Oleh : Sastri Bakry*)
Kepergian Mak etek tadi malam, 13 Oktober 2026, sungguh membuat hati saya sedih. Air mata saya menitik ketika berdoa di pinggir jenazahnya. Ada rasa sesal, ada rasa bersalah.
Minggu lalu saya dan Zusneli pergi ke RS Hermina ketika dapat berita Mak Etek masuk rumah sakit. Tapi setelah sampai di rumah sakit Mak Etek, demikian kami memanggilnya, tak ada. Rupanya karena kondisi beliau membuat harus pindah ke Rumah Sakit Unand. Mestinya ke RS M Jamil, tapi RS M Jamil penuh.
Saya belajar mengenal apa itu rekaman bukan dari buku, tapi dari tangan Mak Etek. Beliau menggandeng saya masuk ke Musica Studio di Jakarta, studio yang waktu itu seperti Ka’bah bagi penyanyi Indonesia.
Mak Etek mengajarkan saya teknik menyanyi. Mengajarkan saya untuk percaya diri. Maklum waktu itu saya masih remaja. Sejak itu prestasi menyanyi saya terus terasah hingga sekarang meski usia sudah sepuh, lebih 68 tahun.
Dari rekaman ke rekaman, panggung ke panggung, bertanding menyanyi hingga juara Bintang Radio dan ke luar negeri. Tangan Mak Etek melekat jelas dalam perjalanan karir menyanyi saya.
Di lorong studio itu saya bertemu nama-nama yang hanya saya dengar di radio dan televisi: Jamal Mirdad yang gagah, Nuskan Syarif yang berwibawa, Lili Marlen, Hetty Koes Endang, Rama Aiphama, Syam Tanjung dan banyak lainnya.
Saya, El Rancak dan Lily Wahidi, anak perempuan Minang, bisa berdiri sejajar dengan mereka dalam Album Terbaik 10 Lagu Minang karena Mak Etek berkata, “Ini anak- anak saya, Sastri, El dan Lily.” Membuat kami yang masih imut- imut, bangga.
Lalu ada satu lagu yang menjadi ikatan batin kami: Guguak Manyambah. Lagu itu telah dinyanyikan banyak bintang besar, tapi ketika saya menyanyikannya, Mak Etek menatap saya lama dan berkata pelan, “Adinda, penjiwaan Adinda yang paling pas.”
Kalimat itu bukan sekadar pujian. Itu adalah pengakuan seorang maestro kepada muridnya. Kalimat itu yang saya bawa pulang dan saya simpan di dada sampai hari ini.
Kami punya sebuah janji. Sebuah panggung. Saya berjanji akan membuatkan konser khusus, Konser Lagu-lagu pilihan Mak Etek B. Andoeska, menampilkan semua artis binaan beliau. Daftar lagunya sudah kami pilih bersama di lapau kopi, sambil Mak Etek bersenandung pelan. Panggung itu belum sempat berdiri. Lampu panggung itu belum sempat menyala. Mak Etek sudah lebih dulu dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Lagu yang Sejati.
Saya menangis bukan karena janji itu putus, tapi karena saya belum sempat memberi penghormatan saat beliau masih bisa melihatnya. Meski dulu, ketika konser 60 tahun Sastri Bakry, di Hotel Pangeran, saya sempat memberikan penghargaan Pin Emas, kepada 10 tokoh yang berjasa dalam karir saya, tentu saja Mak Etek ada di dalamnya.
Luka terakhir saya masih basah. Pada perhelatan 100 Tahun Jam Gadang, IMLF ke-4, saya mengusulkan nama Mak Etek sebagai juri musikalisasi puisi. Siapa lagi yang lebih pantas? Sertifikatnya bertumpuk, pengalamannya melintasi zaman, dari syair, sastra sampai musik, semua beliau kuasai.
Tapi usulan itu tidak diterima. Bagi yang tidak tahu Mak Etek acuannya hanya formalitas, bukan esensialitas. Saya melihat kesedihan di mata Mak Etek hari itu. Sedihnya bukan karena ditolak, tapi karena rumah literasi tidak mengenali penjaganya sendiri.
Maka hari ini, di hadapan kepergian beliau, saya perbarui janji itu.
Saya akan membuat konser itu, Mak Etek. Bukan lagi sebuah rencana, tapi sebuah tekad. Konser untukmu.
Kepada seluruh anak didik Mak Etek, kepada dunsanak seniman yang pernah berguru pada beliau, mari datang. Mari kita siapkan panggung penghormatan terakhir ini bersama. Biarlah Guguak Manyambah itu kembali menggema, bukan sebagai lagu duka, tapi sebagai doa abadi untuk gurunya. Semoga mimpi ini jadi kenyataan. Plt Kadis Kebudayaan, Ahmad Zaki, sudah menjawab: InsyaAllah
Selamat jalan, Mak Etek.
Al-Fatihah.
Sastri Bakry : Penyanyi, Murid B Andoeska*)
