Sikapi Pertukaran Waktu Agar Tidak Merugi

Oleh : H. Abdel Haq, S.Ag, MA.*)

Pertukaran waktu terasa cepat bergulir, hari berganti hari, minggu pun berganti minggu, bulan berganti dengan bulan berikutnya. Bahkan pertukaran tahun pun tak terelakkan. Tahun 2025 pun sudah meninggalkan kita dengan beragam kenangan. Dan, kini telah hampir sepekan pula tahun 2026 kita jalani. Ini merupakan sebuah kelaziman, sunnatullah, ketentuan Allah Swt yang tak bisa kita hambat dan halangi.

Bukankah Allah Swt telah menyatakan dalam firman-Nya surah Ali Imran 140 :

” Wa tilkal ayyaamu nudaawiluha bainannaasi “. ( Q.S.3.140 ).

Artinya : ” Dan masa ( kejayaan dan kehancuran ) itu, Kami pergilirkan di antara manusia ( agar mereka mendapatkan pelajaran )”. ( Q.S.3.140 ).

Waktu adalah kesempatan emas yang sangat berharga bagi manusia. Pepatah Arab mengatakan : ” Al-waqtu kassaifi “,  waktu itu bagaikan pedang, jika tidak pandai mempergunakannya dengan baik, akan memotong pemiliknya.

Sedangkan pepatah Inggris menyatakan : ” Time is money “, waktu itu adalah uang.  Jika seseorang pandai memenej, mengelola dan memanfaatkan waktunya dengan baik, dipastikan banyak menghasilkan uang dan finansial lainnya.

Waktu itu terbagi kepada tiga bagian :

Pertama, bagian masa lalu, adalah waktu yang telah kadaluarsa, yaitu waktu, masa yang sudah punah, waktu yang sudah berlalu, yang takkan mungkin kembali lagi. Sedetik waktu, masa, kesempatan yang telah berlalu seribu tahun takkan terkejar.

Karena waktu yang berlalu bagaikan busur anak panah. Apabila busur anak panah telah dilesatkan oleh seorang pemanah, dipastikan busur anak panah itu tidak akan pernah kembali lagi. Begitu juga hari-hari, kesempatan emas yang tidak bisa dimanfaatkan oleh seseorang, maka kesempatan emas itu, tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.

Justeru itu, waktu, masa dan kesempatan yang ada, harus dimanfaatkan dan dimaksimalkan untuk perbuatan, aktivitas yang bermanfaat bagi diri, lingkungan dan masyarakat luas.

Kedua, pembagian tentang waktu adalah masa kini, sekarang, yaitu waktu, masa, kesempatan yang ada saat ini, yang tengah hadir bersama kita.

Boleh jadi waktu, masa, saat, kesempatan hari ini, adalah segala fasilitas yang masih diberikan Allah Swt kepada manusia. Berupa nikmat kehidupan, kesehatan, kekuatan, potensi, power, aset, modal, ilmu pengetahuan dan berbagai fasilitas yang telah diberikan Allah Swt kepada setiap manusia.

Apabila kesempatan hari ini tidak bisa dimaksimalkan dengan berbagai aktivitas, kegiatan yang bernilai amal kebaikan untuk diri pribadi, keluarga, lingkungan, bangsa dan negara. Maka akan akan merugilah manusia tersebut dan menjadi penyesalanlah bagi dirinya sepanjang kehidupan yang dilaluinya.

Inilah yang menjadi perhatian utama bagi Baginda Rasulullah Muhammad SAW, seperti yang diungkapkannya dalam sebuah hadis :

” Nikmataani maghbuunun fiihimaa katsiirum minannaasi, ash-shihhatu wal faraagh “. ( H.R. Bukhari ).

Artinya : ” Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu olehnya, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang “. ( H.R Bukhari ).

Ketiga, adalah bagian masa yang akan datang, yaitu waktu, masa, kesempatan yang belum pasti bisa dimiliki oleh seseorang. Bagaimana pun, manusia tidak bisa memastikan dirinya, apakah masih bisa bertemu dengan hari esok, setahun yang akan datang.

Betapa banyak Saudara kita yang telah menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan tahun ini. Tetapi, alangkah naifnya dan sangat disayangkan sekali, Allah Swt adalah Sang Pemilik waktu, masa dan kesempatan. Baru saja memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, sudah banyak Sanak Saudara, famili dan Ayah Bunda kita, dijemput oleh Allah Swt.

Dalam hal ini Imam Al-Ghazali dalam bukunya ” Ihyaa’ Ulunuddin ” pernah menyatakan :

” Innannaasa fi makhaafataini “.

Artinya : ” Sesungguhnya manusia dalam dua kekhawatiran “.

Adapun maksud dari ungkapan Failasuf Islam terkenal Imam Al-Ghazali ini, adalah masa yang telah berlalu, yang telah dilalui manusia mereka tidak tahu, apakah yang diperbuat Allah Swt kepada mereka.

Apakah dosa, kesalahan yang pernah diperbuat diampuni oleh Allah Swt atau menjadi dosa tak terampunkan dunia akhirat? Begitu juga amal kebaikan, ibadah yang dilakukan selama ini, apakah telah diterima oleh Allah Swt atau sebaliknya menjadi amal, perbuatan yang sia-sia.

Termasuk masa depan, apakah masih diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk melakukan berbagai aktivitas, amal kebaikan, untuk memperbaiki diri dan melakukan rangkaian amal kebaikan. Jangan pernah menyangka usia panjang, panas sampai sore.

Boleh jadi Allah Swt belum mengizinkan memberikan kesempatan lagi untuk melakukan amal ibadah kepada hamba-Nya, padahal mereka sangat harap sekali.

Justeru itu manusia dalam pandangan Imam Al-Ghazali, ” Mereka harus selalu merasa khauf, takut kepada Allah Swt setiap saat “. Jangan-jangan, tidak mendapatkan kesempatan lagi untuk menghapus dosa, memperbaiki diri, merubah image, mindset, pola pikir dan rule model untuk kehidupan yang lebih baik di masa datang.

Di sisi lain manusia harus memiliki rasa raja’, penuh harap, dengan selalu melangitkan do’a, bermohon kepada Allah Swt agar selalu mendapatkan waktu dan kesempatan untuk berbenah.

Justeru itu, manusia harus selalu mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya.

Berupaya maksimal untuk melakukan amal kebaikan, membersihkan hati, jiwanya dari segala macam penyakit hati, yang akan merusak nilai-nilai rangkaian ibadah yang telah dilakukan sepanjang hayatnya.

Begitulah waktu selalu dipergilirkan Allah Swt di antara manusia, ada waktunya bersuka cita, bersuka ria. Tatkala manusia mendapatkan limpahan anugerah Allah Swt, berupa kesehatan, kesenangan, keberuntungan dan berbagai keberhasilan dan kesuksesan.

Di samping itu, ada pula masanya berduka cita, berduka lara, tatkala ditimpa aneka musibah yang tidak menyenangkan dan dirundung duka yang berketerusan.

Seperti akhir-akhir ini, bencana banjir bandang, galodo yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang cukup mengenaskan.

Ada beberapa item penting yang perlu dilakukan dan ditindaklanjuti oleh manusia dalam menyikapi pertukaran waktu :

1. Melakukan muhasabah, instropeksi diri dan mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan. Hal ini sangat perlu dan urgen sekali dilakukan oleh manusia yang bersifat dha’if, lemah dan memiliki kecenderungan untuk melakukan aneka kesalahan.

Dalam hal ini Khalifah Umar Bin Khatab mengeluarkan pernyataannya :

” Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu “.

Artinya : ” Hitunglah dirimu, sebelum orang lain menghitungmu “.

Sementara itu, Rasulullah Muhammad SAW melalui sabdanya mengingatkan umatnya :

” ‘An ‘Abbaasin R.A. Qaala Rasulullah Muhammad SAW : Man kaana yaumuhuu khairam min amsihii fahuwa raabihun “. Wa man kaana yaumuhuu mitsla amsihii,  fahuwa maghbuunun. Wa man kaana yaumuhuu syarram min amsihii fahuwa mal’uunun “.

Artinya : ” Dari ‘Abbas RA telah bersabda Rasulullah Muhammad SAW : ” Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia orang yang beruntung, dan barang siapa yang hari ini seperti hari kemarin, maka dia orang yang tertipu, dan barang siapa yang hari ini, lebih buruk dari hari kemarin, maka dia orang terkutuk “. ( H.R. Bukhari ).

Melakukan muhasabah, instropeksi diri, mengevaluasi kegiatan yang pernah dilakukan, sangat bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana seseorang melakukan berbagai amal kebaikan. Prestasi apa yang telah diperoleh dan kemajuan di bidang apa saja yang telah diraih.

Di samping itu, sebagai manusia biasa akan mengetahui di mana titik-titik kelemahan dan kekurangan yang harus dibenahi. Upaya apa saja yang harus dilakukan, agar terhindar dari berbagai kegagalan, ketidakkeberhasilan di masa yang akan datang.

Dalam sebuah hadis Qudsi Allah Swt berfirman :

” Kullu ibni Aadama khaththaa’, wa khairul khaththaa-iina, attawwaabuuna “

Artinya : ” Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah mereka yang bertaubat kepada Allah Swt “.

2. Bersegeralah mendapatkan ampunan Allah Swt dan kepada surga-Nya. Sudah sewajarnyalah bagi manusia yang berpikiran sehat dan waras, untuk bersegera minta ampunan Allah Swt. Bagaimana pun juga selaku manusia biasa, tidak akan pernah luput dari kesalahan, kekhilafan dan keterbatasan.

Karena manusia adalah makhluk Allah yang dha’if, lemah, cenderung berbuat salah, tergesa-gesa, menginginkan segera instan, serba praktis dan cenderung menurutkan ego dan hawanafsunya.

Justeru itu, umat Islam harus mencontohteladani karakteristik Rasulullah Muhammad SAW.

Meskipun beliau seorang yang ma’shum, terlepas dari noda dan dosa, tetapi dalam kesehariannya Rasulullah Muhammad SAW tetap beristighfar, minta ampunan Allah Swt. Bahkan beliau dalam sehari tidak kurang beristighfar, minta ampunan Allah Swt 70 sampai 100 kali.

Dalam hal ini Allah Swt memerintahkan kepada umat Islam untuk segera mendapatkan ampunan Allah Swt :

” Wa saari’uu ilaa maghfiratim mirrabikum wa jannatin ‘ardhuhas samaawaatu wal ardhu, u’iddat lilmuttaqiin “. ( Q.S.3.133 ).

Artinya : ” Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa “. ( Q.S. 4.133 ).

3. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Allah Swt selalu memanggil, mengingatkan, menghimbau hamba-Nya untuk selalu meningkatkan kualitas keimanan, ketaqwaan, dengan melakukan ibadah dan amal kebaikan. Karena dengan peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt, akan berdampak terhadap perilaku positif, sikap proaktif untuk melakukan rangkaian amal kebaikan dan melakukan amal ibadah kepada Allah Swt.

Seperti mendirikan shalat wajib secara berjamaah, melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dan membayarkan zakat kepada yang berhak menerimanya. Berhajji bagi mereka yang telah diberikan kemampuan oleh Allah Swt serta melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan. Juga dengan melakukan rangkaian ibadah lainnya.

Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran :

” Ya ayyuhalladziina aamanut taqullaaha wal tanzhur nafsum maa qaddamat lighadin, wattaqullaaha innallaaha khabiirum bimaa ta’maluun “. ( Q.S.59.18 ).

Artinya : ” Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ( akhirat ), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan “. ( Q.S. 59.18 )

3. Menyiapkan hari esok yang lebih baik. Apa pun profesi, aktivitas dan rutinitas,yang dilakukan setiap hari, perlu ditata, dikelola dan dimenej dengan baik.

Peran perencanaan dalam diri, keluarga, kelompok dan sebuah lembaga sangat menentukan berhasil tidaknya aktivitas yang dilakukan untuk selanjutnya.

Justeru itu, masing-masing pribadi, keluarga dan anggota masyarakat pun harus mampu mengelola potensi, aset yang dimiliki, untuk dibudidayakan, dikembangkan untuk tujuan yang telah direncanakan, sesuai dengan apa yang telah dituangkan dalam perencanaan, untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal. Menyiapkan hari esok adalah sebuah keniscayaan bagi lapisan umat manusia,  sesuai dengan tahapannya.

Apakah hari esok setahun dua tahun, sepuluh atau tiga puluh tahun mendatang. Termasuk hari esok yang sebenarnya, yaitu hari akhirat.

Sesuai dengan firman Allah Swt surah Al-Hasyr ayat 18 di di atas.

Selanjutnya Allah Swt kembali mengingatkan umat manusia, untuk mempergunakan waktu, masa, kesempatan yang ada, dengan semaksimal mungkin, agar terhindar dari berbagai kesalahan, penyesalan yang datangnya kemudian, serta kerugian yang menyedihkan.

Seperti ditegaskan Allah Swt dalam Al-Quran :

” wal ‘ashri, innal insaana lafii khusrin, illalladziina aamanuu wa ‘amilush-shaalihaati  wa tawaashaubil haqqi wa tawaasshaubish-shabri “. ( Q.S. 103.1 – 3 ).

Artinya : ” Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran “. ( Q.S. 104.1-3 )

Begitu penting dan urgennya masalah waktu, sehingga Allah Swt harus bersumpah dengan mempergunakan waktu atau masa.

Dalam ayat di atas ada 3 resep jitu untuk terhindar dari kerugian dunia akhirat :

1. Selalu beriman kepada Allah Swt, dalam pengertian seseorang tetap menjaga, memelihara keyakinan dan keimanannya kepada Allah di mana saja berada. Karena mereka yang kokoh keimanannya, meyakini Allah Swt selalu memonitor dan bersama hamba-Nya di mana saja berada.

” Wa huwa ma’akum ainamaa kuntum “

Artinya : ” Dan Dia ( Allah ) bersama kamu di mana saja kamu berada “. ( Q.S.57.4 ).

2. Mereka yang selalu melakukan amalush shalihat, rangkaian amal kebaikan, berupa melakukan kewajiban selaku seorang muslim yang beriman. Mengerjakan amal kebaikan yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan masyarakat luas. Tentu saja dengan penuh keikhlasan, sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

3. Saling menasihati untuk selalu berada pada kebenaran dan saling menasihati untuk tetap dalam kesabaran. Bagaimana  pun juga, untuk selalu dalam kebenaran dibutuhkan energi, kekuatan, ketangguhan pisik, mental dan lingkungan kondusif dalam menghadapi beragam tantangan dan ujian.

Sementara itu saling menasihati untuk tetap dalam kesabaran, karena kesabaran adalah pilar utama untuk meraih kesuksesan.

Kesabaran adalah sikap utama dan terpuji yang wajib dimiliki bagi mereka yang ingin sukses dunia akhirat, wallaahu a’lam bishshawaab.

Penulis adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah, Pendidikan Sosial dan terakhir Kakankemenag Dharmasraya.*)

Exit mobile version