Pendidikan sebagai Proses Humanisasi, Bukan Sekadar Transfer Pengetahuan

Oleh : Randa Gusmanedi*)

PENDIDIKAN pada hakikatnya merupakan proses pemanusiaan manusia (humanization process), bukan sekadar aktivitas teknis dalam mentransfer pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik.

Dalam perspektif pedagogik modern, pendidikan dipahami sebagai upaya sadar dan terencana untuk mengembangkan seluruh potensi manusia, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor, secara utuh dan berkelanjutan. (Education is not only about knowing, but about becoming).

Reduksi makna pendidikan sebagai proses knowledge transfer semata berimplikasi pada lahirnya praktik pembelajaran yang bersifat mekanistik dan berorientasi pada capaian akademik jangka pendek. Peserta didik diposisikan sebagai objek pasif yang menerima informasi, sementara guru berperan sebagai pusat otoritas pengetahuan.

Pola ini berpotensi mengabaikan dimensi kemanusiaan peserta didik, seperti nilai, sikap, empati, dan kesadaran moral. (Learning without values risks producing intellectually capable but morally fragile individuals).

Sebaliknya, pendidikan yang berorientasi pada humanisasi menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Guru berfungsi sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus teladan yang membantu peserta didik menemukan makna dalam pembelajaran.

Dalam konteks ini, interaksi edukatif tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kepribadian, kemandirian berpikir, dan tanggung jawab sosial. (Human-centered education emphasizes meaning, dignity, and personal growth).

Konsep pendidikan sebagai proses humanisasi sejalan dengan gagasan character education dan holistic learning, yang menekankan keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembentukan nilai-nilai kemanusiaan.

Pendidikan ideal adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial, integritas moral, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. (Knowledge gains its true value when it is guided by ethics and compassion).

Dalam konteks pendidikan Indonesia, paradigma humanisasi sejatinya telah tertuang dalam tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, cakap, kreatif, dan bertanggung jawab.

Namun demikian, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dominasi budaya evaluasi berbasis angka dan capaian kognitif semata. (The challenge lies not in the concept, but in its practical realization).

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk mengembalikan ruh pendidikan sebagai proses pemanusiaan. Guru, sekolah, dan sistem pendidikan secara keseluruhan perlu mereorientasikan praktik pembelajaran agar lebih berfokus pada pengembangan manusia seutuhnya.

Dengan demikian, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi yang terdidik secara intelektual, tetapi juga berkarakter, beradab, dan bermartabat. (True education humanizes, not mechanizes).

Penulis adalah Humas SD IT Darul Azzam Rao, Motivator, dan Penceramah Muda yang aktif dalam kegiatan pendidikan dan dakwah.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *