Essay : Hikmal Alif*)
“Kita memang harus berubah,
namun perhatikan arah,
bukan kecepatan.”
–Paulo Coelho
Di pagi hari yang cerah, 6 Agustus 1945, pesawat Enola Gay menjatuhkan bom atom yang diberi nama Little Boy, memporak-porandakan isi kota Hiroshima. Dalam 10 detik, ledakan menyebar dengan cepat dan menyapu seluruh kota.
Sejarah mencatat 140.000 nyawa hilang sampai akhir Desember. Kota itu menjadi simbol kehancuran dan warga Hiroshima mengalami trauma yang mendalam. Orang-orang bertanya dan meragukan Hiroshima akan bangkit dari bencana, namun ia berhias secara perlahan dan terarah hingga menjadi kota modern. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa kehancuran bukanlah akhir, tetapi permulaan dari pertumbuhan yang bermakna.
Setiap manusia pernah merasakan kehancuran, pernah diselimuti ketakutan, dan pernah bercengkrama dengan kegagalan. Kita sering tergerak untuk berubah dan memperbaiki keadaan. Namun, sering kali kebingungan menyapa dan diakhiri dengan tanda tanya, sehingga membuat kita ragu untuk memulai.
Rainer Maria Rilke, penyair asal Jerman, mengingatkan agar hidup bersama dengan pertanyaan. Bertumbuh, menurutnya, adalah proses intim dan pelan. Bukan siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang lama bertahan.
Kita sering kali berhenti sebelum melihat hasil. Salah satu penghalang terbesar adalah serba takut—takut gagal, takut dikritik, dan takut jatuh. Sering kali kita gagal mengolah ketakutan saat bertumbuh sehingga terjebak di dalam zona nyaman yang berulang. Ketakutan datang lebih awal sebelum melangkah. Mimpi-mimpi yang diharapkan menjadi khayalan semata.
Ada satu hal yang membuat mimpi menjadi mustahil, yaitu takut akan kegagalan. Paulo Coelho, dalam karyanya The Alchemist, menjelaskan bahwa hambatan terbesar dalam bertumbuh bukanlah dari dunia luar, melainkan dari dalam diri sendiri.
Pikiran manusia berlebihan menciptakan keraguan, kecemasan, dan rasa tidak percaya diri. Bagi Coelho, pertumbuhan membutuhkan keberanian—berani melangkah dalam kecemasan.
Setiap orang memiliki kesamaan, yaitu dihampiri rasa cemas dan takut gagal. Perbedaan mendasar setiap orang adalah cara kita dalam mengolah rasa takut. Ada yang patah sebelum menuai, dan ada yang bangkit sampai selesai.
Jensen Huang, pendiri Nvidia, menyampaikan bahwa kekuatan utama manusia meraih kesuksesan bukanlah kecerdasan, melainkan kemampuan menghadapi rasa sakit ketika jatuh dan penderitaan berulang ketika gagal. Justru tatkala seseorang merasa cemas dan takut melakukan sesuatu merupakan pertanda baik bahwa kita sedang berada di jalan yang benar.
Riset psikologi klinis yang dipimpin oleh Bradley S. Peterson tahun 2017 di Los Angeles menunjukkan bahwa setiap kali seseorang melakukan hal yang ditakutinya, otak akan merespons bahwa situasi itu tidak berbahaya dan menakutkan.
Penelitian ini memberikan kita gambaran bahwa rasa cemas yang berlebihan dan takut mencoba akan membuat otak terasa sempit dan tidak bekerja optimal. Sehingga kita sering kali merasa takut memulai lagi ketika berhadapan dengan kegagalan. Kita mudah menyerah dan pasrah dengan keadaan.
Kegagalan memberikan tanda bahwa kita sedang berkembang. J.K. Rowling, sebelum sukses menulis seri Harry Potter and the Philosopher’s Stone, terlebih dahulu tertatih dalam kemiskinan hingga mengalami depresi berat sebagai seorang single mother.
Naskah Harry Potter ditolak lebih dari 12 penerbit, namun ia melawan keraguan dan tetap berusaha menulis di kafe kecil di Edinburgh. Sekarang sejarah mencatat Harry Potter menjadi salah satu seri buku yang sukses dan mengubah industri literasi dunia.
Setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda, sejarah kehidupan yang beragam, dan trauma yang tidak sama. Namun, kita memiliki tujuan yang sama, yaitu bangkit dari kegagalan yang gelap. Mungkin yang harus kita lakukan bukanlah menangisi keadaan, melainkan bagaimana mengubah sudut pandang.
Lampu listrik yang kita pakai adalah hasil dari ribuan kegagalan Thomas Alva Edison. Namun, ia tidak melihat kegagalan sebagai akhir, tetapi sebagai proses berkembang dan belajar. Dari Edison kita belajar bahwa sudut pandang sangat berpengaruh dalam berproses.
Dalam konsep pertumbuhan karya Jalaluddin Rumi di Masnavi, seseorang akan matang dan bertumbuh melalui luka dan ketakutan. Luka merupakan langkah awal dalam pertumbuhan. Keraguan dan kecemasan bukan berarti kita tersesat, melainkan celah tempat masuknya cahaya yang berbuah keberhasilan.
Kita ditempa sejadi-jadinya agar mengeluh kerinduan kepada Ilahi, agar merintih memohon kasih-Nya. Rumi menggambarkan bahwa kegagalan merupakan cara Tuhan mendidik hamba-Nya agar tidak tersesat dari kebenaran yang hakiki.
Abdul Malik Karim Amrullah, atau dikenal dengan sebutan Buya Hamka, juga memberikan kita rambu-rambu dalam menghadapi kegagalan. Bagi Buya Hamka, kehancuran tidak menghambat seseorang dalam menggapai mimpi. Karya besar lahir dari situasi yang sulit. Ketakutan menjadi ruang dalam bertumbuh. Di balik jeruji besi nan sunyi, beliau secara perlahan menyempurnakan tafsir Al-Azhar.
Ketika kita masih gagal dalam menggapai sesuatu setelah berusaha, bukan berarti usaha menjadi sia-sia. Boleh jadi kita keliru dalam membaca arah. Semangat yang meledak perlu diselaraskan dengan metode yang baik. Saya pernah berjumpa dengan seseorang yang bagus secara akademik. Ia terlihat biasa saja dan lebih santai ketika menghadapi ujian kampus.
Namun, ketika hasil ujian keluar, orang terkejut karena nilainya sangat memuaskan. Ternyata ia sangat disiplin mempersiapkan materi dari jauh hari dengan mengatur dan membagi waktu dengan baik. Dari sini kita belajar bahwa semangat harus seimbang dengan metode yang baik.
Seseorang yang bertumbuh akan berjalan di jalan tanah basah nan licin. Sering kali terjatuh, ditertawakan, dan membuat kita ingin kembali ke zona nyaman. Di situlah kita belajar bahwa impian yang besar membutuhkan tekad dan keberanian yang kuat.
Mungkin sekarang kita belum bisa merasakan manisnya keberhasilan, belum bisa memetik buah harapan. Tapi setidaknya kita tahu bahwa kita selangkah lebih dekat menuju impian.
Di ruang tumbuh nan penuh keraguan, manusia belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Namun setiap usaha adalah celah yang terbuka hingga akhirnya perlahan cahaya masuk menutupi luka lebih dari yang kita minta.
Ada usaha yang harus dikerjakan dengan tenang dan perlahan, ada pula arah yang harus diperhatikan. Kegagalan bukanlah segalanya, tetapi permulaan untuk hasil yang bermakna. []
Kairo, 6 Maret 2026
Daftar Pustaka
Britt, R.R., 2017. Exposure to Stimuli for Overcoming Phobia. ScienceDaily.
Coelho, P., 2023. 7 Paulo Coelho Quotes Filled with Deep Life Wisdom. Times of India.
EF Adults Blog, t.t. 4 Cerita Sukses dari Berbagai Tokoh Dunia. EF Education First.
Encyclopaedia Britannica & Time Magazine, 2017. J.K. Rowling’s Original Harry Potter Pitch.
Government of Hiroshima Prefecture, t.t. Hiroshima for Global Peace.
Rilke, R.M., 1934. Letters to a Young Poet. New York: W. W. Norton & Company.
Rumi, J., 2004. The Masnavi. Diterjemahkan oleh R.A. Nicholson. EF Education First.
Hikmal Alif lahir di Sungai Tarab, 14 Januari 2024. Saat ini menimba ilmu di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar. Membaca, berlari, bersepeda, traveling, dan menulis adalah kegembiraan-kegembiraan yang membuat hidupnya lebih hidup. Tulisannya dimuat di beberapa laman daring. Lebih dekat dengannya di Instagram @hikmal.14 *)
