Oleh : Siti Nur’aini, M.Hum., *)
MARAKNYA child grooming menjadi indikasi semakin leluasanya predator seksual di ruang sosial dan digital, sekaligus minimnya kesadaran orang tua terhadap perlindungan anak. Pelaku biasanya memanipulasi psikologis anak, membangun kepercayaan, mengeksploitasi, hingga akhirnya melecehkan korban.
Sayangnya, child grooming sering salah dimaknai sebagai skandal atau peristiwa sesaat. Padahal, kejahatan ini bukanlah tindakan instan, melainkan proses panjang yang melibatkan pendekatan emosional bertahap, pemberian perhatian berlebihan, serta upaya curang untuk membuat anak merasa aman dan bergantung secara emosional.
Child grooming seringkali tumbuh di tengah rapuhnya komunikasi antara orang tua dan anak.
Laporan UNICEF menunjukkan bahwa salah satu alasan utama korban memilih diam adalah karena takut disalahkan dan tidak dipercaya oleh orang dewasa di sekitarnya. Ketakutan ini berakar dari pengalaman komunikasi sehari-hari di rumah. Anak hanya dibiasakan untuk patuh, tetapi tidak dilatih untuk mengungkapkan perasaan.
Ketika anak mencoba membuka diri dan bercerita, respons orang tua kerap berupa nasihat sepihak, kemarahan, atau tudingan yang semakin memojokkan. Sehingga, anak belajar bahwa diam terasa lebih aman daripada bercerita jujur.
Akibatnya, proses grooming dapat berlansung dalam waktu yang lama tanpa terdeteksi oleh orang tua.
Anak yang tidak terbiasa didengar akhirnya mencari ruang aman di luar rumah, yang justru membuat mereka sangat rentan terhadap bahaya. Minimnya komunikasi terbuka, dan dianggap masih tabunya pembicaraan mengenai tubuh, relasi, serta batasan pribadi, membuat korban sulit memahami bahwa yang dialaminya adalah kekerasan.
Dampak mengenaskan child grooming tidak berhenti pada peristiwa kekerasan itu saja, melainkan dapat membekas dalam jangka panjang. Korban berisiko mengalami trust issue, kesulitan membangun relasi yang sehat, serta menyimpan rasa bersalah yang tidak semestinya, bahkan hingga merasa jijik terhadap dirinya sendiri.
Dalam banyak kasus, luka psikologis ini baru terungkap bertahun-tahun kemudian, saat korban telah tumbuh dewasa dan menyadari bahwa pengalaman masa kecilnya adalah bentuk kekerasan yang tidak ia pahami sepenuhnya.
Orang Tua Mendengar Tanpa Menghakimi
Komunikasi yang hangat dan setara antara anak dan orang tua dapat menjadi benteng pertahanan pertama untuk mencegah terjadinya child grooming. Anak yang terbiasa didengarkan dapat lebih berani mengungkapkan kebingungan dan ketidaknyamanan yang dirasakan.
Penting dipahami bahwa orang tua harus mampu bersikap empatik, tidak reaktif, mendengarkan tanpa menyalahkan, memahami sudut pandang anak, serta memvalidasi perasaannya. Tanpa komunikasi yang aman, pengawasan saja tidak akan cukup melindungi anak dari bahaya yang bersifat emosional.
Selain itu literasi mengenai tubuh, batasan pribadi, dan relasi yang sehat menjadi hal yang sangat urgen dan tidak bisa ditunda. Anak perlu dikenalkan sejak dini bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri dan tidak ada seorang pun yang berhak melanggar batasan.
Orang tua harus memperkenalkan pola relasi yang aman, sehingga anak mengetahui kepada siapa hendak bercerita saat merasa tidak nyaman. Dengan bahasa yang sederhana dan ruang dialog yang penuh kehangatan, anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa melindungi diri dan berbicara jujur bukanlah sebuah kesalahan.
Child grooming bukan hanya kejahatan individu, melainkan bukti dari relasi sosial yang gagal melindungi anak. Ketika komunikasi yang sehat gagal diterapkan dalam keluarga, maka anak akan kehilangan perlindungan paling dasar.
Oleh karena itu, sebelum bertanya mengapa anak enggan bercerita, barangkali yang perlu direfleksikan adalah: “apakah kita sudah benar-benar siap mendengarkan?” []
Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.*)




