Air Mata Sumatera

Oleh : Idal, M.Pd*)

Sumatra, pulau yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa, hari ini seakan menitikkan air mata. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai bencana ekologis seperti banjir besar, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta krisis kualitas udara dan air terus berulang.

Fenomena ini tidak dapat dipandang semata-mata sebagai kejadian alamiah, melainkan sebagai hasil dari interaksi kompleks antara faktor alam dan aktivitas manusia.

Dalam perspektif ilmiah dan keagamaan, khususnya Al-Qur’an dan hadis, “Air Mata Sumatra” adalah peringatan keras agar manusia kembali menata hubungan dengan alam secara adil dan bertanggung jawab.

Sumatra dalam Perspektif Ekologis dan Ilmiah

Secara geografis, Sumatra merupakan salah satu pulau dengan kawasan hutan hujan tropis terluas di dunia. Hutan Sumatra berfungsi sebagai penyerap karbon, pengatur siklus air, serta habitat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.

Namun, data ilmiah menunjukkan bahwa laju deforestasi di Sumatra tergolong cepat akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan, pertambangan, dan permukiman.

Kerusakan tutupan hutan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana. Hilangnya vegetasi penahan tanah mempercepat erosi, menurunkan daya serap air, dan menyebabkan limpasan permukaan yang berujung pada banjir dan longsor.

Dari sudut pandang hidrologi, hutan yang rusak membuat sistem daerah aliran sungai (DAS) menjadi tidak stabil. Inilah sebabnya banjir bandang dan galodo kerap terjadi di berbagai wilayah Sumatra, bahkan di daerah yang sebelumnya relatif aman.

Selain itu, kebakaran hutan dan lahan gambut menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar, memperparah perubahan iklim global dan menciptakan krisis kesehatan akibat kabut asap.

Secara ilmiah, ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan ekosistem yang dipicu oleh eksploitasi berlebihan dan pengelolaan lingkungan yang tidak berkelanjutan.

Air Mata Sumatra sebagai Dampak Ulah Manusia

Ilmu lingkungan menegaskan bahwa sebagian besar bencana ekologis di Sumatra bersifat antropogenik, yakni dipengaruhi secara signifikan oleh aktivitas manusia. Pembukaan lahan dengan cara membakar, penambangan tanpa reklamasi, serta pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan menjadi faktor utama.

Dalam konteks ini, bencana bukan sekadar “takdir alam”, tetapi konsekuensi dari pilihan manusia. Alam bereaksi terhadap perlakuan yang diterimanya. Ketika keseimbangan ekosistem terganggu, alam merespons dengan cara yang sering kali merugikan manusia sendiri.

Pandangan Al-Qur’an tentang Kerusakan Alam

Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa kerusakan di bumi adalah akibat perbuatan manusia. Allah SWT berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini selaras dengan temuan ilmiah modern bahwa degradasi lingkungan terjadi akibat eksploitasi yang melampaui batas. Kerusakan tersebut merupakan bentuk peringatan agar manusia melakukan muhasabah dan perubahan perilaku.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa manusia adalah khalifah di bumi:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Sebagai khalifah, manusia bukan pemilik mutlak alam, melainkan pengelola yang diberi amanah. Maka, eksploitasi yang merusak adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah tersebut.

Rasulullah SAW memberikan teladan kuat dalam menjaga keseimbangan alam. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga dan menumbuhkan kehidupan adalah amal kebaikan yang bernilai ibadah. Sebaliknya, merusak alam berarti menutup pintu-pintu kebaikan tersebut.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga melarang tindakan yang merusak lingkungan, bahkan dalam kondisi perang. Ini menegaskan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi etika ekologis dan keberlanjutan hidup.

Integrasi Ilmu dan Iman: Jalan Keluar dari Krisis

“Air Mata Sumatra” seharusnya dibaca sebagai pesan ganda: peringatan ilmiah dan panggilan spiritual. Ilmu pengetahuan memberi data, analisis, dan solusi teknis seperti rehabilitasi hutan, pengelolaan DAS terpadu, serta pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Al-Qur’an dan hadis memberikan landasan moral dan spiritual agar manusia menahan keserakahan dan bertindak dengan kesadaran etis.

Tanpa perubahan paradigma, pembangunan akan terus melahirkan bencana baru. Namun, jika ilmu pengetahuan dipadukan dengan nilai-nilai keimanan, manusia dapat kembali hidup selaras dengan alam.

Air Mata Sumatra adalah cermin bagi manusia. Ia menampakkan luka alam yang sesungguhnya berakar pada luka moral dan spiritual manusia. Islam dan sains sama-sama mengajarkan bahwa keseimbangan adalah kunci kehidupan.

Sudah saatnya manusia berhenti menjadi penyebab air mata bumi dan mulai menjadi penjaga yang merawat, melindungi, dan memulihkan alam sebagai amanah dari Allah SWT. Dengan demikian, Sumatra tidak lagi menangis, melainkan kembali tersenyum sebagai rumah kehidupan yang lestari. []

Guru SMPN 18 Padang dan Dosen DLB UIN Imam Bonjol Padang*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *