Cerpen: Bustami Narda*
AKU menyadari sejak kecil aku telah terbiasa dihina, diremehkan, dan direndahkan orang. Namun entah mengapa, kejadian kali ini benar-benar membuat dadaku sesak. Aku merasa tak bisa lagi menahan semuanya.
Aku ingin membalas.
Sambil duduk merenung di atas onggokan batu di kampungku yang lengang, diiringi suara burung elang, gagak dan kuau yang bersahutan di rimba, ingatanku kembali berbalik ke masa lalu.
Aku teringat ketika usiaku sekitar tujuh tahun.
Suatu hari aku dicaci maki oleh seorang perempuan karena ia menuduhku mencuri kalung anaknya seusiaku.
“Dasar kamu anak orang miskin! Berani-beraninya mencuri kalung anakku. Ini pasti ibumu yang menyuruh supaya bisa membeli beras!” teriak perempuan itu dengan suara keras.
Ayah gadis kecil itu ikut menimpali.
“Anak tengik! Anak pencuri!”
Aku yang merasa tidak bersalah menjawab dengan berani.
“Walaupun kalian orang kaya dan aku anak orang miskin, aku tidak pernah mencuri. Aku berani sumpah!”
Tak lama kemudian kalung itu ditemukan anaknya sendiri di bawah bantal di kamarnya. Namun tak satu pun dari mereka meminta maaf.
Ayah dan ibuku hanya diam. Kami orang miskin. Mereka orang kaya di kampung itu.
Peristiwa itu hanyalah satu dari sekian banyak hinaan yang pernah kualami. Semua kenangan pahit itu kembali melintas di kepalaku.
Hatiku berbisik:
Mengapa sejak kecil sampai setua ini aku masih juga dihina orang?
Dulu orang dewasa yang mencaci makiku.
Sekarang anak muda pula yang memakiku.
Dadaku terasa panas.
“Aku harus membalas,” gumamku geram.
“Kesabaran ada batasnya. Dan batas itu sudah terlampaui.”
Kejadian yang membuatku marah itu terjadi sekitar sebulan lalu.
Seorang pendatang datang ke kampungku. Ia tinggal beberapa malam di rumah adik perempuanku karena urusan bisnis.
Namun sifatnya membuat banyak orang tidak suka. Ia sangat sombong. Ia sering merendahkan orang kampung.
Ia membanggakan kedekatannya dengan pejabat di provinsi. Ia mengatakan adiknya teman dekat anak Kapolda.
Seolah-olah tidak ada seorang pun di kampung kami yang sebanding dengannya.
Suatu hari aku menegurnya.
“Jangan ingin jadi raja di rantau raja. Jangan ingin jadi sultan di rantau sultan,” kataku.
Walaupun kami tinggal di tengah hutan dan kampung terpencil, kami tidak mau diremehkan oleh orang yang datang mencari untung dari kekayaan alam kami.
Sejak peristiwa itu, rupanya ia menyimpan dendam.
Diam-diam ia mendekati seorang preman dari kampung sebelah. Namanya Buyung Kulam. Ia dikenal sebagai pemabuk dan pecandu narkoba. Ia mau melakukan apa saja asal diberi minuman.
Suatu hari Buyung Kulam datang kepadaku dalam keadaan mabuk.
Bau minuman keras menyengat dari mulutnya.
Belum selesai ia berbicara, kata-kata kotor sudah meluncur dari mulutnya. Ia mencaci makiku.
Keponakanku yang melihat kejadian itu hampir memukulnya.
Namun aku menahan tangannya.
Aku tahu jika ia memukul, ceritanya akan lain. Preman seperti itu bisa saja melapor ke polisi dan membuat perkara.
Adik perempuanku menegur dengan keras.
“Tak perlu dilawan, Uda. Dia cuma preman kampung. Sampah masyarakat,” katanya sambil menunjuk wajahnya.
Orang kampung mulai berdatangan mengerumuni kami. Buyung Kulam akhirnya pergi sambil terus mengumpat.
Namun kata-katanya telah menusuk hatiku.
Hampir sebulan berlalu.
Suatu malam setelah selesai melaksanakan shalat tahajud, aku melihat jam di tangan kiriku menunjukkan pukul 02.33 WIB.
Udara malam sangat dingin. Angin berhembus pelan menembus sela-sela dinding rumah kayu kami.
Aku bangkit dari sajadahku dan mendekati istriku yang baru saja tertidur setelah lebih dulu melaksanakan tahajud.
Aku membangunkannya perlahan.
“Istriku… bangun sebentar.”
Ia membuka mata dengan wajah mengantuk.
“Ada apa, Uda?”
Aku menatapnya serius.
“Aku ingin membalas Buyung Kulam.”
Aku menceritakan semua amarah yang selama ini kupendam.
“Aku ini anak Dukun Tune, menantu Dukun Hasun. Berpantang bagiku tidak membalas orang yang mencaci makiku. Anak muda itu akan aku kafani.”
Suaraku bergetar.
“Dia boleh pilih. Tujuh hari, empat belas hari atau dua puluh tujuh hari.”
Istriku terdiam beberapa saat. Ia menatap wajahku dengan lembut.
“Uda… boleh aku bicara?”
Aku mengangguk.
“Yang Uda rasakan, aku juga rasakan. Luka Uda adalah luka aku juga.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi jangan Uda balas dengan dosa.”
Aku terdiam.
“Uda ingat waktu kita di Mekkah?” katanya pelan.
Dadaku bergetar.
“Waktu Uda berdiri di depan Ka’bah dan berjanji kepada Allah bahwa Uda akan sabar menghadapi ujian apa pun.”
Air mataku mulai menetes.
Istriku menggenggam tanganku.
“Memang dalam Islam ada hukum qisas. Tetapi Allah juga memuji orang yang memaafkan.”
Ia mengutip ayat yang pernah kami pelajari di pengajian.
“Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.”
(QS. Asy-Syura: 40)
Ia menatapku dalam-dalam.
“Tidak apa-apa kita hina di mata manusia, Uda. Asalkan kita tidak hina di hadapan Allah.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
Hatiku luluh.
Aku baru saja bangun dari sajadah. Baru saja bersujud kepada Allah. Tetapi setelah itu yang memenuhi hatiku justru dendam.
Aku merasa sangat malu.
“Iya… aku ingat,” kataku lirih.
Aku ingat malam itu di depan Ka’bah, ketika air mataku mengalir deras dan aku berjanji kepada Allah akan bersabar menerima ujian hidup.
Dan malam ini… aku hampir mengkhianati janji itu.
Istriku berkata lembut,
“Rasulullah bersabda, orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat. Orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
Aku memandang istriku lama.
Perempuan sederhana yang selama ini hidup bersamaku dalam suka dan duka. Perempuan yang tidak pernah lelah mengingatkanku ketika aku hampir tergelincir.
“Terima kasih,” kataku pelan.
“Untuk apa, Uda?” tanyanya.
“Karena malam ini… kau telah menyelamatkan aku dari diriku sendiri.”
Malam kembali sunyi.
Angin dingin masih berhembus dari sela-sela dinding rumah kami.
Aku kembali mengambil sajadahku dan sujud lebih lama.
Di dalam sujud itu aku berbisik:
Ya Allah… jika Engkau tidak memberiku istri yang mengingatkan aku malam ini, mungkin aku sudah melangkah terlalu jauh.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Kadang-kadang Allah tidak menghentikan kemarahan seseorang dengan petir atau bencana.
Kadang-kadang Allah menghentikannya dengan seorang istri yang soleha.
Dan malam itu aku bersyukur sepenuh hati.
Karena Allah telah menempatkan penjaga imanku di dalam rumahku sendiri.
Alhamdulillah. []
Biodata Singkat Penulis
Bustami Narda adalah wartawan senior dan penulis cerpen, novel, serta buku-buku inspiratif. Kumpulan cerpennya antara lain Pinik Gadis Pagai. Sejumlah novelnya pernah dimuat sebagai cerita bersambung (cerbung) di Harian Haluan Padang pada tahun 1990-an, di antaranya Gadis Kampung Kecil, Berputar Haluan, dan Gadis Gunung Sangku. Novel lainnya, Desi Bidan Desa, dimuat sebagai cerbung di Tabloid Tuah Sakato yang diterbitkan Biro Humas Kantor Gubernur Sumatera Barat.
Selain karya sastra, ia juga menulis berbagai buku yang beredar secara nasional, antara lain Meraih Mimpi Jadi Pengusaha, Komunikasi Dua Arah, Kursi Kekuasaan, Menjadi Mahasiswa Kaya Raya, dan Rahasia Bisnis Orang Padang. Saat ini Bustami Narda menetap di Jakarta dan tetap aktif menulis.*
