Oleh : Nurul Jannah*)
Reportase Mengenang 100 Hari Manini-Pipiet Senja
Ruang itu penuh orang. Namun ketika Zhizhi Siregar, putri mendiang Pipiet Senja melangkah ke depan, dunia seperti mengecil. Yang tersisa hanyalah seorang anak dan kerinduan yang membara pada sang Ibu.
Ibu yang Terus Memberi dan Menjaga
Zhizhi tidak datang membawa teks. Ia datang membawa kejujuran.
Dengan gaya yang cair, kadang diselingi tawa kecil, kadang suara yang bergetar menahan air mata, Zhizhi membuka cerita tentang ibundanya, Manini Pipiet Senja, sang legenda itu sendiri. Bukan sebagai tokoh besar, melainkan seorang ibu yang sangat manusiawi.
“Mama itu… orangnya seru. Kadang cerewet, kadang sok tegar,” katanya, disambut senyum hadirin. “Tapi satu yang pasti, Mama itu nggak pernah berhenti mikirin orang lain.”
Lalu nadanya berubah. Lebih pelan. Lebih dalam.
“Ada hal-hal yang sebenarnya masih ingin kami nikmati bareng. Hal sederhana. Bisa makan enak. Jalan-jalan kemana-mana tanpa mikirin apa-apa. Menikmati uang hasil kerja keras saya sekarang… bareng Mama.”
Zhizhi berhenti. Menarik napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Fetty Fajriati, sang moderator.
“Tapi Mama keburu pergi. Dan saya baru sadar, bahkan dalam kondisi paling sulit pun, Mama tetap memilih berbagi. Sampai akhir.”
Tangis tidak diminta, tapi datang sendiri. Beberapa orang menunduk. Ada yang menggenggam tangan di pangkuan.
Namun Zhizhi kembali tersenyum, senyum tegar yang menggetarkan.
“Kalau Mama punya warisan, tentu bukan warisan harta. Tapi warisan komunitas yang selama ini menjadi “korban” beliau. Insya Allah akan saya rawat dengan baik, dengan menjaga silaturahmi.”
Di titik itu, Manini tidak lagi sekadar dikenang. Ia benar-benar hadir.
Sabtu siang itu, Aula PDS HB Jassin di Taman Ismail Marzuki tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia menjelma menjadi ruang pulang. Tempat kenangan disusun ulang dengan air mata, tawa lirih, dan cinta yang tidak selesai.
Acara Mengenang 100 Hari Manini Pipiet Senja berlangsung dalam suasana intim, khidmat, dan menggetarkan. Tidak ada hiruk-pikuk perayaan. Yang ada hanyalah keheningan yang penuh makna, seolah semua yang hadir sepakat: hari itu bukan tentang kehilangan, melainkan tentang merawat cahaya.
Doa yang Membuka Ingatan
Tepat pukul 13.00 WIB, acara dibuka dengan doa dan mengheningkan cipta. Dipandu oleh Ayah Arief sebagai host sekaligus MC, suasana langsung tertarik ke satu titik sunyi. Beberapa kepala tertunduk lebih lama dari yang diminta. Ada yang memejamkan mata. Ada yang diam-diam mengusap pipi.
Dalam sambutan singkatnya, Shintalya Azis, selaku murid kesayangan Manini sekaligus penanggung jawab Acara, menyampaikan sambutan pembuka bukan dengan kalimat formal, melainkan dengan suara yang bergetar oleh kedekatan.
“Manini tidak pernah pergi. Ia hanya berpindah rumah. Dan hari ini, kita memastikan rumah kenangan itu tetap menyala,” ungkapnya penuh haru.
Tiga Buku, Satu Napas Cinta
Video singkat tentang Manini, Pipiet Senja dan latar penerbitan tiga buku diputar. Di layar, wajah Manini hadir, bersahaja, dengan sorot mata yang selalu memberi ruang.
Marliani, sang editor, menjelaskan bagaimana tiga buku itu lahir bukan dari ambisi, melainkan dari hutang cinta. “Mengedit buku tentang Pipiet Senja itu berat. Harus ekstra hati-hati”, katanya terbata-bata ketika harus menjawab pertanyaan sang moderator.
Ia mengaku harus berhenti berkali-kali, karena, “Takut ada yang tidak pas…”
Cahaya yang Tak Pernah Padam (Tribute to Pipiet Senja), Perempuan Tangguh dan Romansa Dua Benua. Tiga buku, satu napas: All About Manini, tentang perempuan, ibu, sahabat, dan manusia yang memilih berbagi bahkan ketika hidup sedang sempit
Buku sebagai Hutang Cinta
Bu Fakhriyah, wakil penerbit Elfa, tidak berbicara tentang strategi penerbitan, ketika merespon pertanyaan Fetty, sang moderator. “Tiga buku ini lahir bukan karena pasar, namun lebih kepada memberikan ruang cinta kepada Manini, ” ujarnya mantap.
Ia menegaskan bahwa menerbitkan Tribute to Manini, Perempuan Tangguh, dan Romansa Dua Benua adalah bentuk tanggung jawab moral. “Kami hanya penerbit, penerus langkah. Yang menulis sesungguhnya adalah hidup Manini sendiri.”
Para Penulis: Kedekatan yang Tidak Pernah Formal
Satu per satu para penulis diundang ke panggung. Bukan untuk menjelaskan isi buku, melainkan untuk sharing dan caring mengapa tertarik untuk ikut menulis buku bersama sang Legenda.
Fanny J Poyk, Ika Patte, Yudiati kuniko, dan Nurul Jannah tidak berdiri sebagai penulis. Mereka berdiri sebagai manusia-manusia yang pernah disapa Manini secara utuh.
“Manini, Pipiet Senja tidak pernah bertanya: kamu siapa. Manini lebih senang menempatkan diri sebagai sahabat terdekat kita. Tak berjarak, ujar salah satu penulis dengan haru.
Yang lain menambahkan, “Ia tidak hadir untuk mengubah hidup orang. Ia hadir agar orang tidak merasa sendirian.”
Tidak ada kalimat yang berlebihan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat dada kita semua terasa sesak.
Cinta yang Merekatkan
Momen haru datang ketika Bu Munasri, wakil dari tujuh Srikandi, menyerahkan kenang-kenangan kepada Zhizhi, putri mendiang Pipiet Senja. Tidak banyak kata. Hanya pelukan. Lama. Erat.
Sementara itu, Bu Shinta, selaku Pj Acara, menyampaikan bingkisan cintanya kepada Fanny J. Poyk, sahabat terdekat Pipiet Senja.
“Terima kasih sudah menjaga Manini… bahkan ketika ia sudah tidak ada,” ucapnya pelan.
Dialog yang Dijaga dengan Rasa
Dialog interaktif mengenang 100 hari Pipiet Senja dipandu oleh Fetty Fajriati, moderator handal yang tidak hanya menguasai alur acara, tetapi menguasai rasa.
Dengan ketenangan, empati, dan kecermatan memilih jeda, Fetty menghadirkan ruang dialog yang aman, tempat tawa boleh muncul tanpa merasa bersalah, dan air mata boleh jatuh tanpa perlu disembunyikan.
Ia tidak memotong emosi, tidak tergesa mengejar waktu.
Ia membiarkan cerita bernapas, kenangan tumbuh, dan manusia hadir apa adanya.
Di tangan moderator yang handal, acara ini tidak sekadar berjalan rapi. Ia hidup.
Foto Bersama: Ikatan yang Diperpanjang
Acara ditutup oleh Ayah Arif dengan mengajak seluruh yang hadir untuk foto bersama. Namun yang sesungguhnya dipotret bukan sekadar wajah. Yang dipotret adalah ikatan.
Hari itu, Manini, Pipiet Senja dikenang bukan sebagai legenda. Ia dikenang sebagai ibu yang terlalu sibuk menghidupi orang banyak.
Dan di wajah Zhizhi, yang tertawa dan menahan tangis di hari yang sama, kita semua merasakan bahwa Cahaya itu tidak padam. Ia hanya berpindah.
Manini-Pipiet Senja memang telah berpulang. Namun hari itu ia membuktikan bahwa
Ia ternyata tidak benar-benar pergi. Ia meninggalkan warisan tak ternilai, barisan komunitas.
Barisan perempuan yang disentuh kehadirannya. Barisan anak-anak yang belajar memberi, bahkan ketika hidup tidak ramah. Barisan sahabat yang memilih saling menjaga, bukan sekadar saling mengenang.
Dan dari buku-buku yang diluncurkan hari itu, kita membaca satu pesan indah bahwa Hidup tidak diukur dari apa yang sempat kita nikmati, tetapi dari apa yang sempat kita bagikan.
Pipiet Senja mungkin tak sempat duduk santai menikmati hasil jerih payahnya. Namun hari itu, di ruangan kecil penuh cinta, kita semua menikmati hasil hidupnya.
Dan jika suatu hari dunia kembali terasa keras, ingatlah ini: Ada seorang perempuan bernama Manini-Pipiet Senja yang membuktikan bahwa kasih sayang bisa lebih panjang umurnya, daripada tubuh yang menampungnya.❤🔥🌹.
Jakarta, 11 Januari 2025
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




