Oleh : Findi Permana*)
Subuh di Nagari Simpang tidak pernah sekadar pergantian waktu. Ia adalah ruang hening yang menyimpan denyut kehidupan, ketika embun masih menggantung di pucuk rumput dan kokok ayam bersahut-sahutan menandai dimulainya hari.
Pada saat itulah, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dipanggil untuk belajar, bukan hanya mengajar. Dipanggil untuk menyelami bagaimana iman, tradisi, dan kearifan lokal terjalin dalam keseharian masyarakat nagari.
Salah satu program kerja KKN 51 adalah menghadiri kegiatan didikan subuh di Mushola An Nabawi. Mushola kecil itu berdiri sederhana, dindingnya telah melewati banyak musim, catnya sedikit pudar, namun di dalamnya tersimpan nyala yang tak pernah padam. Jamaah yang hadir bukan sekadar mengisi saf, melainkan menjaga warisan iman yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Teringat saat pagi itu, saya perwakilan mahasiswa KKN turut diberi kesempatan untuk menyampaikan kultum. Sebuah momen yang terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung makna besar. Bagi mahasiswa, KKN seharusnya tidak berhenti pada rutinitas laporan kegiatan atau sekadar menjalankan program yang terdaftar di proposal.
Lebih dari itu, KKN adalah ladang nyata untuk menyentuh kehidupan masyarakat, memahami denyut spiritual mereka, sekaligus ikut menjaga cahaya yang telah lama hidup di nagari. Kesempatan menyampaikan kultum menjadi pembuktian bahwa kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk bekerja di balik meja, tetapi juga untuk hadir di tengah masyarakat, berbagi cahaya yang sederhana namun bermakna.
Ketika kultum dimulai, suasana mushola seakan berhenti bernafas. Kata-kata tentang syukur, tentang pentingnya salat subuh sebagai cahaya yang menuntun hidup, mengalir sederhana. Tidak ada retorika berlebihan, tidak ada panggung besar.
Namun justru dalam kesederhanaan itu, cahaya terasa begitu kuat. Kalimat yang diucapkan mahasiswa tidak berhenti sebagai suara, melainkan menjelma menjadi getar yang menyentuh hati. Momen itu menjadi pelajaran bahwa KKN bukan sekadar kegiatan formal akademik. KKN adalah perjalanan menyalakan dan menerima cahaya.
Mahasiswa datang bukan hanya untuk memberikan, tetapi juga untuk belajar menerima. Belajar dari ketulusan para jemaah yang masih mengantuk namun tetap hadir, belajar dari kesetiaan jamaah yang meski tubuh renta tetap melangkah ke mushola, belajar dari kearifan lokal yang menjaga tradisi didikan subuh sebagai warisan tak ternilai.
Seorang nenek tua, dengan langkah pelan dan mata yang bening, menghampiri usai kultum. Ia menepuk bahuku dan berkata, “Teruslah jadi anak muda yang menjaga cahaya, jangan biarkan padam.” Kalimat itu sederhana, namun menembus ke inti kesadaran.
Kata-kata tersebut seolah menegaskan bahwa cahaya yang disampaikan dalam kultum hanyalah bagian kecil dari cahaya yang lebih besar, yaitu cahaya iman dan tradisi yang telah dijaga masyarakat Nagari Simpang selama bertahun-tahun.
Ketika jamaah bubar, subuh perlahan memberi jalan bagi cahaya pagi. Jalan tanah basah oleh embun, pepohonan basah oleh cahaya keemasan matahari, dan di tengah itu mahasiswa KKN melangkah pulang dengan hati yang berbeda. Program kerja memang berhasil terlaksana, tetapi lebih dari itu, ada sebuah pengalaman spiritual yang tidak dapat ditulis hanya dalam laporan kegiatan.
KKN seharusnya memang demikian, bukan hanya rangkaian kegiatan administratif, melainkan ruang pertemuan antara mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa belajar bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga jiwa kolektif, menjaga cahaya iman, dan menghormati tradisi yang telah lebih dulu berdiri.
Program kerja hanyalah pintu masuk, sedangkan yang sesungguhnya dituju adalah pengalaman hidup yang mengubah cara pandang.
Subuh di Mushola An Nabawi telah memberikan pelajaran itu. Di sana mahasiswa menyadari bahwa inspirasi bisa lahir dari ruang yang kecil, dari doa lirih, dari embun pagi, dari wajah polos anak-anak yang duduk dengan sarung kebesaran. Inspirasi bukan milik panggung besar, melainkan milik mereka yang hadir dengan hati.
Kini, sehelai cahaya subuh di Nagari Simpang bukan lagi milik jamaah yang hadir saja. Ia telah berpindah, menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa KKN 51, menjadi bagian dari kisah pengabdian yang tidak akan hilang dalam ingatan.
Cahaya itu akan dibawa pulang, akan diceritakan kembali, akan menjadi bukti bahwa KKN bukan hanya tentang program kerja, melainkan tentang menyalakan cahaya yang lebih besar, cahaya kebersamaan, cahaya iman, dan cahaya kearifan lokal.
Sehelai cahaya itu tidak akan padam. Ia akan tetap menyala, berpindah dari satu hati ke hati lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia menjadi pengingat bahwa di Nagari Simpang, subuh bukan hanya pergantian waktu, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang menjaga iman dan budaya.
Dan bagi mahasiswa KKN, subuh itu akan selalu dikenang sebagai titik balik: saat pengabdian berubah menjadi penghayatan, saat cahaya nagari ikut menyala dalam dada setiap yang hadir.
Terima kasih untuk pengalaman dan kesempatan, love Nagari Simpang. []
Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, Mahasiswa KKN 51 Nagari Simpang, Kabupaten Pasaman*)