“Pipiet Senja Tidak Pernah Pergi”

Oleh : Nurul Jannah*)

Tentang Persahabatan, Warisan Jiwa, dan sang Legenda yang Tetap Membersamai

Hari ini, seratus hari telah berlalu sejak ia berpulang. Namun, aku masih sering lupa bahwa ia telah berpulang ke hadapan sang Pemilik Hidup. Karena kehadirannya masih terasa hidup untuk disebut hilang.

Aku seakan masih mendengar suaranya. Masih merasakan sentuhan batinnya. Masih menemukan senyum ikhlasnya. Masih berbincang dekat dengannya. Tentang banyak hal: tentang buku, tentang perempuan, tentang usia, tentang luka, tentang hidup yang harus terus dirawat dengan cinta.

Pipiet Senja bukan hanya menulis tentang ketangguhan, ia menjalaninya. Ia jujur pada rapuhnya diri, namun tetap berdiri tegar tanpa menanggalkan kelembutan.

Kami sering berbicara tentang “nanti”. Tentang banyak hal yang masih ingin kami kerjakan bersama. Tentang buku-buku yang belum selesai. Tentang suara perempuan yang masih harus diperjuangkan dengan cara yang bermartabat. Tentang lansia bahagia. Lansia yang tidak ingin dikenang sebagai beban, melainkan sebagai sumber cahaya.

“Masih banyak ya yang bisa kita lakukan…,” kalimat itu masih terngiang, hingga kini gemanya tak kunjung reda.

Lalu takdir itu datang.
Tanpa aba-aba.
Sunyi.
Tegas.
Tak bisa ditawar.

Hari Senin, 29 September 2025. Perempuan Tangguh itu berpulang.

Hari itu, dunia seolah menahan napas sejenak. Langit berduka, kehilangan satu cahaya yang tak pernah ingin silau. Cahaya yang hanya ingin setia menerangi.

Tribute to Pipiet Senja: Cahaya yang Tak Pernah Padam, adalah buku yang kami ikhtiarkan terbit sebelum empat puluh hari kepergiannya. Buku itu lahir dari rasa bahagia nan pilu.

Aku dan tim bekerja di luar batas kebiasaan. Ada energi ekstra yang menuntun. Ada ketenangan luar biasa yang menjaga. Ada rasa tidak sendiri yang begitu nyata.

Aku merasakan keajaiban yang tak bisa dijelaskan dengan logika biasa.

Seakan sang legenda, Pipiet Senja, ikut membersamai dan membisikkan semangat, “Teruskan langkahmu. Jadikan kata sebagai rumah, dan cahaya cinta sebagai alasanmu bertahan.”

Buku itu lahir dari kesetiaan pada nilai yang ia wariskan. Nilai kemanusiaan, kejujuran, dan keberanian menjadi perempuan yang utuh, tanpa menyerah.

Mengapa Pipiet Senja menjadi legenda?

Karena ia tak pernah ingin menjadi legenda. Ia tidak mengejar sorotan. Ia tidak meninggikan suara. Ia merawat luka, dan meninggikan nurani.

Sudah seratus hari ia berpulang. Perih itu masih terasa. Namun aku yakin, kini ia telah berada di tempat yang paling damai.

Tinggal aku yang kini merasa dititipi. Dititipi keberanian untuk melanjutkan hidup. Dititipi amanah untuk menjaga api. Dititipi keyakinan bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cara mencintai hidup secara utuh.

Pipiet Senja memang telah berpulang. Namun ia tidak pernah pergi. Ia masih hidup dalam langkah kami. Dalam buku-buku yang akan terus lahir. Dalam jiwa perempuan-perempuan yang berani berdiri tanpa kehilangan cinta. Dalam hati lansia-lansia yang memilih tetap bahagia, apa pun keadaannya.

Dan hari ini, di seratus hari kepergiannya, aku bersaksi dengan cinta yang utuh, bahwa legenda sejati tidak tinggal di masa lalu, ia tinggal di jiwa-jiwa yang ia hidupkan. ❤‍🔥🌹🎀

Al-Fatihah. 🙏🫶

Bogor, 9 Januari 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Exit mobile version