Saat Publik Teralihkan: Bencana Sumatera dan Fakta yang Dikecilkan

1. Ketika Sorotan Publik Bergeser

Baru-baru ini lini masa dipenuhi isu selebritas seperti kasus dugaan perselingkuhan Inara Rusli dan keramaian soal hilangnya tumbler milik Anita Dewi yang viral setelah iamelaporkan peristiwa itu kepada KAI.

Kedua isu tersebut menyita perhatian besar, memicu komentar publik, hingga menjadi topik utama berbagai platform digital.

Namun, pada waktu yang hampir bersamaan, wilayah Sumatra justru sedang berhadapan dengan tragedi besar: banjir dan longsor yang menerjang pemukiman warga.

Ribuan rumah rusak, ratusan hingga ribuan korban terdampak, dan infrastruktur penting lumpuh. Situasi darurat ini seharusnya menjadi sorotan utama.

Pertanyaannya: mengapa perhatian publik lebih tersita pada drama viral ketimbang bencana besar yang menyangkut keselamatan dan masa depan banyak orang?

2. Luka di Sumatra yang tak tersebut di Linimasa

Laporan resmi mencatat bahwa bencana banjir dan longsor akhir November 2025 melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Korban jiwa mencapai ratusan, sementara jumlah pengungsi dan kerugian material terus meningkat. Rumah warga, jembatan, jalan utama, fasilitas kesehatan, dan sekolah mengalami kerusakan berat.

Para pakar dari berbagai institusi, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM), menegaskan bahwa bencana ini bukan semata-mata akibat curah hujan ekstrem. Kerusakan lingkungan yang berlangsung bertahun-tahun telah memperparah dampak banjir.

Data menunjukkan bahwa pada 2016–2025, sekitar 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hilang akibat pembukaan lahan untuk perkebunan, tambang, dan alih fungsi lahan lainnya.

Hilangnya tutupan hutan membuat daerah hulu sungai kehilangan kemampuan alami untuk menahan air, sehingga banjir dan longsor menjadi lebih destruktif.

Dengan kata lain, ini bukan bencana alam murni, tapi bencana ekologis yang turut diciptakan oleh manusia.

3. Distraksi Publik

Ketika ruang digital dipenuhi drama selebritas dan isu sepele yang viral, tragedi besar seperti bencana Sumatra justru tenggelam dari perhatian publik.

Konsekuensinya serius:

• Pembahasan tentang penyebab kerusakan lingkungan dan tanggung jawab pihak tertentu tidak muncul ke permukaan.

• Tekanan publik terhadap pemerintah dan korporasi melemah.

• Diskusi mengenai mitigasi bencana, tata ruang, dan rehabilitasi alam menjadi minim.

• Kesempatan untuk belajar dari bencana dan mendorong perubahan kebijakan hilang begitu saja.

Pada akhirnya, kita berisiko mengulangi kesalahan yang sama, hingga bencana berikutnya kembali datang dan kembali kita tidak siap.

4. Mengurai Akar Masalah

Di tengah maraknya isu viral, masyarakat seharusnya kembali mengingat hal yang jauh lebih penting: nyawa manusia, lingkungan yang rusak, dan masa depan wilayah Sumatra.

Ada beberapa langkah yang perlu terus disuarakan:

• Mengembalikan perhatian publik pada korban dan dampak bencana.

• Menolak terjebak dalam distraksi viral yang menutupi masalah struktural.

• Mendorong pemerintah dan perusahaan untuk lebih transparan dalam izin lingkungan, tata ruang, dan pengawasan.

• Menggalakkan rehabilitasi hutan dan pengendalian alih fungsi lahan.

• Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk terlibat, membantu korban, dan mendukung kebijakan yang pro-lingkungan.

Karena perhatian publik bukan hanya soal viral, tapi soal arah perubahan suatu bangsa.

5. Ajakan Refleksi

Di tengah kebisingan isu-isu hiburan, jangan sampai kita melupakan tragedi nyata yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra. Publik memiliki kekuatan besar: bukan hanya untuk membuat isu viral, tetapi untuk mendorong keadilan ekologis, memperjuangkan kemanusiaan, dan memastikan bencana seperti ini tidak berulang.

Jika kita peduli hari ini, kita sedang menyelamatkan masa depan. Kalau kita bersuara bersama, tak ada lagi bencana yang harus “dikalahkan” oleh drama di linimasa. []

Tentang Penulis:

Mulya Ayu Lestari adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab di UIN Imam Bonjol Padang, Memiliki ketertarikan pada isu sosial, lingkungan, dan dinamika masyarakat. Tulisan ini merupakan bagian dari upaya pribadinya untuk belajar menulis dan menyuarakan kepedulian terhadap kondisi sekitar.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *