SERANG tak sekadar menjadi tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Di kota inilah, di antara ruang-ruang diskusi dan sapa antarsesama wartawan, denyut refleksi pers olahraga nasional terasa lebih pelan, namun dalam.
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI yang digelar Sabtu (7/2/2026) menjadi semacam jeda, ruang untuk berhenti sejenak dari riuh kompetisi, notifikasi media sosial, dan tuntutan kecepatan, lalu bertanya pada diri sendiri. Masihkah pers olahraga berjalan dengan nurani?
Di tengah era digital yang bergerak nyaris tanpa jeda, profesionalisme dan integritas kembali ditegaskan sebagai jangkar utama. Bukan jargon. Bukan pula slogan seremonial. Melainkan nilai yang harus terus diuji, terutama ketika klik, viralitas, dan algoritma sering kali lebih menggoda daripada verifikasi.
Rakernas SIWO PWI 2026 pun tampil bukan sekadar agenda administratif. Ia menjelma ruang berbagi kegelisahan dan harapan, tempat wartawan olahraga dari berbagai daerah menakar ulang peran mereka dalam ekosistem olahraga nasional yang kian kompleks.
Di ruang inilah relasi pers olahraga dan KONI dibicarakan dengan nada yang lebih dewasa. Bukan relasi kuasa, bukan hubungan transaksional, melainkan kemitraan yang saling mengingatkan batas.
Wakil Ketua Umum VI KONI Sumatera Barat, Revdi Iwan Syahputra, memandang forum ini sebagai momentum penting. Menurutnya, pers olahraga memikul mandat yang jauh melampaui sekadar menyampaikan skor dan klasemen.
“Pers olahraga adalah ruang edukasi publik dan pengawal sportivitas. Di sana ada tanggung jawab moral untuk ikut membangun ekosistem olahraga yang sehat, berprestasi, dan berintegritas,” ujarnya.
Revdi mengakui, tidak selalu nyaman berhadapan dengan pemberitaan kritis. Namun justru di situlah pers berfungsi. Kritik yang jujur dan berbasis fakta menjadi cermin bagi organisasi olahraga untuk terus berbenah.
“Sinergi tidak berarti meniadakan kritik. Kritik yang sehat justru membantu pembinaan berjalan lebih baik,” katanya.
Pandangan itu menemukan relevansinya di tengah banjir informasi digital.
Kecepatan menjadi mata uang baru, tetapi akurasi dan keberimbangan kerap terancam.
“Adaptif terhadap disrupsi media itu penting. Tapi etika, independensi, dan keberanian menyuarakan kebenaran tak boleh luntur,” tegas Revdi.
Nada serupa disampaikan Kepala Bidang Humas KONI Sumatera Barat, Hendri Parjiga. Sebagai wartawan olahraga yang lama berkecimpung di lapangan, ia memahami betul betapa besar pengaruh pemberitaan terhadap cara publik memandang olahraga daerah.
“Pers adalah mitra strategis KONI dalam membangun kepercayaan publik. Masyarakat perlu tahu bahwa prestasi atlet lahir dari proses panjang, Latihan, kegagalan, disiplin, dan pengorbanan,” ujar wartawan olahraga senior itu.
Menurut Hendri, sinergi ideal terbangun lewat keterbukaan informasi dan saling menghormati peran. KONI dituntut transparan, pers dituntut objektif.
“KONI tidak boleh alergi kritik, dan pers tidak boleh kehilangan jarak. Di sanalah keseimbangan dijaga,” katanya.
Bagi Hendri, HPN dan Rakernas SIWO seharusnya menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia adalah momentum untuk memperkuat kepercayaan—bahwa pers olahraga tetap berdiri di sisi publik, tanpa memutus dialog dengan pemangku kepentingan olahraga.
Dari podium Rakernas, Ketua Umum PWI, Akhmad Munir, menguatkan pesan itu. Di hadapan perwakilan SIWO se-Indonesia, ia mengingatkan bahwa wartawan olahraga ikut membentuk watak olahraga nasional.
“Kecepatan itu penting, tapi kebenaran jauh lebih penting. Jangan sampai kalah cepat, tapi juga jangan mengorbankan verifikasi,” ujarnya.
Menurut Akhmad Munir, lewat tulisan yang jernih dan berimbang, wartawan olahraga ikut menanamkan nilai sportivitas, nasionalisme, dan semangat berprestasi, nilai yang tak selalu terlihat di papan skor.
Rakernas SIWO PWI 2026 yang berlangsung di Hotel Le Dian, Kota Serang, diisi dengan evaluasi program, penyusunan strategi, serta pembahasan agenda olahraga nasional dan internasional sepanjang 2026. Diskusi berlangsung cair, kadang serius, kadang diselingi tawa. Sebuah potret kebersamaan yang langka di tengah dunia yang serba cepat.
Akhmad Munir pun mengingatkan, sinergi dengan KONI, pemerintah daerah, dan cabang olahraga harus terus diperkuat, namun tetap dengan jarak yang sehat.
“Sinergi itu perlu, tapi independensi adalah harga mati. PWI harus selalu berdiri di atas kepentingan publik,” pungkasnya.
Dari Serang, pesan itu menggema tanpa perlu teriak, di tengah perubahan zaman, pers olahraga dituntut tetap setia pada nuraninya, profesional dalam kerja, berintegritas dalam sikap, dan kritis demi kemajuan olahraga Indonesia. (*)




