Oleh : Sastri Bakry*)
Sebagai pegiat literasi saya banyak memberi dan menerima buku tahun ini. Memberi buku dalam upaya membantu dan memberdayakan rumah baca. Menerima dan membeli buku -mungkin lebih dari seratus- adalah bagian dari saling mengapresiasi karya. Sebagian besar buku tersebut sudah saya baca dan saya reviu bahkan memberi kata pengantar.
Dari sekian banyak buku ada yang menarik bagi saya. Sebuah buku berbahasa Minang berjudul Palajaran Muatan Lokal Kaminangkabauan untuk Kalaih X SMA/SMK/SLB. Buku ini karya Fredrik Tirtosuryo Esoputro, seorang guru SMK Negeri 2 Padang Panjang.
Saya terima buku itu sesaat setelah selesai acara Lomba Menulis Surat untuk Guru dan Murid yang diselenggarakan Perkumpulan Penulis SatuPena Sumbar. Fredrik berhasil menjadi salah seorang pemenang lomba tersebut. Beberapa hari setelah itu baru saya membacanya tuntas.
Buku muatan lokal keminangkabauan ini merupakan sebuah karya yang sangat berharga dalam mengenalkan dan melestarikan budaya Minangkabau. Buku ini membahas tentang berbagai aspek budaya Minangkabau, mulai dari Nilai Dasar Minangkabau, filosofi adat Minang, sejarah Sumpah Sati Bukik Marapalam, nilai-nilai filosofi Sumbang Duo Baleh, hingga kias-kias, seni, warisan, dan pola hidup sehat orang Minang. Hingga cerita asal usul manusia pun diulasnya.
Salah satu hal yang paling menarik dari buku ini adalah pembahasan tentang filosofi adat Minang. Adat Minang merupakan sebuah sistem nilai dan norma yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Filosofi ini mengajarkan tentang pentingnya kesederhanaan, kejujuran, dan kerja keras sesuai norma Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Amalannya akan mucul dalam sikap dan perilaku yang dikenal dengan sumbang duo baleh. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan kehidupan modern saat ini, dan buku ini berhasil mengemasnya dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.
Fredrik tidak tampil sebagai guru tetapi ia muncul sebagai niniak mamak yang dia sebut Sutan Mantari. Sutan Mantari tidak mengajar soal keMinangkabauan tetapi ia bercerita, bertutur kepada anak kemanakannya, sasiannya agar memahami keMinangkabauan.
Selain itu, buku ini juga membahas tentang sejarah Sumpah Sati Bukik Marapalam, yang merupakan sebuah peristiwa penting dalam sejarah Minangkabau. Meski pun soal kebenaran Sumpah Sati Bukik Marapalam ini ada yang meragukan namun Sumpah ini dipercaya merupakan sebuah perjanjian yang dibuat oleh para pemimpin Minangkabau untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan mereka.
Buku ini berhasil mengisahkan peristiwa ini dengan cara yang menarik dan memberikan gambaran yang jelas tentang pentingnya sumpah ini dalam sejarah Minangkabau. Sumpah ini berisi adat yang bersendi agama Islam. Amalannya mengacu Alquran, Hadis, Qiyas dan Ijma. Ada 15 pasal yang mengurai Bai’ah Marapalam/ Undang- Undang Adaik Minangkabau. Bagi yang ingin melihat atau mengkaji isi Sumpah Marapalam ini maka dalam buku ini bisa dibaca fasal- fasal yang melindungi dan mengatur hidup bermasyarakat.
Nilai-nilai filosofi Sumbang Duo Baleh juga dibahas secara mendalam dalam buku ini. Sumbang Duo Baleh merupakan sebuah konsep yang mengajarkan tentang pentingnya kesederhanaan dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan kehidupan modern saat ini.
Selain itu, buku ini juga membahas tentang kias-kias, seni, warisan, dan pola hidup sehat orang Minang. Kisah-kisah yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan masyarakat Minangkabau. Seni dan warisan Minangkabau juga dibahas secara mendalam meski singkat.
Mungkin tidak banyak anak muda bahkan kita yang tua- tua, tahu yang mana daun sitawa, sidingin, sikumpai, cikarang, inggu, kunyik, dan lain-lain yang digambarkan dengan baik oleh Fredrik. Daun- daun sederhana ini sesungguhnya bisa mendorong kita untuk melakukan pola hidup sehat dengan obat kampung. Buku ini berhasil mengemasnya dengan cara yang menarik dan mudah dipahami, bertutur, bahkan melampirkan gambar- gambar dengan rujukan yang cukup banyak.
Fredrik menjelaskan tentang manfaat buku. Ia menulis …untuak mambantu Apak Ibuk guru nan kamaajakan mato palajaran baru ko untuak anak sasiannyo, dalam mancari buku panunjang atau palajaran mato palajaran Kaminangkabauan ko.
Ini adalah upaya Fredrik untuk membangkitkan jati dirinya selaku urang Minang. Kadang orang Minang sendiri tak begitu memahami dan mencintai negerinya.
Dalam keseluruhan, buku muatan lokal keminangkabauan ini merupakan sebuah karya yang sangat berharga dalam mengenalkan dan melestarikan budaya Minangkabau. Buku ini berhasil mengemas berbagai aspek budaya Minangkabau dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. S
aya sangat merekomendasikan buku ini kepada siapa saja, tidak hanya guru, yang ingin mengenal lebih dekat tentang budaya Minangkabau. Bravo Fredrik! []
Ketua DPD SatuPena Provinsi Sumatera Barat*)