Cerpen : Nurul Jannah*)
Di antara deadline dan doa, integritas akhirnya menemukan jalannya
Langit sore itu menggantung pucat di atas kampus. Azan Maghrib tinggal satu jam lagi.
Ruang dosen masih menyala. Di sudut meja, setumpuk proposal tugas akhir tergeletak seperti saksi bisu perjuangan banyak mimpi. Mimpi yang lahir dari begadang panjang, kopi pahit, dan doa yang sering tak terdengar.
Satu paragraf di proposal mahasiswa bimbingan bernama Raka, terasa ganjil. Bu Hana menatap layar laptopnya lebih lama dari biasanya. Keningnya berkerut. Paragraf-paragraf itu berkilau rapi. Terlihat sangat rapi. Terlalu “sempurna” untuk seorang mahasiswa yang tiga pekan terakhir selalu datang dengan mata cekung dan tangan gemetar.
Ia klik satu kalimat.
Ia salin.
Ia cari.
Dan seperti petir yang menyambar tanpa suara, layar menampilkan dokumen asli. Identik. Persis sama. Tanpa celah. Sebagian besar diambil dari jurnal luar negeri.
Bu Hana memejamkan mata sejenak. Tidak terlihat amarah di sana. Ia nampak sedang menimbang: di balik plagiarisme, sering kali ada manusia yang sedang tenggelam dan tak tahu cara berenang kembali.
- Raka duduk di koridor depan ruang dosen. Ia dipanggil menghadap Bu Hana, dosen pembimbingnya.
Keringat dingin membasahi pelipisnya meski AC menyala. Ia tahu. Ia sadar betul kenapa ia dipanggil bu Hana.
Tiga minggu terakhir hidupnya terasa runtuh.
Ayahnya sakit.
Biaya rumah sakit menumpuk.
Ia bekerja paruh waktu setiap malam.
Proposal penelitiannya tak kunjung selesai.
Saat deadline mendekat, ia memilih jalan yang paling singkat.
Copy.
Paste.
Ubah sedikit.
Kirim.
Dan berharap dosennya tidak menyadari. Namun Ramadan selalu punya cara membuka yang tersembunyi. Ramadan adalah bulan yang tak mudah ditipu, bahkan oleh manusia yang putus asa.
*
“Raka.”
Suara itu memanggil dari dalam ruang.
Raka berdiri. Gemetar.
Kakinya terasa bukan miliknya.
Bu Hana tidak mempersilakannya duduk. Layar laptop diputar menghadapnya.
Kalimat itu menyala seperti bor yang menembus dada: Similarity: 68%.
Tenggorokan Raka kering.
“Ini punyamu?” tanya Bu Hana pelan.
Raka menatap angka itu. Dan pada detik itu ia tahu, kebohongan tak lagi punya tempat bersembunyi.
“Bukan, Bu…” suaranya nyaris tak terdengar.
“Sebagian… saya ambil….” Raka tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Sunyi menggantung.
“Ibu bisa saja langsung memberi nilai nol,” lanjut Bu Hana pelan.
“Atau membawa kasus ini langsung ke sidang etik.”
Tidak ada nada tinggi sama sekali. Justru itu yang membuat remuk hati Raka.
“Kenapa kamu lakukan ini?”
Pertanyaan itu juga tidak terdengar marah.
Dan di situlah pertahanan Raka runtuh.
“Maaf, Bu…” suara Raka terdengar parau.
“Ayah saya sakit. Saya kerja malam. Saya nggak tidur. Saya takut nggak lulus. Saya takut semuanya berantakan kalau saya gagal. Biaya sakit ayah saya besar, Bu… besar sekali…”
Tangisnya pecah di ruang yang biasanya penuh teori dan metodologi. Ruangan itu mendadak menjadi ruang pengadilan bagi hati.
Bu Hana memandangnya lama.
“Raka,” ucapnya pelan, “plagiarisme bukan hanya pelanggaran aturan kampus. Itu membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Kamu mungkin tetap lulus… tapi kamu tidak lagi menjadi pribadi yang utuh.”
Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
*
Di luar, mahasiswa mulai menyiapkan takjil untuk buka puasa bersama. Terdengar tawa ringan, bunyi plastik dibuka, dan suara salam yang saling bersahutan.
Di dalam ruangan, Bu Hana menunduk sejenak, seperti sedang menenangkan pikirannya sendiri sebelum mengambil keputusan.
Lalu ia mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu di sana. Kertas itu disodorkan pelan ke hadapan Raka.
Di sana tertulis:
“Kamu mau diselamatkan… atau mau terlihat hebat?”
Raka terdiam.
Dadanya terasa sesak membaca kalimat sederhana itu.
“Ibu bisa saja mengakhiri masalah ini dengan satu tanda tangan,” kata Bu Hana pelan.
“Kamu akan mendapat sanksi. Proses studimu bisa terhenti. Dan yang lebih berat, mungkin hatimu akan semakin jauh dari Allah.” lanjutnya.
Raka menunduk menatap lantai. Ia merasa kecil. Seperti tidak punya apa-apa lagi untuk dibanggakan.
“Tapi,” lanjut Bu Hana,
“ada jalan lain. Memang lebih berat dan butuh waktu lebih lama. Tapi harga dirimu tetap terjaga. Kamu tarik proposal ini. Kamu tulis ulang dari awal. Kamu jujur di depan tim penguji. Dan Ibu akan membimbingmu sampai kamu bisa berdiri lagi.”
Raka perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya merah, namun ada cahaya kecil yang mulai tumbuh di sana, cahaya harapan.
“Saya pilih menulis ulang, Bu,” katanya dengan suara gemetar.
Bu Hana menatapnya dalam-dalam.
“Baik. Tapi kamu harus janji satu hal.”
“Siap, Ibu…”
“Jadikan Ramadan sebagai alasan untuk kembali memperbaiki diri, bukan alasan untuk bersembunyi dari kesalahan.”
*
Malam itu, Raka duduk sendirian di musala kampus setelah tarawih.
Lampu musala redup.
Sajadah berbaris rapi.
Suara kipas angin seperti desahan panjang.
Ia membuka laptopnya. File proposal itu masih ada. Judulnya tampak gagah. Tapi kosong dari kejujuran.
Tangannya gemetar saat ia mengarahkan kursor. Lalu ia melakukan sesuatu yang membuat dadanya sesak: Delete.
Layar menjadi putih.
Kosong.
Dan di ruang kosong itu, ia merasa seperti manusia yang berdiri tanpa topeng di hadapan Allah.
“Ya Allah…” bibirnya bergetar.
“Kalau aku harus mulai dari nol, jangan biarkan aku mulai sendirian.”
Air matanya jatuh. Ia merasa terharu, berani memilih jujur walau jalan tempuh yang akan dilaluinya panjang.
*
Tiga bulan berlalu.
Hari sidang proposal tiba. Raka berdiri di depan penguji, membawa naskah yang mungkin tak seindah dulu, tak secerah dulu. Namun naskah itu memiliki satu hal yang tak bisa dibeli: kejujuran.
Ia berbicara dengan suara yang masih gemetar, namun tidak lagi bersembunyi.
Salah satu penguji menatapnya.
“Kamu terlambat. Bahkan, kamu sempat menghilang. Tapi naskah ini terasa hidup. Kamu memahami benar apa yang akan kamu kerjakan dalam penelitianmu….”
Raka menahan napas.
“Lulus revisi minor.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Raka, itu seperti pintu yang terbuka kembali setelah hampir terkunci selamanya.
Ia menunduk. Ia ingat betul, ia hampir menghapus dirinya sendiri.
Di luar ruangan, Bu Hana berdiri.
“Terima kasih, Bu,” suara Raka pecah.
“Terima kasih karena tidak membuat saya jadi orang yang lebih buruk.”
Bu Hana menggeleng pelan.
“Tapi Ibu tetap menghukum kamu Raka.”
Raka terdiam.
“Hukuman untukmu adalah mengingat ini seumur hidup,” katanya lirih.
“Kelulusan bisa saja kamu raih kapan pun. Tapi kalau integritasmu hilang, kamu tak pernah kembali utuh.”
Raka menunduk dalam.
Sore itu, azan Maghrib berkumandang.
Dan Raka memahami satu hal yang menghentak dadanya: Puasa paling berat bukan menahan lapar. Tapi menahan diri untuk tidak mengambil jalan curang ketika hidup sedang tidak baik-baik pada kita.
Ramadan Kariim.
Bulan yang bukan hanya memberi pahala, tapi memberi kesempatan kedua, untuk kembali menjadi manusia yang utuh.
Bogor, 3 Maret 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
