Oleh : Fikri Alhamdi*)
Kasus pengeroyokan Agus Saputra, seorang guru SMK di Jambi oleh murid-muridnya, memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Tak terkecuali Ketua Dewan Pendidikan Sumatera Barat, Rahmawati. Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang ini melihat fenomena tersebut sebagai puncak gunung es dari “krisis moral” yang melanda dunia pendidikan saat ini.
Klimaks dari Perundungan terhadap Guru
Menyoroti pengakuan Agus Saputra yang merasa telah menjadi korban perundungan (bullying) oleh siswanya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya insiden penamparan terjadi, Rahmawati melihat ada anomali dalam relasi kuasa di sekolah.
“Ini adalah kondisi yang sangat memprihatinkan. Ketika seorang guru menjadi korban perundungan oleh siswanya sendiri dalam waktu yang lama, hingga akhirnya meledak (klimaks) dengan tindakan fisik sebagai pembelaan diri, ini menandakan ada yang sangat salah dalam ekosistem sekolah tersebut,” ujar Rahmawati, Kamis (15/1/2026).
Soroti Kepribadian Guru
Namun, Rahmawati tidak hanya menyalahkan sisi siswa. Dengan jujur, ia memberikan catatan kritis terhadap profesi guru itu sendiri.
Menurutnya, integritas dan kewibawaan seorang pendidik sangat dipengaruhi oleh kematangan kepribadiannya.
“Kita juga harus berani jujur bahwa banyak guru kita yang memiliki masalah pada aspek kepribadian. Jika seorang guru sampai dirundung oleh siswanya, kita perlu bertanya: ada apa dengan guru tersebut? Guru seharusnya memiliki otoritas moral dan kepribadian yang kuat sehingga disegani, bukan ditakuti atau malah dilecehkan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kompetensi kepribadian adalah syarat mutlak. Guru yang bermasalah secara kepribadian akan sulit membangun kedisiplinan tanpa kekerasan.
Solusi “Smart Surau” untuk Sumbar
Sebagai langkah konkret mengatasi krisis moral dan memperbaiki karakter generasi muda di Sumatera Barat, Rahmawati mendorong penguatan basis pendidikan berbasis kearifan lokal. Ia mencontohkan program “Smart Surau” yang telah sukses dilaksanakan di Kota Padang.
“Smart Surau sudah terlaksana dengan baik di Padang. Program ini mengembalikan fungsi surau sebagai pusat pembentukan karakter dan adab. Saya sangat berharap model ini dicontoh dan diimplementasikan oleh seluruh daerah di Sumatera Barat hinga di luar Sumatera Barat,” jelasnya.
Menurutnya, “Smart Surau” bukan hanya tempat belajar mengaji, tapi menjadi ruang bagi siswa untuk mendapatkan pendampingan moral yang tidak sempat tuntas diberikan di sekolah formal yang padat kurikulum.
Refleksi Bersama
Di akhir tanggapannya, Rahmawati mengajak seluruh pihak, baik Dinas Pendidikan maupun para pendidik, untuk melakukan refleksi total.
“Kasus di Jambi adalah peringatan keras. Kita butuh guru yang sehat kepribadiannya dan siswa yang memiliki adab. Sinkronisasi antara pendidikan formal di sekolah dan pendidikan karakter di surau atau lingkungan adalah kunci agar guru tidak lagi menjadi korban, dan siswa tidak menjadi pelaku kekerasan,” pungkasnya. []
Penulis adalah Guru Bahasa Arab SDS IT Luqman kota Padang*)
