Oleh : Maifil Eka Putra*)
Dalam dinamika zaman yang terus berubah, umat Islam kini berada pada persimpangan antara tantangan dan peluang. Di satu sisi, dunia menyaksikan kemajuan teknologi informasi, akses pengetahuan yang luas, dan kesadaran global terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Di sisi lain, umat Islam menghadapi arus disinformasi, stigma negatif, konflik internal, serta fragmentasi sosial yang mengancam persatuan dan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam.
Dalam konteks ini, dakwah—sebagai misi menyampaikan ajaran Islam dengan hikmah dan kasih sayang—menjadi lebih penting dari sebelumnya. Dan di tengah semua itu, berbagi bukan hanya sekadar tindakan sosial, melainkan inti dari dakwah yang rahmatan lil ‘alamin.
Islam hari ini tersebar di hampir seluruh penjuru dunia, dengan lebih dari 1,8 miliar pemeluk. Namun, popularitas jumlah tidak serta-merta mencerminkan pemahaman yang utuh dan citra yang positif. Di banyak negara Barat, Islam sering dikaitkan dengan ekstremisme, kekerasan, dan anti-modernitas—stigma yang dibentuk oleh media dan kepentingan politik tertentu. Di dunia Muslim sendiri, perpecahan aqidah, fanatisme kelompok, dan ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi persoalan serius.
Di sisi lain, ada juga tanda-tanda harapan. Generasi muda Muslim semakin aktif dalam membangun komunitas digital yang positif, menyebarkan konten dakwah yang relevan dengan zaman, dan terlibat dalam kerja-kerja sosial lintas agama. Dakwah kini tidak lagi terbatas di masjid atau majelis ilmu, tetapi hadir di media sosial, podcast, buku, seni, bahkan dalam bentuk aksi kemanusiaan.
Namun, tanpa pendekatan yang bijak dan penuh kasih, dakwah bisa berubah menjadi alat polarisasi. Di sinilah pentingnya kembali kepada esensi Islam: rahmat, kasih sayang, dan keadilan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmat itu bukan hanya dalam bentuk kata-kata, tetapi lebih dalam bentuk tindakan nyata—mengasihi, membantu, dan berbagi. Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam berbagi: berbagi waktu, ilmu, harta, kasih sayang, bahkan senyum. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi hidup dari ajaran itu.
Dakwah yang efektif hari ini bukan lagi dakwah yang hanya berdiri di mimbar, tetapi dakwah yang turun ke jalan, masuk ke rumah sakit, hadir di tengah bencana, dan merangkul mereka yang terpinggirkan. Inilah dakwah berbasis berbagi: berbagi makanan dengan fakir miskin, berbagi ilmu dengan anak-anak jalanan, berbagi waktu dengan lansia yang kesepian, dan berbagi harapan dengan mereka yang putus asa.
Ketika seorang Muslim membuka warung makan gratis di tengah musibah banjir, itu adalah dakwah. Saat seorang pelajar Muslim membimbing temannya yang non-Muslim untuk memahami Islam tanpa memaksa, itu adalah dakwah. Ketika seorang ibu mengajarkan anaknya untuk bersikap adil dan jujur, itu juga dakwah. Semua bentuk berbagi yang dilandasi niat ibadah dan cinta kepada Allah adalah dakwah.
Salah satu tantangan terbesar dakwah saat ini adalah prasangka. Banyak orang—baik Muslim maupun non-Muslim—memiliki gambaran keliru tentang Islam. Mereka melihat Islam sebagai agama yang kaku, tidak toleran, atau misoginis. Untuk mengubah persepsi ini, tidak cukup hanya dengan debat atau ceramah. Diperlukan aksi nyata yang menyentuh hati.
Di sinilah kekuatan berbagi. Ketika seorang Muslim memberi makan orang kelaparan tanpa memandang agama, ketika membantu korban bencana tanpa membedakan suku, ketika membela hak perempuan dalam naungan syariat dengan penuh kasih—maka di situlah Islam ditampilkan dalam wajah yang paling asli: agama rahmat.
Berbagi menjadi jembatan antara perbedaan. Ia menghancurkan tembok ketakutan dan membangun jalan dialog. Dalam konteks multikultural seperti Indonesia, berbagi antarumat bukan sekadar toleransi, tetapi wujud nyata dari iman yang hidup.
Mendakwahkan Islam dengan Hati
Dakwah yang hanya mengandalkan logika tanpa empati sering kali gagal menyentuh jiwa. Orang tidak tertarik pada Islam karena banyak hujah, tetapi karena mereka merasakan kehadiran kasih dari seorang Muslim. Maka, dakwah harus dimulai dari hati, dan diwujudkan dalam tindakan berbagi.
Mari kita bayangkan: jika setiap Muslim di dunia berkomitmen untuk berbagi satu kebaikan per hari—entah itu senyum, makanan, doa, atau ilmu—maka dalam sehari, jutaan kebaikan akan menyebar. Dan dari kebaikan-kebaikan itulah, benih dakwah tumbuh tanpa suara, namun menggetarkan hati.
Islam tidak pernah mengajarkan hidup untuk diri sendiri. Kita diciptakan bukan hanya untuk menyembah Allah, tetapi juga untuk menjadi rahmat bagi sesama. Di tengah situasi global yang penuh ketegangan, umat Islam dituntut untuk menjadi agen perdamaian, bukan konflik; agen pemberi harapan, bukan keputusasaan.
Maka, marilah kita kembali kepada sunnah Rasulullah: berbagi. Berbagi bukan karena ingin dipuji, tetapi karena cinta kepada Allah dan makhluk-Nya. Berbagi bukan sekadar sedekah, tetapi bentuk dakwah yang paling tulus. Karena sesungguhnya, dakwah yang paling kuat adalah ketika diam pun tetap berbicara melalui kebaikan.
Di akhir zaman yang penuh ujian, janganlah kita hanya menjadi penonton. Jadilah pelaku: pelaku kebaikan, pelaku perdamaian, pelaku dakwah yang penuh kasih. Karena di setiap genggam roti yang dibagikan, di setiap tetes air yang diberikan, di setiap kata penghibur yang diucapkan—terdapat cahaya Islam yang terus menyinari dunia.
“Barangsiapa yang membantu seorang Muslim dalam kesulitannya, maka Allah akan membantunya dalam kesulitannya.” (HR. Muslim)
Maka, mulailah berbagi. Karena di situlah dakwah sejati dimulai.
Pecinta Dakwah, Pembelajar Seumur Hidup, dan Pemerhati Kemanusiaan*)