Cerpen Hendri Parjiga*
SUTAN Maridun baru saja menyelesaikan salat Zuhur di mushala kantor Polres. Seusai salam, ia tidak segera beranjak. Kedua tangannya masih bertaut di atas paha, sementara kepalanya tertunduk, seakan menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Di mushala kecil itu, siang terasa tenang tetapi ganjil. Sunyi yang hadir bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan pelan-pelan.
Kipas angin tua berderit pelan, berputar dengan irama yang sama sejak bertahun-tahun lalu. Suaranya seperti detak waktu yang tidak pernah benar-benar berhenti, hanya melambat.
Di luar mushala, roda birokrasi tetap berjalan. Anggota polisi hilir mudik, kendaraan keluar-masuk halaman, laporan-laporan menumpuk di meja. Tetapi di ruang sempit itu, Sutan Maridun sedang berada di dunia lain, dunia yang tak ada hubungannya dengan pangkat, jabatan.
Ia menyandarkan punggung ke dinding, lalu meluruskan kaki di atas karpet hijau yang warnanya mulai memudar. Letih di tubuhnya terasa wajar. Yang tak wajar adalah lelah di dadanya, yang tak bisa ia jelaskan sejak beberapa hari terakhir.
Sepuluh hari lagi, anak perempuan sulungnya, Mila, akan menikah.
Sebagai ayah, peristiwa itu seharusnya menjadi momen bahagia. Tetapi bagi Sutan, kebahagiaan itu datang bersama tumpukan tanggung jawab dan kegelisahan yang tak terucap.
Baralek akan digelar di rumah mereka di kota. Tenda akan memakan setengah badan jalan. Tamu akan datang berlipat-lipat. Segala urusan harus sempurna. Izin keramaian, pengaturan lalu lintas, keamanan, parkir hingga jam-jam rawan yang tak boleh lengah.
Sebagai aparat, ia terbiasa memastikan semuanya berjalan tertib. Tetapi sebagai bagian dari keluarga besar Minangkabau, ada satu ketertiban lain yang jauh lebih rumit, yaitu ketertiban adat.
Getaran ponsel di saku celananya memecah keheningan. Sutan merogoh saku itu dengan gerakan lambat, seakan sudah tahu siapa yang menelepon.
Nama di layar, Etek Rakena.
“Assalamualaikum, Tek,” ucapnya pelan.
“Waalaikum salam.” Suara perempuan paruh baya itu terdengar tegas, nyaris tanpa jeda. “Kapan Sutan pulang kampung?”
Pertanyaan singkat itu membuat Sutan menarik napas lebih panjang dari yang ia rencanakan.
Etek Rakena adalah adik perempuan mertuanya. Dalam keluarga besar Maraya, istrinya, setiap orang punya posisi masing-masing, dan Etek Rakena adalah salah satu penjaga lidah adat yang paling keras.
“Apakah ada hal mendesak, Tek?” tanya Sutan mencoba tenang.
“Baralek Mila sudah dekat,” jawab Etek Rakena, langsung pada pokok persoalan. “Ninik mamak belum didatangi. Itu kewajiban Sutan sebagai urang sumando.”
Kata kewajiban itu jatuh pelan, tetapi berat. Sutan diam sejenak. Dua bulan terakhir terasa seperti ruang kosong yang dibiarkan terbuka tanpa penjelasan.
Ali Nasrun, abang dari mertua Sutan, Maraya, adalah ninik mamak yang paling disegani dalam keluarga. Ia mantan pejabat aparatur sipil negara, pensiun sebagai kepala bidang di pemerintahan kabupaten. Bertahun-tahun hidup dalam struktur kekuasaan membuatnya terbiasa dihormati, didengar, dan didatangi.
Dua bulan lalu, saat prosesi meminang Mila, Ali Nasrun hadir. Ia duduk di barisan depan, berbicara seperlunya, menandatangani adat sesuai perannya.
Setelah itu, seolah sebuah pintu tertutup rapat. Tak ada lagi kabar. Tak ada sapaan. Tak ada pertanyaan tentang persiapan baralek, tentang cucu adat yang akan menikah.
“Maaf, Tek,” ucap Sutan akhirnya. Suaranya lirih, tapi jujur. “Ambo merasa beliau menjauh. Sebagai mamak, seyogianya ada perhatian. Sekadar bertanya pun tidak.”
Di seberang, Etek Rakena terdiam beberapa detik. Lalu terdengar helaan napas keras. “Walau bagaimanapun, beliau tetap ninik mamak. Dalam adat, siapa pun tidak boleh melangkahi.”
Percakapan itu berakhir tanpa temu. Sutan menutup ponsel, lalu memandangi langit-langit mushala yang sederhana. Ia paham posisi masing-masing. Ia paham adat. Tetapi pemahamannya tentang hidup telah dibentuk oleh dua hal. Disiplin sebagai aparat, dan tanggung jawab sebagai ayah.
Hari-hari setelah itu berjalan cepat. Persiapan baralek memasuki tahap akhir. Tenda mulai dipasang. Pelaminan dirakit dengan ukiran emas dan kain merah menyala. Karangan bunga berdatangan satu per satu. Daftar tamu tak kunjung menyusut.
Mila, anak sulungnya, bergerak di antara kegembiraan dan kecemasan. Ia tertawa ketika mencoba baju pengantin, tetapi matanya kerap menerawang ketika sendirian.
Beberapa hari menjelang baralek, Mila dan Asnita memutuskan mendatangi rumah Ali Nasrun.
Sutan tak tahu keputusan itu diambil dengan pertimbangan apa. Yang ia tahu kemudian, perjalanan itu bukan perjalanan mudah. Hampir seratus kilometer ditempuh Mila dengan sepeda motor. Padahal secara adat, ia seharusnya mulai dipingit.
“Kalau Ayah tak sempat, biarlah Mila yang datang,” kata anak itu malam sebelumnya, suaranya bergetar. “Mila ingin mamak hadir.”
Usaha itu ternyata sia-sia.
Ali Nasrun menerima mereka dengan sopan, tetapi dingin. Ucapan selamat tak keluar. Janji hadir tak terucap.
Bagi Ali Nasrun, yang seharusnya datang mengabari adalah Sutan Maridun sendiri, laki-laki yang menjadi urang sumando dalam keluarganya.
Hari baralek pun tiba.
Pagi itu, kota terasa berbeda. Rumah Sutan berubah menjadi pusat pergerakan. Tenda besar berdiri kokoh, pelaminan berkilau di bawah cahaya lampu. Musik tradisi mengalun sejak matahari naik.
Tamu datang silih berganti. Jalanan penuh kendaraan. Karangan bunga berjejer rapat di sepanjang pagar, menyampaikan doa dan pujian.
“Pestanya seperti hajatan orang besar,” bisik seseorang.
Sutan dan Asnita menyambut dengan senyum yang dijaga. Tubuh mereka lelah, tetapi mereka berdiri tegak. Setiap jabat tangan adalah kewajiban. Setiap ucapan selamat adalah amanah.
Namun sejak pagi hingga sore, satu wajah tak juga tampak.
Ali Nasrun tidak hadir.
Asnita beberapa kali masuk ke dapur, menunduk lama, menyembunyikan mata yang memerah. Mila, di pelaminan, tetap tersenyum. Tetapi beberapa kali ia mengusap sudut matanya ketika musik dipelankan.
Sutan melihat semuanya.
Ia tidak marah. Ia tidak memberontak. Ia memilih diam. Dalam diam itu, ia beristighfar. Ia tahu, ada perang yang tak perlu dimenangkan dengan suara keras.
Menjelang Magrib, musik dihentikan. Cahaya sore mulai redup. Sutan berdiri di tepi tenda, memandang Mila dan menantunya tertawa kecil di pelaminan. Di dadanya ada ruang kosong. Tetapi ruang itu tak lagi perih.
Ia paham, adat adalah pagar kehidupan. Tetapi cinta orang tua adalah jalan lurus yang kadang harus ditempuh sendirian, tanpa sorak, tanpa saksi.
Tak semua restu hadir dalam rupa kehadiran. Ada restu yang turun diam-diam, melalui doa yang hanya didengar Allah.
Ketika azan Magrib berkumandang, Sutan menengadah. Bibirnya bergetar melafalkan syukur.
Hari itu, ia belajar bahwa keikhlasan bukanlah kekalahan, melainkan kekuatan tertinggi: menerima yang tak bisa dipaksa, tanpa kehilangan martabat dan iman. (*)
Sinopsis Singkat
Cerpen ini mengisahkan Sutan Maridun yang menghadapi kegamangan antara kewajiban adat dan tanggung jawab sebagai ayah saat menyiapkan pernikahan anak sulungnya, Mila. Sikap diam dan ketidakhadiran ninik mamak memunculkan luka batin, namun tidak menggoyahkan tekad Sutan untuk memastikan kebahagiaan anaknya. Melalui konflik sunyi ini, cerpen menegaskan bahwa adat memang dijunjung tinggi, tetapi cinta orang tua dan keikhlasan sering bekerja dalam diam, menghadirkan makna restu yang melampaui kehadiran fisik.
Biodata Penulis*
Hendri Parjiga mulai menulis cerpen, puisi, dan esai sejak duduk di bangku SMA. Karya-karyanya banyak dimuat di media lokal Sumatera Barat seperti Harian Haluan, Singgalang, Semangat, dan Mingguan Canang. Seiring waktu, pria kelahiran Padang, 5 Februari ini terus mengasah kemampuannya hingga beberapa cerpennya menembus media ternama di Ibu Kota. Hanya saja, sejak berprofesi sebagai wartawan pada awal ’90-an, kesibukan sempat menjauhkan dirinya dari dunia sastra. Kini, semangat menulis cerpen kembali menyala dalam dirinya. *




