Oleh : Wiztian Yoetri*)
Pada 11 Januari 2026, tercatat 193 tahun usia Kabupaten Padang Pariaman, dan peringatan hari jadi itu, dalam suasana berbeda, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ada cerita duka, yang mendahului peristiwa ulang tahun, ketika banjir-longsor meluluhlantakkan mayoritas Padang Pariaman. Musibah itu, terjadi sejak akhir bulan November tahun 2025.
Suasana duka itu, ikut terbawa hingga hari ini. Masyarakat Kabupaten Padang Pariaman pun masih larut dalam kesedihan. Tapi, Bupati Dr Haji John Kenedy Azis, SH, MH, tidak mau hanyut dalam duka yang panjang. Dia, memilih, tetap optimis, kita harus bangkit lebih kuat; menuju Padang Pariaman Tangguh!
Demikianlah, tema peringatan ulang tahun yang terpajang diseluruh sudut Kabupaten yang terletak di pesisir barat. Tema itu, sekaligus sebagai aktualiasasi dari semangat pantang menyerah, dan tetap bersemangat untuk bangkit pasca bencana.
Bagi, seorang Bupati John Kenedy Azis, proses pemulihan, tidak hanya bertujuan untuk kembali ke kondisi semula, tetapi demi melangkah lebih maju dengan fondasi lebih kokoh.
“Musibah ini, adalah sebuah pelajaran penting untuk kita renungkan, demi peningkatan kapasitas daerah dan masyarakat,” ujar Bupati JKA setengah berbisik.
Pengalaman dua periode sebagai wakil rakyat di DPR RI, dan satu periode berada di Komisi VIII, bermitra dengan Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), menjadikan seorang JKA, paham betul bagaimana mengatasi terjadinya musibah. Memimpin komando di lapangan, memberi perintah cepat, mengakomodir sarana dan prasarana dan memetakan potensi bencana.
Bupati John Kenedy Azis, tidak ngantor sepenuhnya di ruang kerja, tapi “memindahkan” kantor Bupati ke lokasi-lokasi bencana. Semua urusan dinas, dituntaskan di lapangan. Pasca bencana diisi dengan kegiatan gotong royong, melibatkan TNI-Polri, SKPD maupun masyarakat luas. Goro merupakan budaya turun temurun di negeri ini, dan semangatnya merupakan filosofi dari “saciok bak ayam, sadanciang bak basi.”
Dan, Padang Pariaman, beruntung punya Bupati seorang JKA. Karena selain pemegang amanah rakyat di kampung halaman, JKA juga Ketua Umum Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) seluruh Indonesia. Artinya, JKA selain pemimpin masyarakat di kampung juga di rantau.
Maka, tak heran “kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan”, menjadi salah satu dinamika musibah bencana di Padang Pariaman. Ketika, bantuan mengalir tidak hanya dari Presiden Prabowo, berbagai Kementerian dan lembaga, juga support perantau Padang dari berbagai seantero. Perantau ikut meringankan beban dunsanak yang terkena musibah.
Berangkat dari tema 193th menuju Padang Pariaman tangguh, bahwa komitmen tersebut menunjukkan sebuah cita-cita, membangun daerah dengan daya tahan dan daya saing yang tinggi menghadapi bencana.
Hikmah yang dapat dipetik, melalui semangat “ketangguhan”, dilakukan penguatan pengelolaan tata kelola pemerintahan, pembangunan berkelanjutan, pelestarian nilai budaya lokal serta menumbuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
Ada, pelajaran penting lain, dari Musibah Bencana ini, Pemerintahan Nagari sebagai garda terdepan dari pemerintahan, harus lebih jeli dan peka terhadap kondisi lingkungan. Seorang walinagari, sehari-hari, tidak hanya disibuki oleh kegiatan rutinitas di kantor.
Namun perlu turun ke tengah-tengah masyarakat melihat aliran sungai, mengamati rumah-rumah penduduk disepanjang alur sungai, dan senantiasa melakukan gerakan penghijauan, sebagai antisipasi banjir.
Seperti diketahui, musibah bencana banjir-longsor di Padang Pariaman, telah menelan kerugian mencapai Rp 3,6 Triliun. Semoga Padang Pariaman dengan spirit 193th, dibawah duet kepemimpinan JKA-Rahmat, segera bangkit dan pulih, menuju Padang Pariaman yang tangguh, aman-sejahtera! []
Penulis adalah Wartawan Senior*)




