Aku Tidak Marah, Aku Sudah Sampai di Tahap Mengerti

Oleh : Nurul Jannah*)

Aku tidak marah. Kalimat itu tidak lahir dari dada yang lapang, melainkan dari lelah yang akhirnya berserah. Dari satu titik ketika aku berhenti meminta penjelasan kepada manusia, dan mulai menyerahkan seluruh jawaban kepada Allah.

Aku hanya seorang hamba. Datang ke dunia dengan niat baik, mencintai dengan cara paling jujur yang aku mampu. Namun berulang kali harus pulang dalam keadaan luka, karena terlalu percaya manusia mampu menjaga hati sebagaimana mestinya.

Mereka yang melukaiku bukan orang jahat. Mereka hanyalah manusia, sepertiku, dengan ego yang belum jinak, ketakutan yang belum selesai, dan mungkin doa-doa yang masih tertahan di tenggorokan, belum benar-benar sampai ke langit.

“Maaf, aku tidak bisa menjadi seperti yang kamu harapkan,” ucap Shinta, suatu hari.

Aku terdiam. Karena untuk pertama kalinya aku benar-benar mengerti bahwa manusia memang tidak diciptakan untuk menyembuhkan manusia lain.

Ketika Marah Kehabisan Suara

Pernah aku marah. Marah karena merasa diperlakukan tidak adil. Marah karena sudah menjaga, tetapi tetap disakiti. Marah karena berharap manusia berlaku sebagaimana yang diajarkan Allah.

Namun perlahan aku sadar, marah adalah api. Ia mungkin menghangatkan di awal, tetapi jika dipelihara, ia membakar dari dalam. Pelan, senyap dan menghabiskan siapapun yang ada.

Dan dari situlah aku memahami bahwa amarahku sesungguhnya bukan kepada mereka, melainkan kepada takdir yang belum aku terima dengan utuh.

Saat Sujud Menjadi Tempat Pulang

Ada satu malam ketika aku bersujud lebih lama dari biasanya. Tidak ada kalimat indah yang kupersiapkan. Tidak ada tuntutan yang ingin kuajukan. Hanya satu bisikan lirih yang jatuh dari dadaku ke sajadah: “Ya Allah… aku capek.”

Kalimat itu tidak berteriak, tetapi langit mendengarnya. Dan sejak detik itu, amarah perlahan seperti dilepaskan, digantikan oleh pemahaman yang tidak ribut. Namun menenangkan.

Aku mengerti, jawaban tidak kutemukan di keramaian. Ia datang di ruang paling sunyi. Di antara dahi yang menyentuh sajadah, di sela air mata yang tidak lagi meminta dunia berubah.

Di ruang itu aku paham, Allah sejatinya tidak sedang menghukumku. Ia justru sedang melepaskanku dari ketergantungan pada manusia.

Mengapa Aku Memilih Mengerti

Karena Allah Maha Mengetahui, sementara manusia sering bahkan belum selesai mengenal dirinya sendiri.

Mengerti membuatku berhenti menuntut. Mengerti membuatku berhenti berharap pada hati yang belum pulih.

Aku tidak lagi bertanya, “Mengapa mereka melakukan ini padaku?”

Tetapi, aku mulai bertanya, “Apa yang sedang Engkau bersihkan dari hatiku, ya Rabb?”

Dan jawabannya datang dalam diam. Ia hadir saat semuanya dilepaskan satu per satu. Keinginan untuk selalu dipahami, harapan untuk terus dibenarkan, dan ambisi untuk menang di mata manusia.

Saat Aku Belajar Berserah

Pujeng, sahabatku, pernah bertanya dengan heran, “Kamu sekarang nampak tenang sekali.”

Aku tersenyum kecil. “Karena aku sudah berhenti memikul urusan yang bukan bagianku.”

Aku belajar bahwa memaafkan tidak selalu berarti kembali. Bahwa mengerti tidak menuntut pertemuan ulang. Dan, bahwa damai adalah karunia Allah yang datang saat kita berhenti menggenggam apa yang tidak ditakdirkan untuk tinggal.

Aku tidak marah.
Aku hanya sedang berserah diri.

Jika hari ini aku memilih diam, itu karena aku percaya bahwa Allah tidak pernah keliru mengatur siapa yang datang, dan siapa yang harus pergi.

Aku mengerti. Dan di dalam pengertian itu, aku akhirnya pulang, kepada Allah, yang sejak awal tidak pernah menjauh, meski aku sering mencari-Nya di tempat yang salah.❤‍🔥🌹🎀

Jakarta, 3 Januari 2025

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Exit mobile version