi ribuan hati akan terus menyampaikan pesan-pesan panjenengan.
Memang, kepergian panjenengan membuat bumi terasa lebih sunyi, tetapi justru menjadikan langit lebih ramai oleh doa.
Lahul Fatihah.❤️🤲
Jakarta, 19 Oktober 2026
Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)
