Prosa : Zulfi Andini Nasution*)
Rindu yang tidak bisa kupeluk lagi,
Di Rumah Qur’an Mardhiyyah
Rindu adalah perasaan yang paling jujur.
Jika rindu dengan orang yang masih bisa kamu temui, maka temuilah.
Karena kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya rindu dengan orang yang tidak bisa kamu temui lagi.
Untuk ibu tercinta yang kini telah beristirahat di tempat yang paling tenang,
Sudah sekian lama aku belajar menjalani hari tanpa ibu di sampingku, namun rinduku tidak pernah benar-benar pergi. Ada momen yang selalu mengingatkanku padamu, pada senyuman, suara, cara ibu memanggilku, bahkan hal sederhana yang dulu sering kita lakukan sepanjang hari.
Aku tahu ibu kini berada di tempat yang jauh lebih indah, tempat yang tidak ada rasa sakit di dalamnya dan tanpa air mata. Tapi tetap saja, di sini hatiku terasa sepi, ada ruang yang hanya bisa diisi olehmu, dan ruang itu kini tinggal kenangan.
Ibu… ada banyak hal ingin aku ceritakan pada ibu, tentang hari yang kujalani, tentang rasa lelah yang menumpuk, tentang mimpi yang harus aku kejar.
Aku ingin sampaikan bahwa aku tetap berusaha menjadi orang baik seperti yang ibu ajarkan, aku ingin ibu tahu bahwa aku selalu mencoba kuat meski kadang aku jatuh dan menangis sendirian karena rindu yang tidak terlihat lagi.
Ibu… aku sering bertanya pada diri sendiri, apakah ibu bisa mendengar doaku dari tempat yang sekarang? Apakah ibu melihat aku tumbuh perlahan dengan rasa rindu ini? Apakah ibu tahu bahwa aku mencoba hidup dengan sabar dan rasa syukur seperti yang ibu ajarkan?…
Andai ibu masih ada, mungkin aku sudah mencurahkan semua ceritaku sambil jalan-jalan pagi menemanimu menikmati masa tuamu. Ibu… dunia ini terasa berbeda tanpamu, seperti kehilangan cahaya yang pernah menerangi setiap langkahku.
Kini, setiap aku merindukan ibu, aku hanya bisa menatap langit dengan mata sembab dan senyum yang tidak bisa diartikan. Aku percaya bahwa Allah telah menempatkan ibu di tempat terbaik di sisi Allah dan berkumpul dengan manusia-manusia baik yang telah Allah panggil terlebih dahulu juga, tempat yang jauh lebih indah dari dunia ini.
Aku berdoa agar kubur ibu dilapangkan, dijadikan taman dari taman-taman surga dan dijauhkan dari segala kesedihan.
Terima kasih ibu…
Untuk cinta yang tidak pernah berhenti, meski ibu sudah pergi. Untuk doa-doa yang selalu menjadi pelindungku sampai detik ini. Untuk semua pelukan, senyuman, dan kata-kata lembut yang penuh semangat yang tidak bisa digantikan.
Ibu… aku ingin bercerita tentang ayah, ayah yang selalu kita banggakan. Ayah yang tidak pernah memaksakan diri untuk menjadi sempurna, ayah yang selalu berusaha menjadi tempat kami kembali, meski sebagian dari rumah itu telah pergi bersama kepergian ibu.
Aku merasa sedih setiap kali melihat dan mendengar suara ayah, ayah yang selalu berkata “tidak apa-apa” meski ayah sendiri sedang tidak baik-baik saja. Ayah menguatkan kami tanpa pernah menunjukkan betapa beratnya hari yang ayah jalani sepanjang waktu. Terima kasih ayah.
Aku rindu ibu, rindu yang menenangkan tapi juga menyakitkan. Rindu yang membuatku bertahan, sekaligus merindukan kehadiran ibu lebih dari apapun. Dan meskipun ibu sudah tidak ada di sisiku, ibu tetap hidup dalam ingatanku, dalam setiap langkahku, dalam semangatku, dan dalam setiap doa yang aku panjatkan.
Ibu… aku tidak tahu, kapan aku bisa bertemu denganmu lagi, tetapi aku percaya bahwa allah Maha Penyayang. Suatu saat nanti ketika waktuku tiba, aku berharap bisa kembali memelukmu, tanpa jarak, tanpa batas, tanpa rasa kehilangan.
Untuk saat ini yang bisa kulakukan hanyalah menjaga warisan cintamu dan hidup sebagaimana engkau ingin aku hidup dengan kebaikan, kesabaran, dan hati yang lembut, biarlah rindu ini menjadi bukti bahwa cinta seorang anak pada ibunya tidak akan pernah mati.
Ibuku sayang…
Sebelum aku menutup surat ini, aku ingin mengatakan suatu hal yang selalu tertahan di dalam dadaku, terima kasih karena telah menjadi rumah paling nyaman yang pernah aku miliki. Meskipun sekarang aku harus belajar tanpamu, aku tetap melangkah dengan keyakinan bahwa engkau bangga melihatku dari kejauhan.
Jika suatu hari rindu ini kembali terasa berat, aku akan mengingat bahwa aku adalah anak dari seorang perempuan yang kuat, dan kekuatan itu juga kini menjadi warisan yang harus aku jaga.
Semoga setiap langkahku menjadi doa yang mengalir untukmu, dan setiap kebaikan yang aku lakukan menjadi hadiah kecil yang sampai pada hatimu di tempat yang indah sekarang.
Beristirahatlah dengan tenang ibu, aku di sini akan terus melanjutkan hidup sambil membawa namamu, bukan sebagai beban, tetapi sebagai cahaya yang menuntun jalanku.
Ibu… akan selalu aku usahakan bahwa aku benar-benar melanjutkan kuliah ini dengan sungguh-sungguh seperti yang dulu selalu ibu harapkan. Aku akan belajar dengan baik, menjaga amanahmu, dan berusaha menjadi baik membuat ayah dan keluarga kita bangga.
Hidup ini indah apabila dinikmati setiap perjalanannya.
Berjalan dengan seharusnya dan berhenti dengan semestinya. []
Mahasiswa STAI PIQ Sumatera Barat *)
