“TOMOKO — Langit yang Menyimpan Rindu”

Karya: Nurul Jannah, Puji Setya Wilujeng, Shintalya Azis

Langit Menyimpan apa yang Tak Sanggup Diucapkan Hati

Oleh : Nurul Jannah*)

Sejak halaman pembuka, buku ini sudah memberi peringatan yang lembut namun dalam: buku ini tidak menawarkan jawaban, ia hanya menemani

Antologi ini bukan kumpulan tulisan. Ia adalah rekaman denyut jantung manusia ketika mencintai, kehilangan, bertahan, dan belajar melepaskan.

Tiga Penulis, Satu Akar Kejujuran Rasa

Nurul, Puji, dan Shintalya menulis dengan suara berbeda, tetapi dari akar yang sama: kejujuran yang telanjang. Tidak ada yang dibuat-buat. Tidak ada kalimat yang terasa artifisial. Semua mengalir seperti hujan yang pelan, tapi diam-diam membasahi dada pembaca.

Di bagian “Sekapur Sirih”, pembaca sudah dipersiapkan bahwa buku ini lahir dari rindu yang dipendam, cinta yang tak menemukan jalannya pulang, luka yang memilih bertahan dalam diam, dan doa yang tetap menyala meski harapan hampir padam

Dan benar. Ketika masuk ke bagian tulisan Nurul Jannah, pembaca seperti dibawa masuk ke film batin yang sangat hidup.

Nurul Jannah: Rindu yang Berwujud Hujan, Langit, dan Kota

Tulisan Nurul bukan hanya bercerita. Ia menghidupkan adegan.

Pada kisah Hujan yang Tak Jadi Pergi, pembaca tidak hanya membaca pertemuan dua manusia yang dipisahkan waktu. Pembaca ikut duduk di bangku kafe itu, ikut melihat tetes hujan di kaca, ikut merasakan detik ketika cinta harus dilepaskan bukan karena hilang, tapi karena terlalu suci untuk dipertahankan.

Di Langit yang Tak Lagi Sama dan Di Antara Dua Langit, konflik batin seorang perempuan digambarkan dengan kejujuran yang jarang ditemukan dalam karya fiksi: mencintai masa lalu, tetapi harus setia pada masa kini. Ini bukan kisah klise. Ini adalah pergulatan jiwa yang sangat manusiawi.

Lalu pembaca dibawa lebih dalam lagi ke Hiroshima. Di Saijou-Hiroshima: Kota yang Menyimpan Selaksa Rindu. Di sini, rindu bukan lagi sekadar romantika cinta, tetapi rindu seorang ibu kepada anaknya yang ditinggalkan demi ilmu. Bagian ini menggetarkan. Sangat menggetarkan. Karena rindu di sini bukan imajinasi, tetapi jejak nyata kehidupan

Pembaca akan sadar: rindu di buku ini bukan satu wajah. Ia banyak rupa. Rindu kekasih. Rindu anak. Rindu masa lalu. Rindu diri sendiri.

Puji Setya Wilujeng: Kesabaran yang Sunyi, Luka yang Didekap dengan Iman

Jika tulisan Nurul membawa pembaca berjalan di lorong rindu yang emosional, maka tulisan Puji mengajak pembaca duduk diam di ruang sunyi hati.

Puji tidak menulis dengan gejolak. Ia menulis dengan ketenangan yang pelan, tetapi justru menusuk. Tulisannya terasa seperti doa yang dipanjatkan dalam diam, seperti air mata yang tidak jatuh, tetapi terasa membasahi dada.

Di tangan Puji, rindu tidak lagi berwajah romantika, tetapi berubah menjadi kesabaran yang religius. Ia menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak melawan takdir, tetapi merangkulnya dengan iman. Pembaca diajak melihat bahwa kehilangan bukan selalu tentang meratap, tetapi tentang bagaimana seseorang tetap berdiri dengan keikhlasan yang nyaris tak terdengar suaranya.

Puji menulis tentang cinta yang diserahkan kepada Allah. Tentang luka yang tidak diumbar, tetapi disimpan dalam sujud. Tentang perempuan yang memilih kuat bukan karena tidak sakit, tetapi karena ia tahu kepada siapa harus bersandar.

Membaca tulisan Puji seperti memasuki ruang tasbih batin. Pelan. Hening. Namun efeknya lama tinggal di hati.

Shintalya Azis: Rindu yang Berwajah Kemanusiaan, Cinta yang Membumi

Berbeda lagi dengan Shintalya. Ia membawa rindu keluar dari ruang pribadi, masuk ke ruang sosial, keluarga, dan kemanusiaan.

Di tangan Shintalya, rindu tidak hanya tentang seseorang yang jauh, tetapi tentang kepedulian yang tumbuh karena cinta kepada sesama. Ia menulis dengan kehangatan yang membumi. Bahasa yang sederhana, tetapi menyentuh karena sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Shintalya mengajak pembaca menyadari bahwa rindu bisa hadir dalam bentuk: perhatian seorang anak kepada orang tua, kepedulian kepada sahabat, pengorbanan yang tidak pernah dihitung.

Tulisan-tulisannya menghadirkan cinta dalam wujud yang lebih luas. Bukan hanya dua hati semata, tetapi banyak hati. Bukan hanya kisah pribadi, tetapi kisah kemanusiaan.

Membaca tulisan Shintalya membuat pembaca merasa hangat. Seperti dipeluk. Seperti diingatkan bahwa dunia masih memiliki banyak kebaikan yang sering tidak kita sadari.

Tiga Warna, Satu Rasa

Nurul menghadirkan rindu yang emosional dan puitis. Puji menghadirkan rindu yang sabar dan spiritual. Shintalya menghadirkan rindu yang hangat dan manusiawi.

Tiga penulis. Tiga gaya. Tiga kedalaman rasa.

Namun ketika disatukan dalam Tomoko: Langit yang Menyimpan Rindu, semuanya menjelma menjadi satu pengalaman batin yang utuh.

Buku ini tidak hanya menyentuh satu sisi hati pembaca. Ia menyentuh emosi, iman, dan kemanusiaan sekaligus.

Dan di situlah kekuatan sejatinya.

Kenapa Buku Ini Berbeda?

Karena buku ini tidak berteriak. Ia berbisik. Dan justru bisikan itulah yang menghantam paling dalam.

Banyak buku cinta membuat pembaca tersenyum. Tomoko membuat pembaca diam. Lama.

Banyak buku rindu membuat pembaca terharu. Tomoko membuat pembaca mengenang hidupnya sendiri.

Banyak buku kehilangan menawarkan pelajaran.
Tomoko hanya menemani, dan itu jauh lebih kuat.

Setelah membaca buku ini, pembaca akan: teringat seseorang yang pernah dicintai, teringat seseorang yang pernah hilang, teringat doa-doa yang dulu pernah dipanjatkan, dan terdiam cukup lama, menatap langit.

Karena seperti judulnya, buku ini membuat pembaca sadar: ada rindu yang memang hanya bisa disimpan langit.

Tomoko: Langit yang Menyimpan Rindu bukan buku yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Ia akan kembali memanggil pembacanya di malam hari, di saat hujan turun, di saat kenangan tiba-tiba muncul tanpa diundang.

Buku ini adalah teman bagi: yang pernah kehilangan, yang pernah mencintai terlalu dalam, yang pernah harus melepaskan tanpa ingin.

Buku ini sebaiknya dimiliki. Bukan untuk dibaca cepat, tapi untuk disimpan lama.❤️❤‍🔥🌹

Bogor, 26 Januari 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *